Friday, December 18, 2015

Ringkasan Khotbah - 6 Desember 2015

Membarui Diri Menjelang Zaman Akhir

Di masyarakat kita ada dikenal predikat ‘taat beribadah’ kepada sementara orang. Tetapi predikat itu biasanya hanya dikaitkan dengan  melakukan aturan-aturan formal yang bersangkut paut dengan agama dan “sorga” saja namun tidak berdampak dalam kehidupan praksis sehari-hari yang baik.

Mau ke tempat ibadah pada jam yang tepat nrabas bikin contra flow lalu lintas, gak pakai helm, satu motor bebek bertiga gak papa, sebab yang belakang ini dianggap tidak ada urusannya dengan sorga.

Mau kebaktian bangun kesiangan karena tengah malam minggu nonton bal-balan Inggris, telat nyampe gereja lalu parkir mobil di muka pintu rumah tetangga gereja dan kemudian jadi perkara.

“Taat beribadah” semacam  ini dilakukan lagi oleh Israel karena mereka menganggap Allah tidak hadir di dalam kehidupan mereka lalu mereka memperlakukan Allah asal-asalan dan seadanya saja. Mereka tidak belajar dari peristiwa nenek moyang mereka yang dibuang oleh Tuhan ke Babel. Mereka merasa Allah tidak menghiraukan   mungkin lebih tepat ‘hidup mereka kurang nyaman’ dan ‘merasa mengalami kesusahan’ sehingga mereka berbuat asal-asalan – beribadah dengan cara yang sembrono.

Namun apa yang diperbuat oleh Allah? Masa kelam Israel tidak mengurungkan niat Allah untuk tetap menghadirkan kesejahteraan bagi umat-Nya. Allah masih berkenan mengirimkan nabi-Nya untuk menyampaikan kabar baik bagi Israel. Kabar tentang penebusan – pentahiran dari dosa-dosa yang sudah diperbuat oleh Israel.

Janji Tuhan itu tidak begitu saja direalisasikan karena Tuhan ingin umat juga mengambil pilihan dan bertanggungjawab. Kesejahteraan pasti diberikan dan dipulihkan tetapi ada yang lebih dulu mesti dilakukan oleh umat yakni melakukan REORIENTASI KEHIDUPAN ini, dari EGOSENTRIS MENJADI TEOSENTRIS.

Reorientasi kehidupan yang dimulai dari dalam diri manusia. Nous – akal budi – pusat hidup manusia, kalau orang Ibrani menyebutnya ‘lev’ – hati, pusat segala pertimbangan manusia. Perubahan tampak luar itu jadi akibat atau dampak karena perubahan yang di dalam. Re-orientasi tujuan hidup kita barangkali. bukan sekedar hidup nyaman, enak dan kepenak tetapi supaya menjadi berguna dan bernilai.

Kedatangan Kristus yang pertama menyatakan apa yang seharusnya terjadi dan dimulai dengan kasih karunia REORIENTASI adalah soal masa kini dalam rangka persiapan untuk kedatangan Kristus kembali sebagai Raja dan Hakim. Kita semua sekarang sudah tahu standar atau norma yang akan dipakai sebagai tolok ukur untuk penghakiman di akhir zaman nanti.

BAPTIS ANAK.
Reorientasi juga berlaku atas kita terhadap anak-anak atau generasi penerus kita. Harta yang paling bernilai yang kita nanti-nantikan, iya, buah hati iya, tetapi ingat kita tidak boleh posesif karena Tuhan punya rencana sendiri untuk anak-Nya yang dititipkan kepada kita.  Zakharia sadar betul pada hal itu karena itu dia relakan, serahkan anak-Nya bahkan bukan untuk menjadi orang utama melainkan pembuka jalan saja bagi Kristus dan yang sesudah itu dilupakan orang.



(disarikan dari kotbah Pdt. Em. Samuel Santoso, Minggu, 6 Desember 2015, SS)

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda