Wednesday, October 19, 2016

Ringkasan Khotbah 09 Oktober 2016

Imanmu Telah Menyelamatkan Engkau
2 Raja-raja 5:1-3, 7-15; LUKAS 17:11-19
Kalau kita mau jujur, apakah kita selalu mengucap syukur akan kesehatan yang Tuhan berikan kepada kita? Masih ingatkah kita kapan terakhir kita mengucap syukur akan kesehatan? Kadang kita meremehkan kesehatan, asal tidak sakit ya sudah, kita tidak mengucap syukur pada Tuhan. Kesehatan adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia, juga bagi seorang yang bernama Naaman.
Naaman adalah panglima dari kerajaan Aram, dia terhormat dan sangat dikasihi oleh raja Aram. Namun, sayangnya Naaman sakit kusta. Hal ini sangat mengganggu kehidupannya. Seorang gadis Israel yang menjadi budaknya memberi tahukan bahwa ada seorang nabi di Samaria yang dapat menyembuhkan penyakit Naaman. Bagi kita yang sakit, kita akan melakukan apapun demi kesembuhan kita, demikian juga Naaman. Sekali pun dia tidak percaya dengan Tuhan Allah Israel, Naaman berjuang dapat bertemu dengan nabi Elisa, nabi yang dimaksudkan oleh budak perempuannya itu.
Naaman membayangkan nabi Elisa akan menyembuhkan dengan cara yang spektakuler. Nabi Elisa akan berteriak menyebut nama Tuhan, lalu menggerakkan tangannya pada bagian yang sakit maka kesembuhan terjadi. Naaman memiliki ekspektasi besar untuk melihat bagaimana kuasa Tuhan terjadi dalam kehidupannya. Namun saat sampai kepada nabi Elisa, Naaman harus pergi dengan panas hati karena nabi Elisa menyuruhnya mandi di sungai Yordan tujuh kali. Bagi Naaman itu adalah sebuah penghinaan, Naaman kecewa.
Seseorang bisa jatuh dalam sikap seperti Naaman. Menantang Tuhan membuktikan kuasanya dengan cara yang spektakuler. Tetapi ketika hal itu tiak terjadi, maka kita meragukan kuasa dan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita berkata, “Tuhan kalau sakitku sembuh, sakit anakku sembuh, aku mau melayani Engkau.” Tetapi ternyata sakit kita tidak kunjung sembuh, lalu kita meragukan kuasa Tuhan dan kebaikanNya. Dengan demikian kita telah bersikap seperti Naaman.
Untungnya Naaman tidak hanya berhenti pada sikap panas hati, dia mendengarkan masukan dari budaknya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh nabi Elisa. Benar, ketika selesai mandi tujuh kali di sungai Yordan maka kesembuhan terjadi. Kuasa Tuhan nyata dalam perkara yang sederhana. Untuk dapat menyaksikan dan merasakan kuasa Tuhan tidak perlu sebuah peristiwa yang spektakuler untuk meyakinkan iman kita. Banyak hal sederhana yang di sekeliling hidup kita yang menunjukkan kuasa Tuhan. Kita bisa bergerak, merasakan kasar halus, bisa mencium harumnya bunga, mengecap lezatnya masakan, jantung masih berdetak, mata masih dapat berkedip, dan sebangainya. Hal-hal itu kita rasakan dalam hidup kita, seakan sederhana, tetapi sesungguhnya itu dapat terjadi oleh karena kuasa Tuhan. Oleh sebab itu kita harus mengucap syukur.
Belajar dari kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan. Hanya satu dari sepuluh orang kusta yang telah disembuhkan oleh Yesus kembali kepada Yesus untuk mengucapkan syukur padaNya. Hal ini membuktikan, mengucap syukur bukanlah perkara yang sederhana, melainkan istimewa. Sembilan orang yang lain setelah sembuh terus berlari menemui imam-imam supaya mereka dinyatakan tahir dan dapat kembali diterima masyarakat. Mereka hanya pelihat Yesus sebagai pengabul permintaan mereka, tidak melihat Yesus sebagai Mesias yang menyembuhkan. Hati-hati, kita bisa juga jatuh pada sikap seperti ini, melihat Yesus sebagai pengabul doa. Kita datang pada pada Tuhan saat kita butuh, jika sudah dapat, keadaan nyaman dan tenang kita melupakan Tuhan. Kita perlu belajar dari orang Samaria yang kembali pada Yesus setelah dia menyadari kesembuhannya. Orang Samaria itu melihat Yesus sebagai penyembuh, Mesias yang berkuasa. Oleh sebab itu dia tersungkur dan bersujud di kaki Yesus, dia menyerahkan diriNya pada Yesus.  Yesus mengatakan pada orang ini, “Berdirilah, dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Orang Samaria datang dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus. Kita dapat belajar arti mengucap syukur. Kita datang pada Tuhan seharusnya tidak hanya dalam keadaan sakit dan terpuruk, tapi saat kita sehat, keadaan aman, nyaman, dan tenang kita pun harus tetap datang pada Yesus dan mengucap syukur atas kehidupan yang dapat kita rasakan. Iman orang Samaria itu telah menyelamatkannya dan iman yang kita miliki saat ini dapat menolong kita melihat kuasa Tuhan yang sering kali luput dari perhatian kita. Rasul Paulus mengatakan, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

(Disarikan dari kotbah Pnt. Adi Netto Kristanto, 9 Oktober 2016, oleh ank )

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda