ALLAH YANG MENDEKAT
(Yohanes
1:1-14)
Kita mengenal legenda Malin Kundang
dari Minangkabau. Malin Kundang yang sesudah merantau dan menjadi kaya raya
lalu pulang ke kampung halaman menjadi tersohor. Banyak orang yang
mengelu-elukannya, termasuk di antaranya seorang ibu yang sudah renta dari satu
desa, ibu kandungnya sendiri. Memang
keterlaluan, Malin Kundang tidak mau menerima ibu kandungnya apalagi
mengakuinya sebagai ibu kandung. Ia mengusir ibu kandungnya yang miskin pergi
dan si ibu mengutuki Malin Kundang karena sikap durhakanya ini. Ibunya murka
berat dan mengutuki Malin Kundang menjadi batu. Jadilah demikian.
Dalam bahasa yang sederhana Allah,
melalui Anak-Nya, Yesus Kristus yang adalah Firman yang menjadi manusia, datang
kembali kepada mahluk yang pernah diciptakan oleh Sang Bapa, yakni dunia ini
dengan manusia yang mendiaminya tetapi dunia menolaknya. Dunia yang sudah
dirasuki dosa, bukan hanya melenceng dari tujuan diciptakannya dunia tetapi
malahan melawan Allah yang menciptakan-Nya dan berjalan menuju kebinasaan.
Tidak seperti Ibu Kanduang si Malin
Kundang yang membalas sikap durhaka anak kandungnya dengan pergi dan
mengutuknya menjadi batu maka Allah justru datang mendekat, dan bukan hanya
mendekat melainkan berinkarnasi menjadi manusia. Sikap Tuhan ini sekaligus
menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang berdaulat penuh tetapi sekaligus sikap yang
tetap menghargai dan menghormati manusia ciptaan-Nya. Ia tidak hanya “bergerak
mendekat” tetapi dalam intensitas yang mendalam Ia ‘mengidentifikasikan diri’
atau Ibrani 4:15 memakai kata
‘sympathèsai’ – ‘ikut merasakan sendiri’ semua hal buruk yang dialami oleh
orang yang beriman kepada Kristus dan pembedanya hanyalah bahwa Ia tidak
berbuat dosa. Dan satu-satunya motif untuk tidakan-Nya ini adalah ‘kasih’ yang tanpa pamrih dan dijalani
dengan ikhlas serta rela. Ia tidak rela mahluk ciptaan-Nya itu hancur binasa
sebagai akibat berbuat dosa dan melawan Bapa-Nya dan tidak hendak juga
mencampakkan-Nya agar semua tingkah polah jahat dunia itu berhenti.
Mari kita gunakan kesempatan baik
dari Tuhan untuk memeriksa diri dan menggunakan kesempatan baik Allah mendekat
seperti Yesaya menyerukannya:
Carilah TUHAN selama Ia berkenan
ditemui;
berserulah kepada-Nya selama Ia
dekat!
Baiklah orang fasik meninggalkan
jalannya,
dan orang jahat meninggalkan
rancangannya;
baiklah ia kembali kepada TUHAN
maka Dia akan mengasihani-Nya,
dan kepada Allah kita
sebab Ia memberi pengampunan dengan
limpahnya!
(Yesaya 55:6-7)
(disarikan dari kotbah Pdt. Em. Samuel Santoso
Minggu 25 Desember 2016, oleh ss)
No comments:
Post a Comment