Friday, April 22, 2016

Ringkasan Khotbah - 10 April 2016

Perjumpaan yang Menumbuhkan Iman dan Pertobatan

Perjumpaan manusia dengan Allah selalu menimbulkan dampak yang besar, yaitu suatu perubahan hidup (pertobatan) karena iman yang dihasilkan dari perjumpaan itu.
Mengapa demikian? Mari kita perhatikan kisah perjumpaan antara Saulus, murid-murid, dan Petrus dengan Tuhan Yesus.
1.        Saulus sangat tersohor namanya karena perbuatannya menghabisi orang-orang Kristen (Kisah Para Rasul 9:1-18). Dengan mengantungi restu dari Imam-Imam Kepala, Saulus pergi ke Damsyik untuk melaksanakan misinya, membunuhi orang-orang Kristen di sana. Namun Tuhan memutuskan untuk menemuinya di tengah perjalanan. Apa yang Saudara bayangkan jika seseorang tertangkap tangan sedang melakukan kejahatan? Ya, hukuman! Dia pasti akan segera menerima hukuman dan ditempatkan ke tempat yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. Dan ternyata…. tadaaaaaaaa… Tuhan malah menyapa Saulus dengan lembut hati dan bertanya mengapa? Bahkan kepada Ananias, Tuhan mengatakan bahwa Saulus adalah ‘alat' yang dipilihnya untuk menjadi pemberita Injil kepada bangsa-bangsa lain. Tindakan mengampuni yang ditunjukan Allah kepada Saulus mengubah hidup Saulus 180 derajat! Pengampunan membuat Saulus mengasihi Tuhan dengan segenap hati.
2.       Murid-murid Tuhan memutuskan kembali menjala ikan (Yohanes 21:1-14). Mereka seolah lupa bahwa Tuhan sudah mengajak mereka untuk meninggalkan pekerjaan itu dan berganti menjadi ‘Penjala Manusia’. Agaknya kematian Tuhan tidak membuat mereka bersemangat lagi dalam menjalani panggilan itu. Eh tapi tunggu dulu…. bukankah Tuhan yang mati itu sudah bangkit dan hidup kembali, dan Ia sudah menampakkan Diri kepada para murid? Ya, benar. Namun mereka ini serupa sekumpulan orang yang lamban. Semangat mereka lamban tumbuh, iman mereka lamban pulih, harapan mereka lamban untuk pulih. Itulah sebabnya mereka memilih untuk kembali menjadi penjala ikan, sebab menjadi penjala manusia begitu sulit dilakukan jika tidak ada Sang Guru. Tentu menggemaskan sekali memiliki seorang murid yang lamban, apalagi ini bisa dikatakan hampir semua muridNya lamban mengerti! Pantaslah jika Yesus, sebagai Guru marah dengan kelambanan mereka. Namun sikap Yesus mencengangkan, bagaimana ia justru menyapa sekumpulan murid lamban itu dengan begitu lembutnya, menanyakan apakah mereka mempunyai lauk untuk makan, dan bahkan menyiapkan makanan bagi para muridNya. Kesabaran yang Tuhan tunjukkan inilah yang membuat  iman para murid bertumbuh kembali. Ia bersabar bahkan terhadap yang lamban mengerti, terhadap mereka yang lamban bertobat.
3.       Petrus dalam dialognya dengan Tuhan (Yohanes 21:15-19). Soal kata ‘Agape’ yang dipakai Tuhan dan kata ‘Philea’ yang dipakai Petrus tidak menjadi perhatian saya kali ini. Tetapi yang menarik dari dialog ini paling tidak ada dua hal:
a.  Angka 3, Tuhan Yesus bertanya hingga tiga kali kepada Petrus, apakah Petrus mengasihi Dia? Angka tiga ini segera mengingatkan saya pada jumlah pengkhianatan yang Petrus lakukan terhadap Tuhan Yesus. Ya, tiga kali Petrus   berkhianat. Beberapa penafsir mengatakan bahwa Tuhan melakukan itu sebagai sebuah penegasan bahwa Ia sanggup mengampuni berapa pun banyaknya dan hebatnya dan dalamnya dan kejinya dosa yang dilakukan manusia terhadap      diriNya.
b.   Penugasan yang diberikan Tuhan kepada Petrus rasanya ganjil. Bagaimana tidak, kita semua sudah tahu bahwa Petrus adalah seorang nelayan, penjala ikan. Namun      Tuhan memberikan tugas untuk menggembalakan domba-dombanya. Ganjil kan? Tidak nyambung! Nelayan menghabiskan waktunya di lautan, sedang gembala di padang rumput. Nelayan memperoleh hidup dari ikan; gembala harus ‘memberi hidup’ bagi keselamatan domba. Sungguh pekerjaan yang sangat bertolak belakang. Enggak nyambung. Penulis saat mempersiapkan kotbah ini berusaha             untuk mengerti apa maksud dari pemberian tugas yang ganjil, enggak nyambung. Ah…. bukankah memang Tuhan menghendaki perubahan hidup seseorang secara             menyeluruh, pertobatan yang totalitas, tidak separuh-separuh! Tugas yang diberikan kepada Petrus di sisi lain juga menunjukkan keseriusanNya mengampuni Petrus, memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, meski Tuhan harus siap dengan resiko dikecewakan (lagi).

Sudahkah kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengampuni, yang bersabar dan mau terus menerus memberi kepercayaan kepada kita? Jika Ya, semestinya kita sudah mengalami pertobatan dan hidup dengan iman yang teguh bukan?

(disarikan dari kotbah Pdt. Evelyne Yudiarti , Minggu 10 April’16, EY) 

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda