Saturday, March 7, 2015

Ringkasan Khotbah - 01 Maret 2015

DIBAPTISKAN dan DICOBAI AGAR SIAP MEMBERITAKAN INJIL
(Markus 8:31-38)

Kita berada pada Masa Raya Gerejawi yang disebut sebagai Masa Prapaska yang sudah dimulai dengan diselenggarakannya Kebaktian Rabu Abu (18 Februari 2015) yang lalu. Masa Raya Gerejawi dalam khasanah liturgi disebut Naratives Time (Masa Pengisahan) – yang ditandai dengan warna liturgis ungu. Tekanan pemberitaan firman pada Masa Raya Gerejawi adalah apa yang dilakukan oleh Tuhan/sorga terhadap dunia/manusia dalam rangka penyelamatan dunia dan manusia ini.  Masa Raya Gerejawi dilanjutkan dengan Masa Biasa atau Ordinary Time  – yang ditandai dengan warna liturgis hijau. Tekanan pemberitaan firman pada apa dan bagaimana seharusnya   responsi atau tanggapan manusia terhadap karya Tuhan (yang diberitakan pada Masa Raya Gerejawi). Jadi Firman Tuhan hari ini tekanannya pada apa yang telah dilakukan Tuhan kepada dunia ini.

Dalam Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas)  paling sedikit Tuhan Yesus mengungkapkan dengan gamblang dalam suasana cemas, kuatir atau takut tentang apa yang akan Dia alami kalau Dia setia kepada penugasan Bapak-Nya di sorga. Ketaatan-Nya kepada Bapak-Nya membuat Dia meninggalkan aman dan nyamannya sorga dengan segala fasilitas dan kemudahan-kemudahannya (perhatikan: ... dan malaikat-malaikat itu melayani Dia, Mrk 1:13b). Meski pun Dia tahu persis bahwa tujuan dari karya-Nya sangat baik yakni menyelamatkan manusia, memberi kesejahteraan serta mengangkat kembali harkat dan martabat manusia tetapi Ia sangat menyadari bahwa tidak semua fihak bisa menerima dengan baik. Pasti ada, dan banyak yang tidak menyukai-Nya oleh sebab itu Ia menyatakan dengan gamblang apa-apa yang buruk yang akan dialami-Nya nanti. “... menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” (Markus 8:31). Dia mesti berkorban sampai mati!

Tetapi pada sisi lain. Yang dilihat oleh Petrus dan murid-murid-Nya adalah seorang Yesus yang bisa secara ajaib membuat lima ketul roti dan dua ikan, membuat mujizat menyembuhkan orang sakit dan lumpuh, meneduhkan badai, membangkitkan orang mati, dihormati dan disegani berbagai lapisan masyarakat, dan punya banyak pengikut yang fanatik. Di mata Petrus, Yesus mahahebat, mahakuasa, dan mempunyai kesaktian jadi tidak terkalahkan. Oleh karena itu di mata Petrus tidak mungkin penderitaan itu dialami Yesus.

Jadi kita bisa membayangkan betapa beratnya pergumulan yang mesti dihadapi Yesus secara pribadi. Pada satu sisi Dia akan menderita karena ketaatan mutlak-Nya kepada kehendak Bapak-Nya dan sikap bermusuhan dunia ini yang akan membunuh-Nya dengan di sisi lain kesadaran bahwa Ia mahahebat dan mahadahsyat serta punya kuasa! Tetapi Dia tidak menggunakan segala kehebatan-Nya ini sama sekali. Dia konsekuen dengan syarat yang diberikan-Nya bagi semua orang yang mau mengikut-Nya yakni menyangkal diri dan memikul salib.  Lihatlah betapa beratnya pergumulan Yesus demi kita semua. Pergumulan untuk mengalahkan diri sendiri yang berat sekali tetapi mesti Dia atasi supaya kita semua selamat. Disinilah kehebatan-Nya.


(disarikan dari khotbah Pdt. Samuel Santoso tg. 01 Maret 2015 oleh SS)

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda