Ambil
Bagian dalam Perjuangan Kristus
Ayub 1:1, 2:1–10;
Mazmur 26; Ibrani 1:1–4, 2:5–12; Markus 10:2–16
Dalam dua pekan ini kita menggumuli
topik seputar anak-anak. Siapakah mereka? Sedikitnya kita menemukan tiga titik
pada anak-anak yakni rentan, polos, tetapi juga penuh harapan masa depan. Anak-anak adalah sosok yang rentan karena
mereka merupakan komunitas atau kelompok yang sangat dipengaruhi oleh
orang-orang dewasa dan sarana di sekelilingnya. Demikian halnya pengaruh
terhadap anak-anak sering ditentukan oleh ‘hidden
curriculum’ atau kurikulum tersembunyi. Orang dewasa sering secara tidak
disengaja atau tidak disadari mengungkapkan hal-hal yang tidak semestinya
didengarkan anak-anak tetapi mereka mengungkapkannya sehingga anak-anak dengan
mudah menirunya. Situasi rentan ini memberi dampak kurang manis bagi
perkembangan anak-anak.
Sisi lain dari anak-anak adalah
polos. Mereka sungguh-sungguh mengungkapkan apa adanya, tanpa tedeng
aling-aling, sekalipun beberapa anak pemalu atau bahkan memiliki kesulitan
untuk mengungkapkan perasaannya. Namun demikian anak-anak juga adalah masa
depan. Dalam konteks gereja, masa depan gereja pada masa yang akan datang
sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak pada masa kini. Hal ini berkait erat
dengan kualitas pendidikan iman dan spiritual bagi anak-anak. Ungkapan bijak
yang kita kenal – dan sering dikemukakan oleh almarhum Pdt. Em. Jimmy Mc.
Setiawan dari GKI Guntur – adalah “the Sunday School Today is the Church
Tomorrow” (sekolah Minggu saat ini adalah gereja pada masa yang akan datang).
Menyimak kondisi di atas menjadi
sejalan dengan kerinduan dan perjuangan Tuhan Yesus yang memberi ruang terbuka
bagi anak-anak. Orang-orang dewasa cenderung untuk mempersempit ruang gerak
anak-anak dalam berbagai kesempatan (termasuk di gereja sehingga mereka sering
kurang mendapat sarana untuk ibadah). Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegur dan
mengingatkan orang dewasa agar memberi ruang bagi anak-anak. Yesus berujar
“biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka”
(Markus 10: 14). Di sini Tuhan Yesus menegaskan agar orang-orang dewasa
sungguh-sungguh memperhatikan masa depan mereka. Perintah Tuhan Yesus ini
tampaknya sejalan dengan gagasan umat Israel perjanjian lama yang menekankan
pada kualitas pendidikan anak sebagaimana dicatat Ulangan 6: 4 – 9. Pada bagian
itu umat diingatkan pada sebuah pengajaran bagi anak-anak untuk hidup dalam
pergulatan iman yang perlu diteladankan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya,
khususnya para orangtua.
Pada masa kini, tantangan terbesar
pendidikan iman anak-anak adalah teladan orangtuanya. Kerinduan Tuhan Yesus
adalah agar para orangtua menampakkan kualitas hidup melalui teladan yang
disampaikan kepada anak-anak mereka sebagai kelanjutan dari perjalanan masa depan
umat dan gereja. Kita, gereja, diajak untuk turut serta melakukan kerinduan
Tuhan Yesus agar seluruh umat melakukan tindakan iman, menindaklanjuti
kehidupan dengan menghadirkan nilai-nilai yang dinampak dengan baik kepada
generasi berikutnya. Secara khusus, perjalanan anak-anak di gereja melalui
Sekolah Minggu, sebagaimana diperjuangkan oleh Robert Raikes pada abad ke 18
(Revolusi Industri) juga mewujud dalam perjalanan gereja kita saat ini.
Anak-anak yang menjadi buruh murah saat itu dilatih untuk menampakkan kualitas
hidup yang baik melalui pendidikan spiritual dan etika dan membangun masa depan
mereka dengan lebih cerah. Inilah
panggilan gereja saat ini, turut serta menghadirkan nilai spiritual
gereja melalui anak-anak sebagai masa depan yang dapat diandalkan. Tuhan
memberkati kita semua. Amin.
No comments:
Post a Comment