Friday, December 18, 2015

Ringkasan Khotbah - 13 Desember 2015

Siap Ditampi oleh Penghakiman – Nya

Masa Adven ketiga dari empat minggu penantian punya nuansa kegembiraan, sebab pengharapan umat akan pertolongan Allah mulai menyala. Dalam tradisi gereja, lilin adven pertama dan kedua berwarna ungu, namun pada Adven ketiga lilin-nya berwarna merah muda. Ini menjadi sebuah pertanda bahwa pengharapan mendatangkan sukacita. Pada adven ini kita mempersiapkan diri untuk menyambut Kristus dalam dunia dan dalam hati kita.
Konsep ini sangat dekat dengan gagasan Zefanya tentang Tuhan, Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai (Zefanya 3:17) Hal yang senada juga diungkapkan dalam Yesaya 12:2-6. Umat diajak tak hanya terpaku pada derita, namun juga merayakan dengan penuh pengharapan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka. Demikian juga Filipi 4:4-7, kedatangan Tuhan yang sudah dekat dikaitkan dengan panggilan memancarkan kebaikan hati dalam sukacita dan damai sejahtera Kristus.
Jalan masuk ke dalam sukacita itu adalah pertobatan. Karena itu pertobatan-lah yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis agar kita dapat menyambut Kristus Sang Penyelamat. Penekanannya adalah pertobatan yang diwarnai oleh pengharapan akan kedatangan Tuhan. Natal sebagai perayaan inkarnasi Tuhan Yesus perlu dipersiapkan terlebih dahulu pada masa adven merupan masa peringatan akan penghiburan yang diberikan Tuhan dan kesempatan di mana kita menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan.
Allah selalu menginginkan umat-nya untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Perayaan Adven itu merupakan peringatan akan masa persiapan menyambut kelahiran Kristus dalam kedatangan-Nya yang pertama, dan penegasan masa penantian akan kedatangan Kristus yang kedua. Dimensi mengingat dan menanti ini bisa menjadi sarana reflektif dan korektif tentang kontribusi imankita bagi kehidupan.
Sejatinya keterbukaan terhadap seruan pertobatan dan kritik Yohanes Pembaptis merupakan cerminan siap atau tidaknya kita hidup dalam Kristus. Seandainya kita gerah, dan menolak Yohanes pembaptis, maka kemungkinan besar kita juga akan menolak Yesus. Pembawaan nyentrik dan seruan kenabian yang satir menuntut umat untuk punya kontribusi bagi kehidupan. Sedangkan kesederhanaan ala kandang domba Yesus dan karya pendamaian-Nya yang menembus batas menuntut iman, penyangkalan diri, dan kesetiaan memikul salib. Posisi tak boleh mengalahkan kontribusi. Di tengah situasi hidup yang penuh tantangan, tekanan ekonomi yang tak kunjung reda, krisis multidimensional yang melanda Indonesia, belum lagi berbagai persoalan menggurita di keluarga-keluarga dan gereja, menantang kita untuk menapaki jalan adven, iman harus menjawab tantangan zaman. Dengan demikian Natal akan disambut dengan sukacita dalam seluruh hati dan pikiran gereja dan masyarakat, dan kedatangan Kristus yang kedua disambut dengan pengaharapan, bukan ketakutan akan hukuman. Kapan pun Tuhan menampi kita dengan penghakiman-Nya, kita telah siap, sebab kita punya yang berkontribusi bagi kemuliaan nama-Nya.

(diambil dari buku Dian Penuntun edisi 21 hal. 17-19)


No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda