YESUS KRISTUS RAJA SURGAWI
SEJATI
Seorang teolog Kristen Kosuke Koyama mengatakan “No Handle on the Cross” bahwa
“Tidak ada Gagang pada Kayu Salib”. Apa artinya? Dengan adanya gagang atau handle, maka kita
bisa menenteng sebuah barang. Tentunya barang yang bisa kita tenteng adalah
barang yang ringan. Misalkan tas kita. Namun, untuk barang yang berat, kita
tidak dapat menentengnya tapi harus memikulnya. Sama halnya dengan SALIB. Salib
harus dipikul tidak bisa ditenteng. Salib adalah penderitaan berat yang harus
ditanggung Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Raja kita. Hal inilah yang disaksikan oleh Lukas
23:33-43 yang mengisahkan Penyaliban Yesus.
Yang menarik adalah sikap mulia Tuhan Yesus yang mau mengampuni
orang-orang yang sudah melukainya. Banyak pengajaran Tuhan Yesus tentang
pengampunan salah satunya kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang
menganiaya kamu. Yesus tidak hanya berteori, tetapi juga Ia mempraktekkan
pengampunan itu kepada mereka yang telah memusuhinya. Ia berdoa kepada Bapa
agar mereka semua diampuni. Manakala Yesus
mendoakan musuh-musuhnya, musuhnya tidak bertobat malah makin menghina-Nya
(Ayat 35-39). Namun, Yesus memberikan teladan yang baik. Ia tetap konsisten
dengan ajaran-Nya. Ia tetap mengampuni mereka. Bagaimana dengan kita dan para
musuh kita?
Saudaraku, ketika terjadi ledakan bom Molotov di sebuah gereja di
Samarinda yang telah menewaskan Intan dan beberapa anak masih dirawat di RS.
Salah satu korban yaitu Trinity. Ketika diwawancarai, Keluarga Trinity menyatakan
bahwa mereka mengampuni si pelaku. Melalui pengampunan yang diberikan keluarga,
kita berharap tidak ada lagi aksi teror. Namun, tidak jaminan juga. Mungkin,
aksi terror bisa semakin parah. Sama seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus. Pengampunan yang diberikan, malah membuat musuh-musuhNya makin
mengolok-olok dia. Tetapi itulah panggilan kita, yaitu tetap memberikan
pengampunan kepada musuh-musuh kita. Diam bukan berarti kalah. Namun di dalam
diam dan pengampunan, cahaya sang Raja Surgawi terpancar dalam diri kita.
Seorang yang lain kemudian membela Yesus. Kalau kita pantas dihukum
mati, tapi orang ini tidak bersalah. (Ay. 40-41) Apa yang dikatakan oleh orang
ini mewakili kita semua. Bahwa seharusnya kitalah yang menanggung sengsara
karna dosa-dosa kita. Namun, Yesus yang tidak bersalah menanggung hukuman itu
melalui via dolorosa. Seperti yang
diungkapkan dalam Yesaya 53:4:
Tetapi sesungguhnya,
penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,
padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
Lalu, apa yang harus
kita lakukan ketika kita sudah menerima keselamatan yang dari Tuhan?
Suatu kali seorang Pemuda bernama Bilal terlibat perkelahian dengan
seorang Pemuda bernama Husein di kota Royan, Iran. Bilal kemudian menikam
Husein dan akhirnya Husein pun tewas. Bilal pun dipenjara selama 7 tahun dan
pada akhirnya dieksekusi mati dengan cara digantung. Harinya pun tiba. Bilal
akan digantung. Seperti biasa, seorang terdakwa akan berdiri di sebuah kursi
dengan tali yang sudah melingkar di lehernya. Kemudian keluarga dari korban
akan menendang kursi yang menjadi pijakan Bilal. Ketika waktunya sudah tiba.
Ibunda korban, Samereh tidak juga menendang kursi itu. Malahan ayah dari Husein
melepaskan tali yang mengikat lehernya. Mereka pun memeluk Bilal dan berkata,
“Kami memaafkanmu.” Akhirnya, eksekusi mati batal
dan Bilal hanya menjalani hukuman penjara.
Mendengar perisitiwa ini, saya mau
bertanya, Bagaimanakah kehidupan Bilal selanjutnya? Apakah ia akan
mengulangi kesalahannya lagi? Apakah ia akan menjadi pemuda yang nakal? Apakah
ia akan terlibat perkelahian lagi? saya yakin tidak. Saya yakin, Bilal akan
bertobat.
Pertanyaan yang sama kepada kita.
Jika Tuhan sudah mengampuni kita para PENDOSA dan memberikan anugerah hidup
yang kekal kepada kita, apa yang seharusnya kita lakukan saat ini? Sama seperti
Bilal, seharusnya ada perubahan yang terjadi di dalam kehidupan kita.
Saudaraku, biarlah
pada minggu Kristus Raja ini, kita diingatkan kembali:
-
Bahwa Yesuslah Raja
yang menderita
- Sebagai pengikut-Nya marilah kita mengikuti teladan Yesus sang Raja
Surgawi, memikul salib kita sampai Ia datang ke dua kali.
Menutup perenungan
ini, saya mau mengutip perkataan Billy
Graham,
“Keselamatan itu Gratis, tetapi untuk menjadi seorang Murid, ada harga
yang harus dibayar mahal.”
Selamat mengikuti jejak Yesus sang Raja Sorgawi. Amin.
(Disarikan
dari kotbah Pdt. Daud Chevi Naibaho GKI Kepa Duri, Minggu,
20 November 2016 oleh DCN)
No comments:
Post a Comment