Imanmu Telah Menyelamatkan Engkau
2 Raja-raja 5:1-3, 7-15; LUKAS 17:11-19
Kalau kita mau
jujur, apakah kita selalu mengucap syukur akan kesehatan yang Tuhan berikan
kepada kita? Masih ingatkah kita kapan terakhir kita mengucap syukur akan kesehatan?
Kadang kita meremehkan kesehatan, asal tidak sakit ya sudah, kita tidak
mengucap syukur pada Tuhan. Kesehatan adalah hal yang penting dalam kehidupan
manusia, juga bagi seorang yang bernama Naaman.
Naaman
adalah panglima dari kerajaan Aram, dia terhormat dan sangat dikasihi oleh raja
Aram. Namun, sayangnya Naaman sakit kusta. Hal ini sangat mengganggu
kehidupannya. Seorang gadis Israel yang menjadi budaknya memberi tahukan bahwa
ada seorang nabi di Samaria yang dapat menyembuhkan penyakit Naaman. Bagi kita
yang sakit, kita akan melakukan apapun demi kesembuhan kita, demikian juga
Naaman. Sekali pun dia tidak percaya dengan Tuhan Allah Israel, Naaman berjuang
dapat bertemu dengan nabi Elisa, nabi yang dimaksudkan oleh budak
perempuannya itu.
Naaman
membayangkan nabi Elisa akan menyembuhkan dengan cara yang spektakuler. Nabi
Elisa akan berteriak menyebut nama Tuhan, lalu menggerakkan tangannya pada
bagian yang sakit maka kesembuhan terjadi. Naaman memiliki ekspektasi besar
untuk melihat bagaimana kuasa Tuhan terjadi dalam kehidupannya. Namun saat
sampai kepada nabi Elisa, Naaman harus pergi dengan panas hati karena nabi
Elisa menyuruhnya mandi di sungai Yordan tujuh kali. Bagi Naaman itu adalah
sebuah penghinaan, Naaman kecewa.
Seseorang
bisa jatuh dalam sikap seperti Naaman. Menantang Tuhan membuktikan kuasanya
dengan cara yang spektakuler. Tetapi ketika hal itu tiak terjadi, maka kita
meragukan kuasa dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita berkata, “Tuhan kalau
sakitku sembuh, sakit anakku sembuh, aku mau melayani Engkau.” Tetapi ternyata
sakit kita tidak kunjung sembuh, lalu kita meragukan kuasa Tuhan dan
kebaikanNya. Dengan demikian kita telah bersikap seperti Naaman.
Untungnya
Naaman tidak hanya berhenti pada sikap panas hati, dia mendengarkan masukan
dari budaknya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh nabi Elisa. Benar, ketika
selesai mandi tujuh kali di sungai Yordan maka kesembuhan terjadi. Kuasa Tuhan
nyata dalam perkara yang sederhana. Untuk dapat menyaksikan dan merasakan kuasa
Tuhan tidak perlu sebuah peristiwa yang spektakuler untuk meyakinkan iman kita.
Banyak hal sederhana yang di sekeliling hidup kita yang menunjukkan kuasa
Tuhan. Kita bisa bergerak, merasakan kasar halus, bisa mencium harumnya bunga,
mengecap lezatnya masakan, jantung masih berdetak, mata masih dapat berkedip,
dan sebangainya. Hal-hal itu kita rasakan dalam hidup kita, seakan sederhana,
tetapi sesungguhnya itu dapat terjadi oleh karena kuasa Tuhan. Oleh sebab itu
kita harus mengucap syukur.
Belajar
dari kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan. Hanya satu dari sepuluh orang
kusta yang telah disembuhkan oleh Yesus kembali kepada Yesus untuk mengucapkan
syukur padaNya. Hal ini membuktikan, mengucap syukur bukanlah perkara yang
sederhana, melainkan istimewa. Sembilan orang yang lain setelah sembuh terus
berlari menemui imam-imam supaya mereka dinyatakan tahir dan dapat kembali
diterima masyarakat. Mereka hanya pelihat Yesus sebagai pengabul permintaan
mereka, tidak melihat Yesus sebagai Mesias yang menyembuhkan. Hati-hati, kita
bisa juga jatuh pada sikap seperti ini, melihat Yesus sebagai pengabul doa.
Kita datang pada pada Tuhan saat kita butuh, jika sudah dapat, keadaan nyaman
dan tenang kita melupakan Tuhan. Kita perlu belajar dari orang Samaria yang
kembali pada Yesus setelah dia menyadari kesembuhannya. Orang Samaria itu
melihat Yesus sebagai penyembuh, Mesias yang berkuasa. Oleh sebab itu dia
tersungkur dan bersujud di kaki Yesus, dia menyerahkan diriNya pada Yesus. Yesus mengatakan pada orang ini, “Berdirilah,
dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Orang
Samaria datang dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus. Kita dapat belajar arti
mengucap syukur. Kita datang pada Tuhan seharusnya tidak hanya dalam keadaan
sakit dan terpuruk, tapi saat kita sehat, keadaan aman, nyaman, dan tenang kita
pun harus tetap datang pada Yesus dan mengucap syukur atas kehidupan yang dapat
kita rasakan. Iman orang Samaria itu telah menyelamatkannya dan iman yang kita
miliki saat ini dapat menolong kita melihat kuasa Tuhan yang sering kali luput
dari perhatian kita. Rasul Paulus mengatakan, “Mengucap syukurlah dalam segala
hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
(Disarikan dari kotbah Pnt. Adi Netto
Kristanto, 9 Oktober 2016, oleh ank
)
No comments:
Post a Comment