LAYAK DALAM KEKUDUSAN
DAN KESETIAAN
Kel 32:1-14; Fil 4:1-9; Mat 22:1-14
Sendiri di tengah kerumunan orang banyak sering menciptakan kegamangan, ke-takutan bahkan akhirnya bermuara pada ketidaktaatan pada apa yang sebelumnya diyakini.
Kudus artinya disendirikan; diasingkan; dikhususkan untuk Tuhan. Ternyata dikuduskan (disendirikan oleh) Tuhan pun menimbulkan hal-hal seperti yang di atas. Keluaran 32 : 1 - 14 adalah sebuah kisah yang men-ceritakan bagaimana Israel tidak tahan dengan kesendirian mereka di tengah bangsa-bangsa lain. Ritual ibadah yang berbeda, Allah yang berbeda, teologi yang berbeda dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka membuat mereka gamang dan lalu membuat mereka tidak taat lagi kepada Allah yang sudah menolong mereka itu. Sehingga mereka mendesak Harun untuk membuatkan bagi mereka allah yang bisa berjalan di depan mereka. Harun, yang dikerumuni (dikepung) orang Israel dalam jumlah yang besar itu pun tidak tahan dengan kesendirian. Harun menyerah untuk mengikuti apa yang diinginkan oleh orang banyak itu. Kesendirian membuatnya merasa teralienasi, membuatnya merasa bersalah. Namun yang menarik kemudian adalah reaksi dari Tuhan.
Tuhan yang ditinggalkan sendirian itu tidak menyerahkan kebenaran ke tangan orang banyak. Di sini kita belajar bahwa kebenaran itu tidak tergantung pada banyaknya orang yang menganut/mengikuti-nya. Tetapi kebenaran itu bersumber kepada Allah saja. Sepanjang dia berjalan di jalan Allah, maka ia berjalan di jalan kebenaran meskipun seorang diri (contoh Musa).
Umat Allah memang sengaja dikuduskan oleh Allah. Untuk apa? Tuhan Yesus mengatakan bahwa hal Kerajaan Surga itu seumpama Perjamuan Kawin. Dan Allah sebagai Raja yang menyelenggarakan perjamuan memilih orang-orang (umat) untuk datang ke perjamuan (ke Kerajaan Surga) untuk menikmati kebahagiaan, persekutuan dan cinta kasih. Tetapi orang banyak yang diundang itu (umat) merasa bahwa apa yang disediakan oleh Allah tidaklah cukup dan tidaklah menjawab apa yang mereka inginkan. Kebahagiaan yang diberikan Allah bukanlah kebahagiaan yang mereka cari. Sebab apa yang menjadi sumber bahagia mereka kini bukan lagi persekutuan dan cinta kasih melainkan jaminan kecukupan materi dan karir (ada yang menyibukan diri dengan ladangnya, ada yang menyibukan diri dengan mengurus usahanya) oleh karena itulah maka tidak heran jika apa yang hendak diberikan Tuhan itu tidaklah penting bagi mereka.
Maka Raja membuat keputusan lain. Ia mengundang orang lain, mereka yang dipersimpangan-persimpangan jalan. Mereka yang benar maupun yang jahat diundang dalam perjamuan. Undangan Raja diresponi. Namun ada satu orang yang datang ke perjamuan dengan tidak mengenakan pakaian pesta, maka orang itupun ditolak Raja. Mengapa? Itu adalah sebuah metafora yang menggambarkan bahwa tidaklah cukup kita hadir di hadapan Allah hanya secara fisik saja, tetapi tidak mau berganti hati dan tabiat. Orang yang mengatakan percaya kepada Allah tetapi tidak mau mengganti kebiasaan lamanya yang jahat dengan kebiasaan yang baru, seperti yang Allah minta, sama dengan seorang yang munfik.
Kita adalah orang yang oleh Allah dengan sengaja disendirikan, diasingkan agar kita dapat hidup dalam kebenaran dan ketaatan kepada Allah. Tidak perlu gamang, tidak perlu takut jika kita berbeda dengan sesama sepanjang kita sama dengan Allah. Mari kita kuduskan hidup kita bagi Allah. AMIN.
(Disarikan dari kotbah Pdt. Evelyne Yudiarti, tanggal 12 Oktober 2008, oleh EY)
Friday, October 17, 2008
RINGKASAN KHOTBAH, 12 Oktober 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Followers
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Kami Kerjalayan Kesehatan Anda
No comments:
Post a Comment