Siap
Ditampi oleh Penghakiman – Nya
Masa Adven ketiga
dari empat minggu penantian punya nuansa kegembiraan, sebab pengharapan umat
akan pertolongan Allah mulai menyala. Dalam tradisi gereja, lilin adven pertama
dan kedua berwarna ungu, namun pada Adven ketiga lilin-nya berwarna merah muda.
Ini menjadi sebuah pertanda bahwa pengharapan mendatangkan sukacita. Pada adven
ini kita mempersiapkan diri untuk menyambut Kristus dalam dunia dan dalam hati
kita.
Konsep ini sangat
dekat dengan gagasan Zefanya tentang Tuhan, Allahmu ada di antaramu sebagai
pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita,
Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan
sorak-sorai (Zefanya 3:17) Hal yang senada juga diungkapkan dalam Yesaya
12:2-6. Umat diajak tak hanya terpaku pada derita, namun juga merayakan dengan
penuh pengharapan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka. Demikian juga Filipi
4:4-7, kedatangan Tuhan yang sudah dekat dikaitkan dengan panggilan memancarkan
kebaikan hati dalam sukacita dan damai sejahtera Kristus.
Jalan masuk ke
dalam sukacita itu adalah pertobatan. Karena itu pertobatan-lah yang diserukan
oleh Yohanes Pembaptis agar kita dapat menyambut Kristus Sang Penyelamat.
Penekanannya adalah pertobatan yang diwarnai oleh pengharapan akan kedatangan
Tuhan. Natal sebagai perayaan inkarnasi Tuhan Yesus perlu dipersiapkan terlebih
dahulu pada masa adven merupan masa peringatan akan penghiburan yang diberikan
Tuhan dan kesempatan di mana kita menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan.
Allah selalu
menginginkan umat-nya untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya.
Perayaan Adven itu merupakan peringatan akan masa persiapan menyambut kelahiran
Kristus dalam kedatangan-Nya yang pertama, dan penegasan masa penantian akan
kedatangan Kristus yang kedua. Dimensi mengingat dan menanti ini bisa menjadi
sarana reflektif dan korektif tentang kontribusi imankita bagi kehidupan.
Sejatinya
keterbukaan terhadap seruan pertobatan dan kritik Yohanes Pembaptis merupakan
cerminan siap atau tidaknya kita hidup dalam Kristus. Seandainya kita gerah,
dan menolak Yohanes pembaptis, maka kemungkinan besar kita juga akan menolak
Yesus. Pembawaan nyentrik dan seruan kenabian yang satir menuntut umat untuk
punya kontribusi bagi kehidupan. Sedangkan kesederhanaan ala kandang domba
Yesus dan karya pendamaian-Nya yang menembus batas menuntut iman, penyangkalan
diri, dan kesetiaan memikul salib. Posisi tak boleh mengalahkan kontribusi. Di
tengah situasi hidup yang penuh tantangan, tekanan ekonomi yang tak kunjung
reda, krisis multidimensional yang melanda Indonesia, belum lagi berbagai
persoalan menggurita di keluarga-keluarga dan gereja, menantang kita untuk
menapaki jalan adven, iman harus menjawab tantangan zaman. Dengan demikian
Natal akan disambut dengan sukacita dalam seluruh hati dan pikiran gereja dan
masyarakat, dan kedatangan Kristus yang kedua disambut dengan pengaharapan,
bukan ketakutan akan hukuman. Kapan pun Tuhan menampi kita dengan
penghakiman-Nya, kita telah siap, sebab kita punya yang berkontribusi bagi
kemuliaan nama-Nya.
(diambil
dari buku Dian Penuntun edisi 21 hal. 17-19)
No comments:
Post a Comment