Friday, September 18, 2015

Ringkasan Khotbah - 13 September 2015

Mengendalikan Lidah, membangun kehidupan
Yakobus 3:1-12; Markus 8: 27-38; Amsal 1:20-30
Dalam berelasi dengan orang lain kita perlu membedakan antara etika dan etiket. Etiket membahas masalah sopan santun dalam berperilaku dan bergaul. Sedangkan etika membahas soal  benar atau salah serta baik atau buruk. Idealnya dalam berelasi kita mesti bisa memegang baik etika maupun etiket. Yang menjadi persoalan adalah seringkali kita lebih mengutamakan etiket daripada etika. Akibatnya hal-hal yang benar, hal-hal yang baik seringkali urung disampaikan demi sebuah sopan santun. 

Dalam surat Yakobus gejala seperti ini terjadi. Banyak jemaat yang ingin menjadi guru pada waktu itu lebih suka bicara sopan daripada membicarkan hal-hal yang benar. Akibatnya jemaat tidak dibangun secara iman, situasi persekutuan menjadi tidak sehat, penuh gosip dan lain-lain. 

Oleh karena itu Penulis surat Yakobus meminta mereka yang ingin menjadi guru dalam jemaat untuk mampu mengendalikan lidah.  Maksudnya mereka mesti mampu berbicara hal-hal yang benar, yang berguna dan bermanfaat bagi jemaat. 

Hal ini juga yang dialami oleh Petrus. Sebagai murid yang tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang mesti menderita, Petrus tidak ingin kebenaran seperti itu diketahui orang banyak. Karena itu dengan sopan ia menegur  Yesus agar jangan berbicara tentang Mesias yang menderita. 

Beruntung Yesus menegur Petrus. Dengan teguran yang keras Yesus ingin agar Petrus berani bicara hal-hal yang benar kepada banyak orang. Oleh karena itu dalam menata kehidupan keluarga, jemaat, dan masyarakat, kita mesti tampil sebagai orang yang tidak saja mengedepankan etiket. Lebih daripada itu kita mesti tampil sebagai orang Kristen yang menjunjung etika. 

Hal yang disebutkan terakhir ini penting karena dalam masyarakat sudah terlalu banyak informasi dan berita yang menyesatkan. Informasi-informasi yang tidak membangun karena banyak orang tidak berani bicara hal-hal yang benar dan berguna. Selain itu kita sebagai orang percaya juga mesti belajar menyaring semua informasi yang diperoleh. Hanya dengan kemampuan menyaring informasi kita bisa terus terbangun secara iman dan tidak terpengaruh isu-isu sesat yang lahir dari “penyalahgunaan lidah”.

Upaya seperti ini hanya mungkin terjadi kalau kita terus memberi diri dibaharui dan hidup menurut kehendak Allah. Sesuatu yang dibutuhkan karena ketika kita tidak memberi diri mendengar hal-hal yang benar dari Allah, kita pun akan sulit berbicara tentang kebenaran dalam pergaulan kita sehari-hari. 

Ketika kita tidak memberi diri mendengar apa yang Allah kehendaki, kitapun akan sulit menyaring dan mengenali kebenaran Allah dalam berbagai informasi yang kita dengar. Karena itu dalam Bulan Keluarga ini baiklah kita menata kehidupan keluarga sehingga menjadi tempat dimana hal-hal yang benar dibicarakan. Untuk itu komunikasi dalam keluarga harus dibenahi agar “penyalahgunaan lidah” tidak merusak sendi-sendi kehidupan rumah tangga kita. Semoga (BM)

(Disarikan dari kotbah Pdt. Besly Messakh, Minggu 13 September 2015)

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda