DIUTUS DAN DIPERLENGKAPI
Kesatuan jemaat adalah pergumulan
gereja sejak awal, Gereja yang terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang
dan berperilaku berbeda mempunyai potensi besar mengalami perpecahan. Dalam
pergumulan untuk kesatuan inilah karya Kristus menjadi pondasi yang kokoh,
sebab di dalam-Nya kasih kepada semua manusia menjadi nyata. Di dalam
penerimaan Kristus terhadap setiap manusia, maka penerimaan orang terhadap
orang lain yang tentu saja berbeda-beda menemukan landasannya.
Di dalam Kristus pula tersedia
beragam karunia untuk pelayanan. Keragaman karunia ini tentu saja berguna untuk
memperlengkapi jemaat dalam melayani. Namun, keragaman ini juga seringkali
menjadi salah satu pemicu perpecahan di tengah kehidupan bergereja. Ketidakdewasaan
yang mewujud dalam perasaan lebih unggul dari orang lain hanya karena mempunyai
karunia tertentu adalah sebuah ironi. Karunia-karunia diberikan oleh Kristus
karena kemurahan-Nya, bukan sebagai penghargaan akan pretasi. Kesombongan diri
yang merusak kesatuan komunitas sesungguhnya adalah pengingkaran diri terhadap
Kristus yang seharusnya bertahta di dalam hati.
Keberagaman
karunia di dalam jemaat adalah bukti penyertaan Kristus. Di dalam keragaman itu
kasih dan kuasa Kristus mewujudnyata. Kristus memperlengkapi jemaat dan
mengutusnya. Setiap perlengkapan yang diberikan Kristus, bukan piranti untuk
menyombongkan diri, tetapi untuk melayani sesama dan dunia.
Kesatuan jemaat menjadi hal yang
penting ketika kita berbicara tentang bagaimana setiap orang percaya
diperlengkapi dengan pelbagai karunia dan diutus untuk melayani. Apabila
terjadi perpecahan di dalam jemaat, bagaimana mungkin anggotanya bisa
dipersiapkan secara maksimal untuk melayani ?
Apabila jemaat hidup dalam
konflik, mungkinkah pengutusan untuk melayani dunia ini terjadi ?
(Diambil
dari buku Dian Penuntun edisi 20 hal. 91-92)
No comments:
Post a Comment