Showing posts with label Ringkasan Khotbah. Show all posts
Showing posts with label Ringkasan Khotbah. Show all posts

Saturday, May 12, 2018

Ringkasan Khotbah 13 Mei 2018


kamu adalah sahabat-ku
yohanes 15:9-17


Relasi Tuhan Yesus dengan para murid adalah relasi Hirarki. Tuhan Yesus pada tempat dihormati, dilayani, didengar dan dipatuhi. Sedangkan para murid ada pada posisi menghormati, melayani, mendengar dan mematuhi.
Pada bacaan Injil Minggu ini memperlihatkan bagaimana Tuhan mengubah relasi hirarkis tersebut menjadi relasi egaliter, relasi yang menempatkan pihak para murid sebagai yang setara, sama istimewa dan berharganya dengan diri-Nya.
Tentu ini beresiko besar bagi pihak Tuhan. Ia harus merendahkan diri-Nya, bersedia menerima kelemahan pihak sahabat-Nya, apa adanya, dengan segala kerapuhan dan kekuatannya. Tuhan juga harus bersedia membuka Diri, membeberkan semua rahasia-Nya dan bahkan rahasia Bapa-Nya dan berhadapan dengan resiko besar, dikhianati.
Relasi egaliter seperti itu juga membawa resiko bagi para murid, yaitu bahwa mereka harus berjuang menghidupkan nilai-nilai yang sama dengan Tuan-nya, agar persahabatan tersebut bisa berjalan.
Dan resiko lain, yaitu bahwa para murid harus membuktikan diri bahwa mereka memang sahabat yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh Tuhan, Sahabat-nya. Serta kepada mereka diberikan tuntutan untuk berlaku seperti Sahabat itu memperlakukan mereka. 
Kita adalah Sahabat Kristus? 

    
                                      (disarikan dari khotbah Pdt. Evelyne Yudiarti, 06 Mei 2018 oleh ey)

Saturday, February 24, 2018

Ringkasan Khotbah 18 Feb 2018



PEMBAHARUAN HIDUP
Markus 1:15
           
Masa Prapaska diawali dengan Rabu Abu; melalui Kebaktian Rabu Abu, umat diharapkan untuk membuka diri dalam penyesalan akan dosa.  Perayaan Rabu Abu bukan sekedar acara yang diselenggarakan hanya sebagai pelengkap dari masa Prapaska. Kehidupan manusia telah rusak oleh dosa. Oleh sebab itu, perlu ada perbaikan supaya yang rusak dapat diperbaiki dan yang berantakan dirapihkan. Masa Prapaska, membawa kita untuk mengingat ulang jejak langkah Tuhan dan Juruselamat kita Kristus Yesus yang menderita demi kasih-Nya kepada manusia.

Kristus Yesus Tuhan yang hadir dalam kehidupan manusia supaya mengalami “Pembaharuan Hidup”. Kehadiran Kristus Yesus Tuhan adalah wujud dari kehadiran Kerajaan Allah. Seluruh kata atau ajaran-Nya serta tindakan-Nya adalah bukti “Tatanan Pemerintahan Allah” dalam kehidupan manusia.
Manusia bisa memahami dan mengikuti “Tatanan” tersebut apabila telah mengalami “Pembaharuan Hidup”, yaitu :

1. Bertobat/Pertobatan = “Metanoia” yang berarti  “perubahan batin”. Bukan sekedar mengatakan “ya, saya percaya”, tetapi dari hati yang terdalam menyesali dosa dan menanggalkannya. Membuang dosa dan tidak lagi hidup dalam dosa.
2.  Percaya kepada DIA, Tuhan yang menyatakan Kebenaran yang hakiki, Tuhan yang adalah sumber pengharapan dan kasih, yang selalu menepati “janji” penyertaan-Nya dan menganugerahkan keselamatan/Hidup Kekal.
3. Bagi setiap orang yang telah mengalami “Pembaharuan Hidup”, maka akan memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap pergumulan dan tantangan hidup.  Perhatikan cerita Nuh; Melaksanakan perintah Tuhan untuk membuat bahtera, sekali pun orang–orang di sekelilingnya menertawakan dan menganggap aneh. Nuh tetap melaksanakan perintah Tuhan, dan selamat dari bencana air bah. 
4.  Kematian dan Kebangkitan Kristus adalah bukti kasih Allah yang membebaskan orang dari dosa. Mengakui diri sebagai orang/umat tertebus adalah hidup dalam kerelaan untuk mengabdi kepada Kristus Yesus Tuhan dengan kerendahan hati mengaku bahwa Kristus Tuhan adalah Raja.

Dengan demikian, orang yang telah mengalami ”Pembaharuan Hidup” adalah orang yang dipenuhi kasih Tuhan dan kerelaan (bukan merasa harus, terpaksa dan dipaksa), untuk melayani dalam ketaatan dan kesungguhan, apa pun yang menjadi resikonya.

                 (disarikan dari khotbah Pdt. Nur Wahyuni K.,18 Februari 2018 oleh nw)


Saturday, December 9, 2017

Ringkasan Khotbah 03 Desember 2017

TUNAS HARAPAN
Markus 13: 24 - 37

Pada Minggu 3 Desember 2017, kita memasuki Minggu Adven 1. Apa yang hendak disampaikan kepada kita pada Minggu Adven 1 ini? Pada minggu Adven 1 ini kita diajak untuk mempersiapkan diri kedatangan Tuhan kedua kali dengan sikap yang benar di hadapan Tuhan.
Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang untuk yang kedua kalinya. Oleh sebab itu, Tuhan Yesus meminta kita untuk mengembangkan sikap berjaga-jaga agar pada saat kedatanganNya yang kedua kali, kita didapatiNya sebagai hamba yang taat, setia, dan tidak bercacat cela di hadapan Tuhan.
Apa yang harus kita lakukan dalam berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan?
1.   Mengembangkan sikap hidup dalam pertobatan.
Mengembangkan sikap hidup dalam pertobatan berarti kita menyadari bahwa kita tidak sempurna. Oleh sebab itu, kita selalu melakukan instropeksi diri agar arah kehidupan kita tetap berada dalam jalan yang dikehendaki Tuhan.

2.   Terus melakukan pembaruan diri.
Mereka yang hidup dalam sikap pertobatan akan terus melakukan pembaruan diri agar semakin sempurna atau berkenan di hadapan Tuhan. Ketika kita tidak lagi dalam proses pertumbuhan iman maka dimulailah proses pembusukan sikap dan tindakan dalam diri kita.
3.   Mengembangkan sikap hidup yang positif.
Yesus dalam Markus memang mengatakan bahwa sebelum kedatanganNya akan diawali dengan berbagai macam tanda. Tetapi sebenarnya fokusnya bukan pada tanda-tanda itu sendiri, melainkan pada apa yang terjadi setelah tanda- tanda itu yaitu, kedatangan Yesus yang mengubah atau membarui keadaan. Yesus menjadi harapan bagi terciptanya suasana baru yang lebih baik dari sebelumnya. Yesus menjadi tunas harapan bagi masa depan umat yang lebih baik.
Oleh sebab itu, salah satu sikap berjaga-jaga yang benar ialah berpikir positif dalam hidup. Fokus pada solusi bukan pada masalah. Yakin bahwa Tuhan selalu beserta dan menolong kita mengatasi masalah yang kita hadapi.
4. Menggunakan waktu hidup yang Tuhan berikan dengan melaksanakan hidup yang bertanggungjawab.
Hidup kita itu singkat dan terbatas. Oleh karena singkat dan terbatas maka waktu hidup yang Tuhan berikan itu sangat penting dan berharga.
Yesus meminta kita untuk mengisi hidup yang terbatas ini dengan melakukan tanggungjawab kehidupan kita dengan baik dan tepat sehingga hidup kita bermanfaat, jadi berkat, dan saluran berkat Tuhan bagi sesama melalui pekerjaan, karir, bisnis, usaha kita, dan aktifitas kegiatan lainnya yang kita lakukan setiap harinya.
Apabila kita semua dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus keduakalinya dapat melaksanakan sikap berjaga-jaga yang seperti ini, maka hari Tuhan di mana Tuhan datang adalah sebuah hari yang menggembirakan. Hari yang memberikan harapan dan sukacita bagi kita. Tuhan memberkati kita semua.


(disarikan dari khotbah Pdt. Jotje Hanri Karuh, 3 Desember 2017 oleh jhk)

Sunday, October 29, 2017

Ringkasan Khotbah - 22 Oktober 2017

Berkarya di Tengah Dunia
Matius 22:15-22

Faithful Presence adalah gaya kehadiran gereja di tengah dunia yang direkomendasikan oleh James Davison Hunter dalam bukunya yang berjudul To Change The World. Bahwa gereja seharusnya menjadi pihak yang setia hadir mendapingi dunia dalam segala kelemahan dan kelebihannya. Bekerja bersama meneruskan karya ciptaan Allah, bukan menarik diri atau memusuhi realita dunia yang ada. Gereja dapat berkarya di tengah dunia dengan anugrah yang Allah berikan. Dalam bacaan Injil Matius hari ini kita melihat bagaimana sikap Yesus yang tidak antipati dengan realita dunia yang kadang membuat dilema.
Kebencian orang Yahudi yang begitu besar terhadap Yesus memaksa mereka bekerja sama dengan kelompok Herodian yang berseberangan dengan mereka. Hal itu mereka lakukan demi menjatuhkan Yesus dan menangkap-Nya. Mereka datang dengan pertanyaan tentang membayar pajak yang saat itu membebani umat Yahudi dan membuat dilema secara spiritual. “Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Sebab membayar pajak kepada kaisar identik dengan mendukung kekuasaan kaisar yang sudah mengganggap dirinya seperti seorang dewa. Hal itu bertentangan dengan pandangan politik teokratis orang Yahudi, bahwa Allah adalah pemimpin tertinggi bangsa Israel. Tetapi di hadapan Yesus ada pula orang-orang Herodian, antek-anteknya Herodes yang siap menangkap-Nya jika Yesus mengajarkan untuk tidak membayarkan pajak kepada Kaisar. Yesus mengetahui niat mereka dibalik pertanyaan yang diajukan kepada-Nya. Oleh sebab itu Yesus memberikan jawaban yang bijaksana dan dapat diterima oleh orang-orang Farisi dan Herodian, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Yesus tidak menolak realita dunia tentang membayar pajak kepada Kaisar, tetapi Yesus juga tidak mengabaikan aspek spiritual tentang membayarkan pajak dan persambahan ke Bait Allah. Ketika kita hidup di dunia maka kita akan terikat dengan peraturan dunia, dalam hal ini Tuhan Yesus mengajarkan ketaatan dalam menjalankan peraturan dunia yang ada. Ketaatan terhadap peraturan dunia menjadi sebuah karya nyata bagi dunia. Ketaatan itu tidak disamakan dengan ketaatan kepada Allah, tetapi disejajarkan. Sebab setiap pemerintahan yang ada itu berasal dari Allah (Roma 13:1). Dalam kisah sebelumnya, yakni Matius 17:27 Yesus juga membayarkan pajak, Yesus memberikan teladan ketaatan itu.
Tahukah Saudara, bahwa tanah dimana gedung gereja GKI Kedoya ini berdiri adalah tanah milik Pemda DKI Jakarta dan GKI Kedoya wajib membayar pajak per lima tahun untuk ijin penggunaan bangunan? Dalam hal ini pemerintah menjadi partner bagi GKI Kedoya yang saling membantu. Pajak yang dibayarkan ke Pemda adalah untuk kepentingan umum bagi masyarakat DKI Jakarta. Yesus tidak antipati kepada dunia, bahkan kehadiran-Nya di dunia pun karena kasih-Nya yang besar. Gereja juga diundang untuk hadir mendampingi dunia dengan penuh kasih.

(disarikan dari khotbah Pnt. Adi Netto Kristanto ,22 Oktober 2017 oleh ank)



Saturday, October 21, 2017

Ringkasan Khotbah - 15 Oct 2017

MENYAMBUT UNDANGAN TUHAN DENGAN SUKACITA
Matius 22:1-14
Tahun 2017 ini gereja-gereja Protestan merayakan 500 tahun Reformasi Gereja. Peristiwa yang diawali dengan Penempelan 95 pernyataan teologis kritis terhadap kondisi spiritualitas gereja yang semakin lebih duniawi dalam semua hal oleh Martin Luther pada tanggal 31 Oktober 1517 di pintu gereja puri Wittenberg. Momen itu datang ketika Johann Tetzel menjadi utusan Roma untuk mencari dana secara inkonvensional untuk pembangunan gedung di Roma dengan menjual Surat Indulgensia – Surat Pengampunan Dosa baik bagi yang masih hidup mau pun yang sudah mati lebih dulu – “ketika koin berdenting di kotak derma, satu jiwa melompat ke sorga dari api penyucian!” Ini berlaku baik bagi yang  masih hidup mau pun yang sudah mati. Para penguasa gereja memanipuli semangat umat untuk memperoleh kepastian keselamatan (jiwa terutama) dan masuk ke sorga sebegitu rupa untuk memperoleh uang. Tentu di luar hal yang semacam ini juga ada jenis yang lain tetapi dengan tujuan yang sama yakni bahwa menjadi biarawan sebagai tahapan yang paling tinggi yang bisa menjamin sorga dan terberkati di dunia. Martin Luther menjalaninya, ia menjadi Imam dari salah satu ordo yang paling keras – Ordo Eremit Agustin. Ia bukan sosok pribadi yang biasa-biasa saja tetapi punya bekal yang lebih dari cukup untuk juga menjadi pemimpin gereja yang luar biasa. Kepastian itu akhirnya dia peroleh ketika dia bergumul dengan surat Roma yang dilandasi oleh pemahaman iman bahwa manusia selamat hanya karena anugerah Tuhan saja (sola gratia)  dan mengimaninya (sola fide) yang kemudian menjadi semboyan utama gereja reformasi.

Bagi Marthin Luther, menggunakan istilah yang dipakai menjadi tema hari ini, kesadaran bahwa kita sudah selamat karena ‘gratia’ dan ‘fide’ itu adalah ‘perjamuan yang raja’ di mana kita diundang (dipanggil?) menjadi orang yang terhormat bagi Sang Raja. Hanya berbeda dengan ‘para undangan dalam perumpamaan Yesus’ yang dengan berbagai alasan yang egois sifatnya mengabaikan bahkan menolak undangan ini dengan sengaja, Luther menerimanya dengan sukacita, dan mengabdikan dirinya sepenuhnya bagi Tuhan. Dia menerima kehormatan dan menghormati Tuhan yang memanggilnya serta hidup dengan responsi yang pantas sebagai anak Tuhan. Bagi Luther tidak ada lagi sikap ‘do ut des’ – aku memberi supaya aku menerima – atau aku memberikan diriku kepada Tuhan supaya aku mendapat lebih banyak lagi (berkat) dari Tuhan. Memberikan diri sepenuhnya dengan tulus itu yang paling pantas dan Luther melakukannya sepenuh hati dengan penuh tanggungjawab serta berani.

Tentu kita tidak perlu semua menjadi sama seperti Luther (dan memang tidak bisa), ketika kita menghayati pesan Paulus di Filipi 4 maka itu sudah menjadi indikasi bahwa kita memang ‘berpesta dengan sukacita tetapi dengan ‘pakaian pesta’ yang sesuai dengan ‘pesta keselamatan Sang Raja’ itu. Ia adalah (a) semangat untuk terus menghadirkan injil Kristus, (2) hidup bersukacita sebagai lawan berkeluh kesah, (3) kebaikan hati yang meluap dengan tulus, (4) tidak kuatir dalam perkara apa pun, (5) hidup diwarnai dengan rasa syukur, (6) memiliki cara pandang positif untuk semua hal yang dialami dalam hidup, dan (7) menjadi teladan untuk hidup beriman dengan benar kepada Kristus.



(disarikan dari khotbah Pdt. Em. Samuel Susanto ,15 Oktober 2017 oleh ss)

Saturday, October 14, 2017

Ringkasan Khotbah - 8 Oct 2017

Status Palsu
Matius 21 : 33 – 46
Menjadi Puteri Indonesia, mungkin jadi status idaman banyak perempuan di Indonesia. Siapa yang tidak mau menjadi perempuan paling cantik dan cerdas se-Indonesia. Namun, di balik status yang disandangnya, dia harus menunjukkan sikap yang bisa menjadi teladan, dia punya tugas menjadi duta Indonesia yang memperkenalkan Indonesia kepada banyak kalangan. Atau contoh yang negatif, banyak orang berebut jadi anggota dewan, meskipun tidak semua, namun sebagian besar hanya ingin mengejar status yang menghasilkan, soal tanggung jawab ya nanti saja belakangan dilakukan. Status seringkali menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan banyak orang, namun, banyak orang yang tidak bisa menghidupi status itu, sehingga status itu menjadi status palsu.

Status palsu juga ditunjukkan oleh bangsa Israel – umat pilihan Allah.
1.      Dalam Kitab Yesaya, Tuhan sudah merawat begitu rupa kebun anggur yang adalah representasi dari Israel, namun Israel tidak mampu membuahkan hasil yang sesuai dengan apa yang diingini Tuhan. Bangga dengan status sebagai umat pilihan Allah tapi hidup jauh dari Allah.
2.      Dalam Injil, perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus juga mengkritisi sikap hidup beragama kebanyakan bangsa Israel, secara khusus para pemuka agama Yahudi. Mereka bangga dengan status umat pilihan Allah, orang pilihan Allah, namun mereka tidak bisa menunjukkan gaya hidup yang sesuai dengan status sebagai umat Allah.
3.      Berbeda dengan Paulus yang mengalami perubahan paradigma. Dengan tepat Paulus menggambarkan perubahan paradigmanya ‘yang dulu kuanggap ‘menguntungkan’ dianggap sebagai ‘kebangkrutan’ (totally lossed). Paulus merasa previlege, status yang dimilikinya – yang selama ini dibanggakannya tidak berarti lagi. Karena Tuhan memberikan dengan cuma-cuma anugerah keselamatan tanpa menuntut manusia harus berbuat sesuatu terlebih dahulu.
Status sebagai umat Allah perlu disadari sebagai anugerah yang diberikan Tuhan bagi kita. Di satu sisi ini memang jadi kebanggaan buat manusia, di sisi lain, perlu disadari bahwa status sebagai umat Allah bukan hanya sekedar kebanggaan saja. Status itu perlu diimbangi dengan perubahan prinsip hidup, pola dan perilaku praktis yang terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai responsi yang paling pantas terhadap anugerah Tuhan kepada kita.


(disarikan dari khotbah Pdt. Nugraheni Iswara Adi-GKI Buaran ,08 Oktober 2017 oleh nia)

Saturday, September 16, 2017

Ringkasan Khotbah - 10 Sep 2017


MENOLAK DIAM
Menegur dengan benar dan bijaksana orang yang bersalah bukanlah sebuah tindakan yang mudah dilakukan. Dalam banyak kasus terbukti bahwa sahabat yang dekat sekali pun sering merasa sungkan atau enggan dimintai tolong untuk menegur sang teman karib yang sudah melakukan kesalahan fatal dan berada dalam bahaya. Biasanya orang takut kalau yang ditegur tidak terima, takut disalahkan, kuatir persahabatan jadi berantakan sampai alasan, yang nampaknya sangat saleh, bukankah kita ini juga orang yang berdosa!
Bagi umat Tuhan, ‘menegur orang yang berdosa’ itu bukan soal saya mau melakukan atau tidak mau melakukan tetapi perkara yang wajib dan harus dilakukan, karena Tuhan sendiri yang memerintahkannya. Tindakan menegur orang yang berdosa  tentu tidak secara  sembarangan tetapi sesudah semua masalah  yang berdampak buruk bagi pribadi yang bersangkutan, bagi keluarga, bagi gereja, dan bagi kesejahteraan dan kedamaian masyarakat luas serta sudah dipastikan kebenarannya jadi bukan hanya berdasarkan prasangka. Tindakan menegur juga mesti didului dengan memastikan bahwa tindak menegur yang dilakukan itu bermotif tunggal ‘kasih’, tidak berdasar rasa iri atau dengki atau hal-hal lain yang egois sifatnya lalu dilakukan dengan cara yang terhormat, bijaksana meski pun tegas. Menegur tidak dalam rangka menjatuhkan nama baik atau menghancurkan kehidupan tetapi justru supaya keselamatan dan kesejahteraan dari Tuhan bisa diwujudnyatakan meski pun orang bisa berdosa. Bagi umat Allah kesertaan dalam karya Allah ‘menegur umat yang berdosa’ bersangkut paut dengan kualitas iman orang yang bersangkutan. Umat diikut sertakan bukan utamanya karena sang penegur lebih suci atau lebih baik daripada yang ditegur tetapi Tuhan memberikan kepercayaan dan tanggungjawab umat terhadap sesamanya (jadi salah satu bentuk persekutuan)  tetapi sekaligus membawa kehormatan Tuhan dalam karya ini.

Selamat melaksanakan kehormatan dari Tuhan ini sebagai jemaat-Nya yang dewasa dan matang. Tuhan, oleh kuat kuasa dan hikmat dari Roh Kudus akan menyertai kita.



(disarikan dari khotbah Pdt. Em. Samuel Santoso, 10 September 2017 oleh ss)

Saturday, September 9, 2017

Ringkasan Khotbah - 03 Sep 2017

MENYELAMI PEMIKIRAN ALLAH
Yeremia 15:15-21; Matius 16:21-28

Manusia memiliki keinginan, cita-cita, pemikiran, dan berbagai hal yang menyekitari hidupnya. Ada kecenderungan dalam diri setiap orang untuk mengikuti cara berpikirnya sendiri dan merasa enggan mengikuti apa yang dipikirkan orang lain. Salah seorang filsuf terkenal, Rene De Cartes, pernah membuat pernyataan “cogito ergo sum” atau “aku berpikir maka aku ada”. Pernyataan ini menunjukan bahwa pemikiran orang sangat dihargai; eksistensi diri seseorang diukur dari pikirannya.
Namun dalam relasi dengan Tuhan, justru berlaku hal yang berbeda. Setiap pribadi yang hendak mengikut Tuhan didorong untuk menyelami apa yang dipikirkan Tuhan. Jika mengerjakan apa yang dipikirkan sendiri, maka seringkali akan berbeda dan bahkan bertentangan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Dalam hal ini, setiap orang perlu berproses untuk menyelami apa yang dipikirkan Tuhan. Keterbatasan manusia untuk melihat masa depan menjadi tantangan untuk terus menyelami apa yang dipikirkan Tuhan.
Kehidupan orang-orang yang dipilih Tuhan pun tidak luput dari pergumulan menyelami apa yang dipikirkan Allah. Petrus yang sudah cukup lama mengikuti Yesus tidak luput dari keinginan memaksakan pikirannya sendiri. Yeremia juga terus bertanya apa yang sebenarnya dirancangkan Tuhan bagi hidupnya. Pergumulan menyelami pikiran Tuhan dalam hidup ini akan menjadi perjuangan tanpa batas yang perlu terus diupayakan umat Tuhan supaya hidup yang dijalani semakin berkenan pada Tuhan.
(Diambil dari Buku Dian Penuntun edisi 24 hal. 94-95)


Saturday, September 2, 2017

Ringkasan Khotbah - 27 Agustus 2017

GKI BERKARYA DALAM KEBERAGAMAN

Kehidupan ini diwarnai, bahkan dipenuhi dengan cinta. Ada cinta manusia kepada manusia. Ada pula cinta manusia kepada Allah. Juga ada cinta Allah kepada manusia. Dari kitab Kejadian sampai dengan kitab Wahyu, dipenuhi dengan pemberitaan tentang kasih Allah kepada manusia. Contoh nyata kasih Allah kepada manusia yaitu:

·  Di dalam kitab Yesaya 51:6, Allah menyatakan: “…kelepasan yang Kuberikan akan tetap untuk selama-lamanya, dan keselamatan yang dariKu tidak akan berakhir.”

· Di dalam kitab Mazmur 138, kasih TUHAN, setiaNya dan janjiNya yang melebihi segala sesuatu menjadi dasar bagi pemazmur untuk bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati.

· Di dalam surat Roma 12:1, kemurahan Allah mendasari nasihat untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

·  Di dalam Injil Matius, Allah menyatakan kasihNya dengan mengutus Yesus untuk hadir di dalam dunia ini. Siapakah Yesus itu? Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Yesus merupakan pihak yang diurapi oleh Allah untuk menjadi juruselamat dunia. Yesus jauh lebih berkuasa dan mulia daripada siapa pun.

Oleh karena kasih Allah, setiap orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat menjadi satu tubuh di dalam Kristus. Satu tubuh, tetapi banyak anggota. Banyak anggota dengan tugas masing-masing yang tidak sama, tetapi satu tubuh. Marilah kita sebagai gereja (termasuk sebagai Gereja Kristen Indonesia) menyatakan kasih kepada Allah dan sesama dengan berkarya dalam keberagaman. 


(disarikan dari khotbah Pdt. Gatot Pudja Tamtama, 27 Agustus 2017 oleh gpt)

Friday, August 25, 2017

Ringkasan Khotbah - 13 Agustus 2017

Allah Hadir Untukmu
Matius 14:22-33

Orang Yunani Romawi menggambarkan dewa dewi mereka secara paradoksal. Mereka digambarkan persis seperti manusia pada umumnya, punya ambisi, suka mencinta tetapi juga membenci, saling bersaing, bisa juga baku bunuh. Masing-masing punya kawasan kekuasaannya. Meski pun digambarkan seperti layaknya manusia, mereka tidak punya sangkut paut dengan manusia. Mereka jauh di kawasan yang tidak terhampiri manusia.

Salah satu dewa Romawi, FATA, adalah dewa yang punya kekuasaan dan otoritas mutlak untuk menentukan garis hidup manusia. Dia seperti seorang programer pembuat robot yang begitu berkuasa menentukan ‘spek’ dari si robot. Seperti apa maunya demikianlah robot ini menjalaninya nanti. Si robot, betapa pun canggihnya, tidak bisa mengatur dirinya sendiri sama sekali. Si programer sesudah menentukan ‘garis nasib’ sang robot juga ‘tidak peduli’ pada si robot lagi. Dewa ‘penentu garis nasib manusia’ juga seperti si programer ini. Ia menentukan baik buruk, untung malang, bahagia menderita, selamat celaka manusia dan sesudah itu dia tidak peduli lagi. Tinggal manusia menjalani ‘garis nasib’ itu tanpa berdaya mengubahnya. Sang Penentu nasib, jauh di atas sana tidak punya urusan  lagi dengan manusia. Dia tidak punya hati, tidak bisa merasa iba atau berbelaskasih kepada mereka yang nasibnya celaka. Dewa Fata sikapnya dingin setelah menentukan ‘fatum’ (=nasib) manusia.

Allah yang diperkenalkan Alkitab tidak demikian. Betul, Dia Mahapencipta yang Mahakuasa atas kehidupan alam semesta ini termasuk manusia tetapi Dia tidak acuh tak acuh atau cuek. Ia hangat, punya hati, bisa merasa iba, punya rasa cemburu dan bisa marah tetapi memiliki pengendalian diri yang sempurna. Dia bisa menyesal bila mengambil satu keputusan yang terasa mengancam manusia tetapi tetap bersikap tegas! Tuhan semacam ini tidak hanya punya sifat-sifat yang luhur manusiawi semacam itu tetapi konsekuen dengan ... mewujudnyatakannya. IA HADIR UNTUK MANUSIA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA. Ketika Ia melihat orang-orang Ibrani itu ditindas oleh Firaun, Ia peduli, mendengar, berbelas-kasih dan ‘turun’ (Kel 3:7-8) lalu membebaskan mereka. Surat Ibrani 4:15 mendefinisikan tentang Imam Besar, yang adalah Yesus Kristus sendiri, bahwa Dia ikut merasakan kelemahan-kelemahan manusiawi kita sepenuh-penuhnya dengan pembedanya hanya satu bahwa Ia tidak berdosa! Kata yang dipakai di sini ‘sympathesai’ – simpati bukan hanya bisa mengerti dan memahami tetapi sendiri turut merasakan bahkan hal-hal yang buruk sekali pun. Yesus memang menjadi personifikasi dari KEHADIRAN ALLAH YANG BERKARYA DEMI KEBAIKAN HIDUP MANUSIA.

Kisah tontontan teatrikal yang disaksikan oleh nabi Elia di bukit Horeb (1Raj 19:11-12) dalam kondisi emosinya yang sedang jatuh, merasa frustrasi, dan sendirian tetapi ketakutan mengajarkan kepada kita dinamika cara Allah hadir dan bekerja dalam kehidupan umatnya. Tidak selalu dengan tindakan-tindakan yang spektakuler bombastis tetapi juga dalam hening, segar dan senyap (dan memang lebih banyak yang demikian). Dia tidak selalu hadir dalam bentuk ‘berjalan di atas air’ secara ajaib Mat 14:22-33) tetapi juga, pada cerita yang mirip, ketika Ia tidur di buritan saat perahu murid-murid-Nya diterpa badai dan hampir tenggelam pun (Mat 8:23-27). Seolah Yesus berkata:”Jika kamu percaya penuh kepada-Ku, bahkan Aku tidur pun di perahu kehidupanmu, kamu bisa berlayar dengan selamat sampai ke tujuan!” Kenapa bisa. Karena Dialah yang menyuruh kita mendayungkan perahu kehidupan kita ke seberang, Dia menjamin keselamatan kita. Dia hadir dan berbuat, percayalah!


(disarikan dari khotbah Pdt. Em. Samuel Santoso Minggu, 13 Agustus 2017 oleh ss)

Friday, August 4, 2017

Ringkasan Khotbah 30 Jul 2017

POLA HIDUP KERAJAAN ALLAH
Matius 13 : 31 - 33 , 44 - 52

Steven Covey, penulis 7 kebiasaan yang paling efektif, menggambarkan ada 4 kriteria waktu :

1.  Mendesak dan penting
Misalnya, orang yang sakit jantung / stroke, harus segera berobat dan ke dokter, bila terlambat maka akan celakalah orang yang mengalaminya.
2.  Mendesak, tapi tidak penting
Misalnya, ibu-ibu sedang masak di dapur, tiba-tiba telepon di rumah berdering-dering, terpaksa kompor dimatikan dan segera mengangkat telepon, tetapi ternyata telepon tersebut adalah salah sambung.
3.  Tidak mendesak, tetapi penting
Misalnya, membeli rumah sampai 10 unit, itu tidak mendesak tetapi penting untuk meningkatkan investasinya sehingga hartanya/uangnya bertambah nilainya.
4.  Tidak mendesak, sekaligus tidak penting
Misalnya,jalan-jalan ke mall setiap hari, itu tidak mendesak dan sekaligus tidak penting. Awalnya ngadem, lalu cuci mata dan setelah cuci dompet.

Kerajaan Allah diumpamakan oleh Tuhan Yesus seperti biji sesawi, ragi yang diadukan ke tepung, harta yang terpendam, mutiara yang indah dan pukat yang dilabuhkan.
Dalam hidupNya yang singkat, Tuhan Yesus telah melakukan yang mendesak dan penting dengan menggambarkan / mengajarkan pola hidup kerajaan Allah.

John Wesley membagi Pola Hidup Kerajaan Allah dengan 4 hal :
1.      Pola Hidup Kerajaan Allah harus hidup di dalam KASIH
2.      Pola Hidup Kerajaan Allah harus hidup di dalam PELAYANAN
3.      Pola Hidup Kerajaan Allah harus hidup di dalam KETAATAN
4.      Pola Hidup Kerajaan Allah harus hidup di dalam PENGORBANAN

Dengan menjalani hidup di dalam kasih, pelayanan, ketaatan dan pengorbanan, berarti kita melakukan juga apa yang sudah Tuhan Yesus ajarkan kepada kita semua.
Dengan pola hidup yang demikianlah, kita memberitakan Injil kepada dunia ini.

If you lost your property, you lost nothing
If you lost your healt, you lost something
If you lost your faith, you lost everything

.

(disarikan dari khotbah Pdt. Haniel Handoyo, 23 Juli 2017 oleh hh)

Saturday, June 10, 2017

Ringkasan Khotbah 04 Juni 2017

ROH KUDUS MEMULIHKAN DAN MEMPERSATUKAN
Yohanes 20:19-23

Bukan sebuah kebetulan, Allah memakai pelbagi peristiwa untuk menyatakan karya-Nya. Pentakosta dipahami dalam Perjanjian Lama begitu sarat pelbagi makna. Pada momentum inilah pencurahan Roh Kudus yang dijanjikan Kristus itu terjadi. Khotbah hari ini dipusatkan pada peran Roh Kudus dalam menghidupkan kembali semangat para murid Yesus dan memampukan mereka meneruskan tugas perutusan yang dilakukan Yesus.
Kuasa hembusan Roh Allah dalam Perjanjian Lama berdampak memberi kehidupan: Adam yang diciptakan dari tanah menjadi makhluk hidup oleh karena hembusan Roh Allah. Nafas hidup dari Allah itulah juga yang menghidupkan tulang-tulang orang Israelyang kemudian bangkit menjadi serdadu seperti yang dilihat Yehezkiel. Roh Kudus juga yang membangkitkan semangat para murid dan selanjutnya Roh itu memberi pelbagi karunia untuk melanjutkan tugas kesaksian mereka.
Tema Roh Kudus yang menghidupkan dan memulihkan mestinya menjadi pewartaan gereja di sepanjang masa. Di sekitar kita bertebaran kerusakan, baik fisik, mental spiritual maupun lingkungan kita. Pewartaan yang baik tentunya bukan sekedar kata-kata, melainkan sikap dan prilaku yang sedang merusak dengan segala pemuasan kepentingan sendiri?


(diambil  dari Buku Dian Penuntun edisi 23 hal.273-274)

Saturday, June 3, 2017

Ringkasan Khotbah 28 Mei 2017


Memuliakan Allah dengan Melakukan Pekerjaan-Nya
(Yohanes. 17:1-11)

Bagaimana perasaan Anda jika masuk ke ruang kebaktian (seperti biasanya di hari Minggu) dan tidak menemukan satu pun pelayan di sana? Bisa jadi kita akan merasa aneh (karena tidak seperti biasanya), sedih (karena kita merindukan suasana yang biasanya) dan malu (karena belum berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan tersebut).
Tentu saja kita tidak menghendaki situasi itu terjadi di gereja ini, bukankah begitu? Akan tetapi, situasi tidak adanya pelayan di dalam gereja bisa saja terjadi jika kita tidak mencermatinya, jika kita tidak mengantisipasinya.
Oleh karena itu, ketika GKI Kedoya menyelenggarakan Festival Pelayanan, maka ini merupakan momen yang sangat baik untuk setiap kita bercermin:

-  Seperti apa gereja di masa depan yang kita impikan? Gereja yang semakin maju, berdampak bagi dunia?
-  Berdasarkan impian itu, apa yang perlu kita lakukan agar gereja di masa depan yang kita impikan itu dapat tercapai?

Dari teks Yohanes 17:1-11 ada 3 hal yang penting untuk kita pelajari, yaitu: 

a. Adalah penting bagi setiap kita untuk terus mengenal Allah (ayat. 3). Mengenal Allah yang dimaksud adalah adanya relasi dengan-Nya.
Nah, biasanya... orang yang telah mengenal Allah, akan muncul dorongan dalam dirinya untuk berbuat sesuatu di tengah-tengah dunia ini (misalnya: melayani) sebagai respons atas kebaikan/kasih karunia/ berkat/penyertaan Tuhan.

b. Saat ini, Tuhan Yesus memang sudah tidak lagi bersama-sama dengan kita. Namun Ia menitipkan agar kita meneruskan pekerjaan-Nya (Yoh. 14:12). Dan kita diundang untuk meneladani-Nya: menyelesaikan pekerjaan yang Tuhan beri (ayat. 4).

c. Dalam melayani bersama, mungkin saja ada gesekan, perbedaan pendapat, perbedaan cara kerja (misalnya: yang satu cepat, yang satu agak lambat; yang satu bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus, yang lainnya satu per satu), atau sesuatu yang membuat kita “baper” (bawa perasaan, seperti: tersinggung, merasa tidak dihargai, dsb.). Namun, ingatlah... panggilan kita bukanlah agar ego kita dipuji, dihargai, tetapi agar kita menjadi satu (ayat. 11).


(disarikan dari khotbah Pdt.Natanael Setiadi, 28 Mei 2017 oleh ns)

Saturday, May 27, 2017

Ringkasan Khotbah - 21 Mei 2017

TERUSLAH BERBUAT BAIK, JANGAN GENTAR!!
Yohanes 14:15-21
Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama dan adat istiadat yang berbeda-beda. Kebhinekaan menjadi alat pemersatu keragaman di Indonesia. Itulah yang menjadi kekuatan persatuan para pejuang Indonesia untuk mengusir para penjajah. Namun, kini kebhinekaan terancam, agama dijadikan pedang pembunuh untuk mediskriminasikan pihak yang lebih lemah. Agama dilihat sebagai ancaman dan saingan bukan keragaman yang menyatukan.
Kondisi seperti ini tentu mempengaruhi kehidupan gereja, termasuk GKI. Beberapa jemaat GKI mengalami tekanan dalam pendirian rumah ibadah atau dalam melaksanakan kebaktian. Butuh kesabaran dan keberanian untuk menghadapi tekanan yang menghimpit umat Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus tidak meninggalkan kita sendirian. Tuhan menyertai setiap perjalanan hidup kita.
Sebelum naik kesurga, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia akan memberikan Penolong yang lain (allos Parakletos) untuk menyertai pelayanan para murid. Parakletos pada konteks saat itu adalah orang yang diminta untuk mendampingi seseorang dalam persidangan supaya memenangkan khasusnya. Allos Parakletos yang Tuhan anugrahkan adalah penolong yang menguatkan perjalanan kehidupan kita di tengah tantangan dan godaan yang ada.
Siapa yang tidak kenal dengan Ahok? Mantan Gubernur DKI Jakarta. Sosok yang dikenal bersih dalam memimpin kota Jakarta dan berani melawan para koruptor yang ada dalam pemerintahannya. Namun, karena kebaikan yang dialakukan ada orang-orang yang ingin melengserkannya dari kursi DKI 1. Tekanan muncul dari berbagai sisi, tetapi Ahok tetap melakukan apa yang baik bagi kota Jakarta, dia tidak gentar untuk terus berbuat kebaikan selama kesempatan masih ada. Beberapa waktu lalu, kita mendengar berita bahwa Ahok akhirnya dihukum kurungan 2 tahun penjara. Hukumannya bahkan lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum. Dimanakah peran allos Parakletos itu? Allos Parakletos memenangkan jiwa Ahok untuk dapat menerima apapun keputusan hakim. Saya membayangkan pagi itu Ahok berdoa bersama istri dan anak-anaknya. Dia menyerahkan apapun keputusan hakim kedalam tangan Tuhan. Di situlah allos Parakletos itu bekerja, Ahok menjadi pribadi yang kuat dalam menjalani hari-harinya.

Beranjak dari pertistiwa itu, kita dapat melihat bahwa menjadi orang baik pun belum tentu dapat diterima oleh semua orang. Orang mungkin malah ingin menfitnah dan menjatuhkan kita karena perbuatan baik yang kita lakukan. Tetapi, Firman Tuhan dalam 1 Petrus 3:17 mengatakan “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.” Tuhan Yesus pun harus menderita demi menggenapi rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Biarlah penderitaan karena berbuat baik itu kita lihat sebagai bagian dari pengalaman iman kita sebagai pengikut Kristus. Teruslah berbuat baik baik, jangan gentar! Kita tidak sendiri, kita bersama dengan Tuhan! Amin.


(disarikan dari khotbah Pnt. Adi Netto Kristanto, 21 Mei 2017 oleh ank)

Saturday, May 20, 2017

Ringkasan Khotbah - 14 Mei 2017

“PULANG KE RUMAH BAPA”
Yohanes 14:1-14

Ada banyak persamaan kata untuk menunjuk pada satu fenomena yang pasti dialami oleh semua manusia, kematian. Ada yang menyebutnya “kembali kepada Bapa Surgawi”, “dipanggil oleh Tuhan”, wafat, kembali ke rakhmatullah, gugur, tewas atau meninggal dunia tetapi realitanya satu saja yaitu ‘mati’. Kita tidak pernah bisa menemukan waktu yang baik dan ideal untuk membicarakan fenomena yang satu ini, malah cenderung menghindarinya kendati pun pengalaman itu masuk dan dekat dengan kita. Dekorasi peristiwa kematian ditandai dengan beragam kamuflase dari bunga hidup yang indah mewangi sampai makam yang disulap menjadi taman yang indah. Kematian menjadi sebuah ‘apa boleh buat’ mesti dijalani meski pun banyak yang kurang suka, kalau pun suka karena terpaksa.

Tuhan Yesus yang sadar sejak semula bahwa Ia datang dari Bapa-Nya untuk melaksanakan satu misi yang berat tetapi baik sekali dampaknya bagi kesejahteraan kemanusiaan memberikan perspektif baru bagi pandangan terhadap kematian. Ia harus mati mengurbankan diri demi keselamatan dunia ini dan, injil Yohanes menggambarkan, Ia berani, tangguh, tegar serta tidak takut menghadapinya. Kematian-Nya di kayu salib tidak menggambarkan kehinaan atau aib dari sebuah tragedi yang ironis karena justru mendatangkan kehidupan yang baru dan bermutu sangat tinggi yang disebut sebagai hidup yang kekal. Yang kasat mata adalah kematian di kayu salib yang suka dianggap tragis, konyol dan fatalistik. Tetapi bagi Yesus mati adalah ‘pulang ke rumah Bapa dan menyediakan tempat bagi orang yang beriman kepada-Nya’. Kalau begitu barangkali juga ‘mati’ juga berarti ‘beristirahat dari segala kelelahan sesudah kerja kertas tuntas dan sempurna’. Kalau Dia mengucapkan ‘Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!” (Luk 23:46), kalimat ini adalah doa orang Israel tradisional sebelum tidur yang diajarkan sejak mereka kanak-kanak – Requiscat in Pace (RIP).  Kematian menjadi ‘istirahat sorgawi’ dan ‘pulang ke rumah Bapa’.

Betul ‘dari debu tanah kembali kepada debu tanah’ tetapi itu bukan kata akhir sebab iman kepada Yesus yang bangkit membuat kata-kata Yesus menjadi kebenaran “Akulah kebangkitan dan hidup ....” (Yoh 11:29). Prasyarat untuk satu kebangkitan adalah kematian. Yesus mesti mati dulu untuk dibangkitkan tetapi bukan mati karena perkara yang konyol dan sia-sia melainkan mati karena mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penyelamatan Bapa-Nya di sepenuh kehidupan-Nya. Orang yang beriman kepada-Nya juga harus mengalami hal yang sama. Kita mesti mati, dan mati punya makna simbolik tentang partisipasi kita pada kematian Yesus yang bermakna. Jangan takut mati karena mati adalah bagian dari kehidupan kekal yang akan sempurna nanti.


(disarikan dari khotbah pdt.em. Samuel Santoso, 14 Mei 2017 oleh ss)

Saturday, May 13, 2017

Ringkasan Khotbah - 07 Mei 2017

AKU ADALAH PINTU
YOHANES 10:1-10
 
Pintu adalah :
1.       Pembatas. Ia memisahkan ruang yang satu dengan yanglain. Ia menjadi "perisai" bagi mereka yang ada di dalamnya. Sehingga maling dan binatang buas tidak mampu menjangkau domba-domba.

2.       Pintu menciptakan ruang luar dan ruang dalam. Ruang dalam kemudian menjadi sebuah tempat yang aman, tempat yang membebaskan bahkan memulihkan diri.

3.       Pintu adalah penghubung dengan ruang luar. Domba harus keluar, sebab rumput tersedia di padang, tidak di kandang.Tentu menggetarkan harus keluar kandang,  sebab mungkin saja berjumpa dengan serigala dan lain-lain yang mengancam hidup domba. Melalui pintu, domba bisa bertemu dengan padang rumputnya namun juga dengan padang gurunnya.
Namun "Pintu" itu juga adalah Gembala. Ia-lah yang berjalan di depan para domba. Membuka dan memastikan jalan yang aman bagi domba gembalaannya 
(bdk. Mzm 23).
 
 
Sehingga meski Padang rumput itu jauh, dan para domba harus melewati padang gurun atau lembah kekelaman, mereka tak perlu kuatir karena Gembala itu menjaga mereka dengan Tongkat dan Gada-Nya.
 
Yesus adalah Pintu artinya, 
 
1.       Ia adalah perisai yang melindungi kita dari segala marabahaya.
2.       Yesus adalah "Ruang" di dalam pintu, yang menentramkan dan memulihkan setiap orang yang "masuk" kepada-Nya. Orang yang masuk dalam Yesus masuk dalam ruang yang baru, dalam Komunitas baru. Di situ mereka dimiliki dan dikasihi Yesus. Konsekuensinya, mereka harus tinggal bersama, dengan aturan Kristus: saling mengasihi dan saling memiliki.
3.        Yesus adalah Pintu yang menghubungkan kita dengan Allah, sumber kebaikan, dan juga menghubungkan kita dengan sesama. Melalui Yesus kita mengerti bagaimana semestinya kita bersikap tatkala bertemu dengan sesama dalam perjalanan kita menuju "padang rumput" kita. 

(Disarikan dari khotbah Pdt.Evelyne Yudiarti Minggu, 7 Mei 2017 oleh Ey)

Saturday, May 6, 2017

Ringkasan Khotbah - 30 April 2017

MEMBANGUN RELASI DENGAN TUHAN
Lukas 24:13-35.

Pendahuluan:
Ada begitu banyak orang Kristen. Seiring dengan banyaknya umat Kristen, maka ada juga jenis-jenis dan kwalitas Kekristenan.
  1. Kekristenan sebatas agama atau KTP. Walau orang tersebut sudah diberikan identitas agama Kristen, tapi dalam pertumbuhannya belum tentu terisi dengan nilai-nilai Kristiani. Bagi orang Kristen yang sebatas agama, ibadah tidak dianggap penting, sehingga jarang beribadah. Kalau thoh ibadah itu pun sebagai rutinitas dan formalitas, tapi tanpa hati dan tanpa melibatkan rohnya.
  2. Kristen Pragmatis: membangun relasi dengan Tuhan (misalnya berdoa) bila ada kebutuhan dan masalah. Namun bila masalah teratasi, bila kebutuhan terpenuhi, maka relasi dengan Tuhan dihentikan. Tuhan hanya dihayati sebagai pelengkap penderita dan kebutuhan.
  3. Kristen Opurtunis: adalah Kristen yang 'aji-aji mumpung', seperti bunglon, selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan; tega terhadap penderitaan orang lain, yang penting memberikan keuntungan bagi dirinya.
  4. Kristen yang berjiwa khianat seperti Yudas Iskariot. Demi uang, jabatan, kekuasaan dan hal-hal duniawi, ia murtad, menggadaikan imannya alias murtad. Orang Kristen demikian mudah berkoalisi dengan para penentang Kristus untuk menyengsarakan umat Kristen.
  5. Kristen Intelektual: Kekristenan sebatas pengetahuan-Intelektual, teoritis, gemar berdebat-kusir tentang agama, Alkitab dan doktrin; tetapi miskin pengalaman spiritual hidup bersama dengan Tuhan.


Tema Firman Tuhan pada minggu ini berjudul: Ber-relasi dengan Tuhan. Tujuan dan inti pesannya adalah agar kita selaku umat Kristen, mengisi kekristenan kita dengan relasi bersama Tuhan. Tujuan sapaan Firman Tuhan dengan tema ini adalah supaya kita menjadi Kristen bertumbuh serta berbuah lebah, bukan mandeg sebagai Kristen sebatas agama, pragmatis, oportunis, berjiwa khianat/murtad, ataupun kristen-intelektual.

Makna:
Membangun relasi dengan Tuhan itu berarti “bergaul dengan Tuhan" (seperti nabi Nuh), 'bersahabat dengan Allah' (seperti Abraham), seperti ranting yang selalu melekat pada pokok anggur (Yohanes 15:1-8), sehingga mengalami kuasa kebangkitan Kristus di dalam hidupnya. 

Pentingnya Ber-relasi dengan Tuhan:
Mengapa musti ber-relasi dengan Tuhan ? 
  1. Tanpa Kristus, kita tidak dapat berbuat apa-apa, seperti ranting yang tidak berbuah, akan dipotong, dicampakkan ke dalam api untuk dibakar.
  2. Buah dari relasi dengan Tuhan adalah hidup yang kekal; menjadi umat pemenang terhadap dosa dan maut (Yohanes 17:3; Roma 8:37-39).
  3. Hidup yang selalu ditopang, diberkati, ditolong dan dilindungi oleh Tuhan.
  4. Relasi dengan Tuhan akan memampukan umat Kristen menghasilkan buah yang lebat (Yohanes 15:8).
  5. Relasi dengan Tuhan berarti mengalami kehadiran Tuhan yang mengubahkan, membaharui segala keadaan menjadi kebaikan. Contohnya: para rasul yang dulunya begitu takut terhadap orang-orang Yahudi, menjadi tidak takut lagi, malah keluar dari penjara-ketakutannya untuk menjadi saksi Ktistus.


Hasil kesaksian rasul Petrus dan rasul-rasul lainnya (Kisah 2:14,36-41) membuat begitu banyak orang bertobat, percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, dibaptis dan bertekun dalam persekutuan (Kisah 2:41-47).
Perubahan terjadi pada diri dua orang murid yang berjalan ke kota Emaus. Dulunya mereka mengenal Kristus secara tidak utuh, berharap bahwa Yesus Kristus akan membebaskan bangsa Israel dari penindasan bangsa Romawi, tapi kecewa karena Yesus Kristus mati disalibkan; ada selaput yang menutupi matanya sehingga tidak mengenal Yesus Kristus selama berjalan bersama dengan mereka. Tapi selanjutnya, setelah pengalaman ber-relasi dengan Tuhan terjadi cukup lama dan intensif, mata iman mereka terbuka, mereka bersemangat besar dalam perjalanan, lalu bergegas kembali ke Yerusalem untuk menyaksikan pengalaman mereka berjumpa dengan Yesus Kristus yang telah bangkit dan hidup selamanya. 

Penerapannya:
Bagaimana (cara) mengimplementasikan 'Ber-relasi dengan Tuhan' ? Bagaimana pula indikasi bahwa seseorang ber-relasi dengan Tuhan ?
  1. Musti diawali dengan kesadaran dan pengakuan bahwa tanpa Tuhan, kita lemah, tidak berdaya dan berakhir pada maut.
  2. Selanjutnya percaya dengan sepenuh hati bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat sejati.
  3. Memiliki kerinduan dan kebutuhan akan kasih-pertolongan Tuhan.
  4. Mempunyai spiritual yang berserah dan mengandalkan Tuhan. 
  5. Firman Kristus tinggal di dalam hidup kita (Yohanes 15:7), dan kita menjadi pelaku Firman Tuhan; menjadi umat Kristen yang taat; Kristen yang baik dan benar (I Petrus 1:17, 22).
  6. Sebagai konsekuensi logis dari ketaatan kita kepada Tuhan, maka relasi dengan Tuhan akan membuat Kristen bertumbuh serta berbuah lebat (Yohanes 15:8; Galatia 5:22-23). Orang Kristen yang sejati, yang bertumbuh dan berbuah lebat, tidak lagi (sama) dengan orang Kristen sebatas agama, Kristen-Pragmatis, Kristen-Oportunis, berjiwa khianat (Yudas Iskariot), maupun Kristen-Intelektual tanpa pengalaman spiritual.
  7. Klimaknya: orang Kristen yang ber-relasi dengan Tuhan akan sungguh-sungguh beriman, berdoa, beribadah kepada Tuhan, mengasihi Tuhan dengan cara mengasihi sesama manusia (Matius 22:37-40; I Petrus 1:22). 


Penutup:
Selamat membangun relasi dengan Tuhan, sehingga kita bahagia dan memperoleh hidup kekal, serta menjadi Kristen yang bertumbuh & berbuah lebat bagi kemuliaan nama Tuhan.

(Disarikan dari khotbah Pdt.SuryadiMinggu, 30 April 2017 oleh Syd)

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda