DIBAPTISKAN dan
DICOBAI AGAR SIAP MEMBERITAKAN INJIL
(Markus 8:31-38)
Kita
berada pada Masa Raya Gerejawi yang disebut sebagai Masa Prapaska yang sudah
dimulai dengan diselenggarakannya Kebaktian Rabu Abu (18 Februari 2015) yang lalu.
Masa Raya Gerejawi dalam khasanah liturgi disebut Naratives Time (Masa Pengisahan) – yang ditandai dengan warna
liturgis ungu. Tekanan pemberitaan firman pada Masa Raya Gerejawi adalah apa
yang dilakukan oleh Tuhan/sorga terhadap dunia/manusia dalam rangka penyelamatan
dunia dan manusia ini. Masa Raya
Gerejawi dilanjutkan dengan Masa Biasa atau Ordinary
Time – yang ditandai dengan warna
liturgis hijau. Tekanan pemberitaan firman pada apa dan bagaimana
seharusnya responsi atau tanggapan
manusia terhadap karya Tuhan (yang diberitakan pada Masa Raya Gerejawi). Jadi
Firman Tuhan hari ini tekanannya pada apa yang telah dilakukan Tuhan kepada
dunia ini.
Dalam
Injil-injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas)
paling sedikit Tuhan Yesus mengungkapkan dengan gamblang dalam suasana
cemas, kuatir atau takut tentang apa yang akan Dia alami kalau Dia setia kepada
penugasan Bapak-Nya di sorga. Ketaatan-Nya kepada Bapak-Nya membuat Dia
meninggalkan aman dan nyamannya sorga dengan segala fasilitas dan
kemudahan-kemudahannya (perhatikan: ... dan
malaikat-malaikat itu melayani Dia, Mrk 1:13b). Meski pun Dia tahu persis
bahwa tujuan dari karya-Nya sangat baik yakni menyelamatkan manusia, memberi
kesejahteraan serta mengangkat kembali harkat dan martabat manusia tetapi Ia
sangat menyadari bahwa tidak semua fihak bisa menerima dengan baik. Pasti ada,
dan banyak yang tidak menyukai-Nya oleh sebab itu Ia menyatakan dengan gamblang
apa-apa yang buruk yang akan dialami-Nya nanti. “... menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam
kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.”
(Markus 8:31). Dia mesti berkorban sampai mati!
Tetapi
pada sisi lain. Yang dilihat oleh Petrus dan murid-murid-Nya adalah seorang
Yesus yang bisa secara ajaib membuat lima ketul roti dan dua ikan, membuat
mujizat menyembuhkan orang sakit dan lumpuh, meneduhkan badai, membangkitkan
orang mati, dihormati dan disegani berbagai lapisan masyarakat, dan punya
banyak pengikut yang fanatik. Di mata Petrus, Yesus mahahebat, mahakuasa, dan
mempunyai kesaktian jadi tidak terkalahkan. Oleh karena itu di mata Petrus
tidak mungkin penderitaan itu dialami Yesus.
Jadi
kita bisa membayangkan betapa beratnya pergumulan yang mesti dihadapi Yesus
secara pribadi. Pada satu sisi Dia akan menderita karena ketaatan mutlak-Nya
kepada kehendak Bapak-Nya dan sikap bermusuhan dunia ini yang akan membunuh-Nya
dengan di sisi lain kesadaran bahwa Ia mahahebat dan mahadahsyat serta punya
kuasa! Tetapi Dia tidak menggunakan segala kehebatan-Nya ini sama sekali. Dia
konsekuen dengan syarat yang diberikan-Nya bagi semua orang yang mau
mengikut-Nya yakni menyangkal diri dan memikul salib. Lihatlah betapa beratnya pergumulan Yesus
demi kita semua. Pergumulan untuk mengalahkan diri sendiri yang berat sekali
tetapi mesti Dia atasi supaya kita semua selamat. Disinilah kehebatan-Nya.
(disarikan
dari khotbah Pdt. Samuel Santoso tg. 01 Maret 2015 oleh SS)
No comments:
Post a Comment