KORBAN
KRISTUS YANG SEMPURNA MENJADI DASAR KEPERCAYAAN
UMAT TUHAN
Ibrani 9:24-28
Kalau kita membaca kitab Imamat di Perjanjian Lama maka
kita menemukan tujuh pasal yang terdiri
dari seratus lima puluh lima ayat dan sepuluh jenis korban harus dilaksanakan
oleh umat Israel dan semuanya harus dijalankan dalam detil yang sempurna dengan
persyaratan-persyaratan maksimal agar korban berkenan kepada Tuhan. Untuk apa?
Hakikatnya persembahan korban dilakukan demi pulihnya relasi antara umat dengan
Tuhan.
Dalam rumusan yang sederhana adalah supaya perjanjian anugerah ‘Aku akan
menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku’
terwejawantahkan. Bila hal itu terjadi maka hidup umat terjamin jasmani
rohani, dunia akhirat, material dan spiritual. Dosa, kekotoran hidup,
kesalahan, sikap tidak benar terhadap Tuhan bisa menjadi halangan setiap saat
yang membuat jaminan ini tidak terwujud dan tidak mungkin terwujud. Secermat-cermatnya seorang menyiapkan hewan
korban tidak pernah bisa menghilangkan semua kekotorannya. Imamnya? Imamnya
juga sama, ia sendiri mesti menyucikan diri supaya ia layak mempersembahkan
korban bagi Tuhan. Nah, jika demikian halnya apakah korban yang dituntut dari
fihak manusia bisa sempurna? Jawabnya pasti. Tidak bisa.
Yang bisa? Jawabnya juga jelas. Yang
bukan dari dunia dan manusia, artinya yang dari sorga dan dari Allah sendiri.
Bagi penulis surat Ibrani yang fasih sekali dengan keimaman Perjanjian Lama
menyatakan bahwa Korban yang sempurna dan Imam yang sempurna itu ada pada satu
sosok pribadi saja sekaligus yakni Yesus Kristus.
Ia dari sorga dan dari Allah
sendiri dan dia masuk ke kemah sembayang yang manusiawi dan duniawi yang sudah
mencoba sekeras mungkin agar bisa sempurna dan, dengan demikian berkenan kepada
Tuhan, tetapi tidak pernah bisa. Karena yang manusiawi dan duniawi tidak bisa
sempurna meski pun berulangkali dilaksanakan tidak begitu dengan yang sorgawi
dan ilahi, satu kali dan untuk selamanya, once
and forever tidak menekankan pada peristiwanya tetapi terutama dampak dari
pengorbanan hidup Sang Imam yang sejati itu.
Jaminan Allah atas hidup umat kembali lagi. Umat ditebus, Sang Penebus
adalah Anak Allah sendiri. Korban yang sempurna Yesus Kristus ini.
Sorga sudah dibuka lagi bagi kita.
Tangan Allah yang terbuka siap menerima dan mendekap kita dalam pelukan
kasih-Nya. Perjanjian Anugerah dari Allah, “Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu
akan menjadi umat-Ku” digenapi sempurna. Hidup sejahtera dipulihkan malahan
bukan hanya bagi umat Allah bahkan bagi bangsa-bangsa lain. Rut yang orang Moab
itu dihisabkan dalam karya penebusan Tuhan lewat Boaz.
Sang Imam Agung yang sekaligus
menjadi Sang Korban, meski pun sama dengan janda miskin yang mempersembahkan
dua sheke. Sudah memilih dengan sadar mempersembahkan seluruh hidup dan
mati-Nya sebagai Persembahan Korban yang sempurna. Yang bisa sempurna hanya Dia
dan kebenaran ini mesti ditanggapi secara pantas dengan memberikan persembahan
yang – seharusnya – sama tetapi cukup optimal saja dan keikutsertaan secara
tulus dan ikhlas dalam pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Tidak ada jasa kita yang bisa
kita banggakan dan oleh karenanya Tuhan mesti mengasihi dan memperhatikan kita
bahkan menyejahterakan kita. Jesus said: “Not
you and yours but I” Keikutsertaan
pada pekerjaan Tuhan semata-mata demi kemuliaan-Nya belaka.
(disarikan dari
Kotbah Pdt. Samuel Santoso, Minggu 8 November 2015 oleh ss)
No comments:
Post a Comment