Sunday, October 11, 2015

Ringkasan Khotbah - 04 Oktober 2015

Ambil Bagian dalam Perjuangan Kristus
Ayub 1:1, 2:1–10; Mazmur 26; Ibrani 1:1–4, 2:5–12; Markus 10:2–16

            Dalam dua pekan ini kita menggumuli topik seputar anak-anak. Siapakah mereka? Sedikitnya kita menemukan tiga titik pada anak-anak yakni rentan, polos, tetapi juga penuh harapan masa depan.  Anak-anak adalah sosok yang rentan karena mereka merupakan komunitas atau kelompok yang sangat dipengaruhi oleh orang-orang dewasa dan sarana di sekelilingnya. Demikian halnya pengaruh terhadap anak-anak sering ditentukan oleh ‘hidden curriculum’ atau kurikulum tersembunyi. Orang dewasa sering secara tidak disengaja atau tidak disadari mengungkapkan hal-hal yang tidak semestinya didengarkan anak-anak tetapi mereka mengungkapkannya sehingga anak-anak dengan mudah menirunya. Situasi rentan ini memberi dampak kurang manis bagi perkembangan anak-anak.

            Sisi lain dari anak-anak adalah polos. Mereka sungguh-sungguh mengungkapkan apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, sekalipun beberapa anak pemalu atau bahkan memiliki kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya. Namun demikian anak-anak juga adalah masa depan. Dalam konteks gereja, masa depan gereja pada masa yang akan datang sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak pada masa kini. Hal ini berkait erat dengan kualitas pendidikan iman dan spiritual bagi anak-anak. Ungkapan bijak yang kita kenal – dan sering dikemukakan oleh almarhum Pdt. Em. Jimmy Mc. Setiawan dari GKI Guntur – adalah “the Sunday School Today is the Church Tomorrow” (sekolah Minggu saat ini adalah gereja pada masa yang akan datang). 

            Menyimak kondisi di atas menjadi sejalan dengan kerinduan dan perjuangan Tuhan Yesus yang memberi ruang terbuka bagi anak-anak. Orang-orang dewasa cenderung untuk mempersempit ruang gerak anak-anak dalam berbagai kesempatan (termasuk di gereja sehingga mereka sering kurang mendapat sarana untuk ibadah). Itulah sebabnya Tuhan Yesus menegur dan mengingatkan orang dewasa agar memberi ruang bagi anak-anak. Yesus berujar “biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka” (Markus 10: 14). Di sini Tuhan Yesus menegaskan agar orang-orang dewasa sungguh-sungguh memperhatikan masa depan mereka. Perintah Tuhan Yesus ini tampaknya sejalan dengan gagasan umat Israel perjanjian lama yang menekankan pada kualitas pendidikan anak sebagaimana dicatat Ulangan 6: 4 – 9. Pada bagian itu umat diingatkan pada sebuah pengajaran bagi anak-anak untuk hidup dalam pergulatan iman yang perlu diteladankan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya, khususnya para orangtua. 

            Pada masa kini, tantangan terbesar pendidikan iman anak-anak adalah teladan orangtuanya. Kerinduan Tuhan Yesus adalah agar para orangtua menampakkan kualitas hidup melalui teladan yang disampaikan kepada anak-anak mereka sebagai kelanjutan dari perjalanan masa depan umat dan gereja. Kita, gereja, diajak untuk turut serta melakukan kerinduan Tuhan Yesus agar seluruh umat melakukan tindakan iman, menindaklanjuti kehidupan dengan menghadirkan nilai-nilai yang dinampak dengan baik kepada generasi berikutnya. Secara khusus, perjalanan anak-anak di gereja melalui Sekolah Minggu, sebagaimana diperjuangkan oleh Robert Raikes pada abad ke 18 (Revolusi Industri) juga mewujud dalam perjalanan gereja kita saat ini. Anak-anak yang menjadi buruh murah saat itu dilatih untuk menampakkan kualitas hidup yang baik melalui pendidikan spiritual dan etika dan membangun masa depan mereka dengan lebih cerah. Inilah  panggilan gereja saat ini, turut serta menghadirkan nilai spiritual gereja melalui anak-anak sebagai masa depan yang dapat diandalkan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 (Disarikan dari kotbah Pdt. Mulyadi dari GKI Muara Karang, Minggu 4 Oktober 2015

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda