Friday, November 25, 2016

Ringkasan Khotbah - 20 November 2016

 YESUS KRISTUS RAJA SURGAWI SEJATI

Seorang teolog Kristen Kosuke Koyama mengatakan “No Handle on the Cross” bahwa “Tidak ada Gagang pada Kayu Salib”. Apa artinya?  Dengan adanya gagang atau handle, maka kita bisa menenteng sebuah barang. Tentunya barang yang bisa kita tenteng adalah barang yang ringan. Misalkan tas kita. Namun, untuk barang yang berat, kita tidak dapat menentengnya tapi harus memikulnya. Sama halnya dengan SALIB. Salib harus dipikul tidak bisa ditenteng. Salib adalah penderitaan berat yang harus ditanggung Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Raja kita. Hal inilah yang disaksikan oleh Lukas 23:33-43 yang mengisahkan Penyaliban Yesus.
Yang menarik adalah sikap mulia Tuhan Yesus yang mau mengampuni orang-orang yang sudah melukainya. Banyak pengajaran Tuhan Yesus tentang pengampunan salah satunya kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Yesus tidak hanya berteori, tetapi juga Ia mempraktekkan pengampunan itu kepada mereka yang telah memusuhinya. Ia berdoa kepada Bapa agar mereka semua diampuni. Manakala Yesus mendoakan musuh-musuhnya, musuhnya tidak bertobat malah makin menghina-Nya (Ayat 35-39). Namun, Yesus memberikan teladan yang baik. Ia tetap konsisten dengan ajaran-Nya. Ia tetap mengampuni mereka. Bagaimana dengan kita dan para musuh kita?
Saudaraku, ketika terjadi ledakan bom Molotov di sebuah gereja di Samarinda yang telah menewaskan Intan dan beberapa anak masih dirawat di RS. Salah satu korban yaitu Trinity. Ketika diwawancarai, Keluarga Trinity menyatakan bahwa mereka mengampuni si pelaku. Melalui pengampunan yang diberikan keluarga, kita berharap tidak ada lagi aksi teror. Namun, tidak jaminan juga. Mungkin, aksi terror bisa semakin parah. Sama seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus. Pengampunan yang diberikan, malah membuat musuh-musuhNya makin mengolok-olok dia. Tetapi itulah panggilan kita, yaitu tetap memberikan pengampunan kepada musuh-musuh kita. Diam bukan berarti kalah. Namun di dalam diam dan pengampunan, cahaya sang Raja Surgawi terpancar dalam diri kita.
Seorang yang lain kemudian membela Yesus. Kalau kita pantas dihukum mati, tapi orang ini tidak bersalah. (Ay. 40-41) Apa yang dikatakan oleh orang ini mewakili kita semua. Bahwa seharusnya kitalah yang menanggung sengsara karna dosa-dosa kita. Namun, Yesus yang tidak bersalah menanggung hukuman itu melalui via dolorosa.  Seperti yang diungkapkan dalam Yesaya 53:4:
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika kita sudah menerima keselamatan yang dari Tuhan?
Suatu kali seorang Pemuda bernama Bilal terlibat perkelahian dengan seorang Pemuda bernama Husein di kota Royan, Iran. Bilal kemudian menikam Husein dan akhirnya Husein pun tewas. Bilal pun dipenjara selama 7 tahun dan pada akhirnya dieksekusi mati dengan cara digantung. Harinya pun tiba. Bilal akan digantung. Seperti biasa, seorang terdakwa akan berdiri di sebuah kursi dengan tali yang sudah melingkar di lehernya. Kemudian keluarga dari korban akan menendang kursi yang menjadi pijakan Bilal. Ketika waktunya sudah tiba. Ibunda korban, Samereh tidak juga menendang kursi itu. Malahan ayah dari Husein melepaskan tali yang mengikat lehernya. Mereka pun memeluk Bilal dan berkata, “Kami memaafkanmu.” Akhirnya, eksekusi mati batal dan Bilal hanya menjalani hukuman penjara.
            Mendengar perisitiwa ini, saya mau bertanya, Bagaimanakah kehidupan Bilal selanjutnya? Apakah ia akan mengulangi kesalahannya lagi? Apakah ia akan menjadi pemuda yang nakal? Apakah ia akan terlibat perkelahian lagi? saya yakin tidak. Saya yakin, Bilal akan bertobat.
            Pertanyaan yang sama kepada kita. Jika Tuhan sudah mengampuni kita para PENDOSA dan memberikan anugerah hidup yang kekal kepada kita, apa yang seharusnya kita lakukan saat ini? Sama seperti Bilal, seharusnya ada perubahan yang terjadi di dalam kehidupan kita.

Saudaraku, biarlah pada minggu Kristus Raja ini, kita diingatkan kembali:
-          Bahwa Yesuslah Raja yang menderita
-     Sebagai pengikut-Nya marilah kita mengikuti teladan Yesus sang Raja Surgawi, memikul salib kita sampai Ia datang ke dua kali.
Menutup perenungan ini, saya mau mengutip perkataan Billy Graham,
“Keselamatan itu Gratis, tetapi untuk menjadi seorang Murid, ada harga yang harus dibayar mahal.”
Selamat mengikuti jejak Yesus sang Raja Sorgawi. Amin.

 (Disarikan dari kotbah Pdt. Daud Chevi Naibaho GKI Kepa Duri,   Minggu, 20 November 2016 oleh DCN) 

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda