KARYA TRINITAS YANG MEMBARUI: DARI ATAS KE DALAM
Yohanes
3:1-17
Nikodemus menjumpai Yesus di
waktu malam. Paradigma teologis Nikodemus adalah: ia melihat Yesus sebagai guru
yang diutus Allah melalui tanda-tanda mukjizat yang dikerjakan-Nya. Nikodemus
melihat “keilahian” Yesus melalui pekerjaan mukjizat-Nya. Namun, Yesus
membantah pemahaman Nikodemus tersebut.
Sebab, untuk melihat penyataan Allah dan kerajaan-Nya seseorang harus
dilahirkan kembali. Makna dilahirkan kembali adalah mengalami pembaruan hidup,
melalui baptisan air dan pencurahan Roh Kudus. Baptisan air dan pencurahan Roh
Kudus akan terjadi manakala manusia menyambut dan percaya kepada Sang Anak
Manusia, yaitu Kristus, khususnya saat Ia ditinggikan melalui peristiwa salib.
Dengan demikian, penyataan Allah pada puncaknya terjadi dalam peristiwa salib
di bukit Golgota. Saat itulah Sang Anak Manusia ditinggikan, seperti dalam
peristiwa Musa meninggikan ular di padang-gurun: Barangsiapa memandang ular
tembaga yang ditinggikan Musa tersebut, dia akan sembuh (Bilangan 21:9).
Demikian pula, umat yang percaya kepada penebusan Kristus di kayu salib akan
memperoleh hidup yang kekal.
Kesaksian Yohanes 3:1-17
menegaskan bahwa peristiwa salib yang menyelamatkan akan dialami umat sebagai
peristiwa penyataan Allah, manakala umat menerima Roh Kudus. Peristiwa salib
tersebut akan membarui umat melalui baptisan air dan pencurahan Roh Kudus,
sehingga mereka mengalami kelahiran kembali.
Dengan demikian, karya Roh Kudus dalam konteks ini mempunyai peranan yang
sangat menentukan. Tanpa karya Roh Kudus, peristiwa salib hanyalah suatu
tragedi yang menyedihkan, sehingga tidak mampu membawa pengaruh apa pun dalam
kehidupan umat. Sebaliknya, melalui karya Roh Kudus umat akan mengalami
peristiwa salib sebagai tindakan Allah yang mengasihi dan menyelamatkan.
Melalui peristiwa salib, umat mengalami kelahiran baru sebagai anak-anak Allah.
(Diambil dari buku
Dian Penuntun, edisi 20 hal. 3-4)
No comments:
Post a Comment