Mengendalikan
Lidah, membangun kehidupan
Yakobus 3:1-12; Markus 8:
27-38; Amsal 1:20-30
Dalam berelasi dengan
orang lain kita perlu membedakan antara etika dan etiket. Etiket membahas
masalah sopan santun dalam berperilaku dan bergaul. Sedangkan etika membahas
soal benar atau salah serta baik atau buruk.
Idealnya dalam berelasi kita mesti bisa memegang baik etika maupun etiket. Yang
menjadi persoalan adalah seringkali kita lebih mengutamakan etiket daripada
etika. Akibatnya hal-hal yang benar, hal-hal yang baik seringkali urung
disampaikan demi sebuah sopan santun.
Dalam surat Yakobus gejala seperti ini terjadi. Banyak jemaat yang ingin
menjadi guru pada waktu itu lebih suka bicara sopan daripada membicarkan
hal-hal yang benar. Akibatnya jemaat tidak dibangun secara iman, situasi
persekutuan menjadi tidak sehat, penuh gosip dan lain-lain.
Oleh karena itu
Penulis surat Yakobus meminta mereka yang ingin menjadi guru dalam jemaat untuk
mampu mengendalikan lidah. Maksudnya
mereka mesti mampu berbicara hal-hal yang benar, yang berguna dan bermanfaat
bagi jemaat.
Hal ini juga yang dialami
oleh Petrus. Sebagai murid yang tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang mesti
menderita, Petrus tidak ingin kebenaran seperti itu diketahui orang banyak.
Karena itu dengan sopan ia menegur Yesus
agar jangan berbicara tentang Mesias yang menderita.
Beruntung Yesus menegur
Petrus. Dengan teguran yang keras Yesus ingin agar Petrus berani bicara hal-hal
yang benar kepada banyak orang. Oleh karena itu dalam menata kehidupan
keluarga, jemaat, dan masyarakat, kita mesti tampil sebagai orang yang tidak
saja mengedepankan etiket. Lebih daripada itu kita mesti tampil sebagai orang
Kristen yang menjunjung etika.
Hal yang disebutkan terakhir ini penting karena
dalam masyarakat sudah terlalu banyak
informasi dan berita yang menyesatkan. Informasi-informasi yang tidak membangun
karena banyak orang tidak berani bicara hal-hal yang benar dan berguna. Selain
itu kita sebagai orang percaya juga mesti belajar menyaring semua informasi yang
diperoleh. Hanya dengan kemampuan menyaring informasi kita bisa terus terbangun
secara iman dan tidak terpengaruh isu-isu sesat yang lahir dari “penyalahgunaan
lidah”.
Upaya seperti ini hanya mungkin terjadi kalau kita terus memberi diri
dibaharui dan hidup menurut kehendak Allah. Sesuatu yang dibutuhkan karena
ketika kita tidak memberi diri mendengar hal-hal yang benar dari Allah, kita
pun akan sulit berbicara tentang kebenaran dalam pergaulan kita sehari-hari.
Ketika kita tidak memberi diri mendengar apa yang Allah kehendaki, kitapun akan
sulit menyaring dan mengenali kebenaran Allah dalam berbagai informasi yang
kita dengar. Karena itu dalam Bulan Keluarga ini baiklah kita menata kehidupan
keluarga sehingga menjadi tempat dimana hal-hal yang benar dibicarakan. Untuk
itu komunikasi dalam keluarga harus dibenahi agar “penyalahgunaan lidah” tidak
merusak sendi-sendi kehidupan rumah tangga kita. Semoga (BM)
(Disarikan dari kotbah Pdt. Besly
Messakh, Minggu 13 September 2015)
No comments:
Post a Comment