Perjumpaan yang
Menumbuhkan Iman dan Pertobatan
Perjumpaan manusia dengan Allah selalu menimbulkan
dampak yang besar, yaitu suatu perubahan hidup (pertobatan) karena iman yang
dihasilkan dari perjumpaan itu.
Mengapa demikian? Mari kita perhatikan kisah
perjumpaan antara Saulus, murid-murid, dan Petrus dengan Tuhan Yesus.
1.
Saulus sangat tersohor namanya karena perbuatannya
menghabisi orang-orang Kristen (Kisah Para Rasul 9:1-18). Dengan
mengantungi restu dari Imam-Imam Kepala, Saulus pergi ke Damsyik untuk
melaksanakan misinya, membunuhi orang-orang Kristen di sana. Namun Tuhan
memutuskan untuk menemuinya di tengah perjalanan. Apa yang Saudara bayangkan
jika seseorang tertangkap tangan sedang melakukan kejahatan? Ya, hukuman! Dia
pasti akan segera menerima hukuman dan ditempatkan ke tempat yang
penuh ratap tangis dan kertak gigi. Dan ternyata…. ‘tadaaaaaaaa…’ Tuhan
malah menyapa Saulus dengan lembut hati dan bertanya mengapa? Bahkan kepada
Ananias, Tuhan mengatakan bahwa Saulus adalah ‘alat' yang dipilihnya untuk
menjadi pemberita Injil kepada bangsa-bangsa lain. Tindakan
mengampuni yang ditunjukan Allah kepada Saulus mengubah hidup Saulus 180 derajat! Pengampunan
membuat Saulus mengasihi Tuhan dengan segenap hati.
2.
Murid-murid Tuhan memutuskan kembali menjala ikan
(Yohanes 21:1-14). Mereka seolah lupa bahwa Tuhan sudah mengajak mereka untuk
meninggalkan pekerjaan itu dan berganti menjadi ‘Penjala Manusia’. Agaknya
kematian Tuhan tidak membuat mereka bersemangat lagi dalam menjalani panggilan
itu. Eh tapi tunggu dulu…. bukankah Tuhan yang mati itu sudah bangkit dan hidup
kembali, dan Ia sudah menampakkan Diri kepada para murid?
Ya, benar. Namun mereka ini serupa sekumpulan orang yang lamban.
Semangat mereka lamban tumbuh, iman mereka lamban pulih, harapan mereka lamban
untuk pulih. Itulah sebabnya mereka memilih untuk kembali menjadi penjala ikan,
sebab menjadi penjala manusia begitu sulit dilakukan jika tidak ada Sang Guru.
Tentu menggemaskan sekali memiliki seorang murid yang lamban, apalagi ini bisa
dikatakan hampir semua muridNya lamban mengerti! Pantaslah jika Yesus, sebagai
Guru marah dengan kelambanan mereka. Namun sikap Yesus mencengangkan, bagaimana
ia justru menyapa sekumpulan murid lamban itu dengan begitu lembutnya,
menanyakan apakah mereka mempunyai lauk untuk makan, dan bahkan menyiapkan
makanan bagi para muridNya. Kesabaran yang Tuhan tunjukkan
inilah yang membuat iman para murid
bertumbuh kembali. Ia
bersabar bahkan terhadap yang lamban mengerti, terhadap mereka yang lamban bertobat.
3.
Petrus dalam dialognya dengan Tuhan (Yohanes
21:15-19). Soal kata ‘Agape’ yang
dipakai Tuhan dan kata ‘Philea’ yang
dipakai Petrus tidak menjadi perhatian saya kali ini. Tetapi yang menarik dari
dialog ini paling tidak ada dua hal:
a.
Angka 3, Tuhan Yesus bertanya
hingga tiga kali kepada Petrus, apakah Petrus mengasihi Dia? Angka tiga ini
segera mengingatkan saya pada jumlah pengkhianatan yang Petrus lakukan terhadap
Tuhan Yesus. Ya, tiga kali Petrus berkhianat. Beberapa penafsir
mengatakan bahwa Tuhan melakukan itu sebagai sebuah penegasan bahwa Ia
sanggup mengampuni berapa pun banyaknya dan hebatnya dan dalamnya dan kejinya
dosa yang dilakukan manusia terhadap diriNya.
b.
Penugasan
yang diberikan Tuhan kepada Petrus rasanya ganjil. Bagaimana tidak, kita semua
sudah tahu bahwa Petrus adalah seorang nelayan, penjala ikan. Namun Tuhan memberikan tugas untuk menggembalakan
domba-dombanya. Ganjil kan? Tidak nyambung! Nelayan menghabiskan
waktunya di lautan, sedang gembala di padang rumput. Nelayan memperoleh hidup
dari ikan; gembala harus ‘memberi hidup’ bagi keselamatan domba. Sungguh
pekerjaan yang sangat bertolak belakang. Enggak nyambung. Penulis saat mempersiapkan
kotbah ini berusaha untuk
mengerti apa maksud dari pemberian tugas yang ganjil, enggak nyambung.
Ah…. bukankah memang Tuhan menghendaki perubahan hidup seseorang secara menyeluruh, pertobatan yang
totalitas, tidak separuh-separuh! Tugas yang diberikan kepada Petrus di sisi
lain juga menunjukkan keseriusanNya mengampuni Petrus, memberi kesempatan untuk
memperbaiki diri, meski Tuhan harus siap dengan resiko dikecewakan (lagi).
Sudahkah kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan
yang mengampuni, yang bersabar dan mau terus menerus memberi kepercayaan kepada
kita? Jika Ya, semestinya kita sudah mengalami pertobatan dan hidup dengan iman
yang teguh bukan?
(disarikan dari kotbah Pdt. Evelyne Yudiarti
, Minggu 10 April’16, EY)
No comments:
Post a Comment