Membarui Diri Menjelang Zaman Akhir
Di masyarakat kita ada dikenal
predikat ‘taat beribadah’ kepada sementara orang. Tetapi predikat itu biasanya
hanya dikaitkan dengan melakukan
aturan-aturan formal yang bersangkut paut dengan agama dan “sorga” saja namun
tidak berdampak dalam kehidupan praksis sehari-hari yang baik.
Mau ke tempat ibadah pada jam
yang tepat nrabas bikin contra flow lalu lintas, gak
pakai helm, satu motor bebek bertiga gak
papa, sebab yang belakang ini dianggap tidak ada urusannya dengan sorga.
Mau kebaktian bangun kesiangan
karena tengah malam minggu nonton
bal-balan Inggris, telat nyampe gereja lalu parkir mobil di muka pintu
rumah tetangga gereja dan kemudian jadi perkara.
“Taat beribadah” semacam ini dilakukan lagi oleh Israel karena mereka
menganggap Allah tidak hadir di dalam kehidupan mereka lalu mereka
memperlakukan Allah asal-asalan dan seadanya saja. Mereka tidak belajar dari
peristiwa nenek moyang mereka yang dibuang oleh Tuhan ke Babel. Mereka merasa
Allah tidak menghiraukan mungkin lebih tepat ‘hidup mereka kurang
nyaman’ dan ‘merasa mengalami kesusahan’ sehingga mereka berbuat asal-asalan –
beribadah dengan cara yang sembrono.
Namun apa yang diperbuat oleh
Allah? Masa kelam Israel tidak mengurungkan niat Allah untuk tetap menghadirkan
kesejahteraan bagi umat-Nya. Allah masih berkenan mengirimkan nabi-Nya untuk
menyampaikan kabar baik bagi Israel. Kabar tentang penebusan – pentahiran dari
dosa-dosa yang sudah diperbuat oleh Israel.
Janji Tuhan itu tidak begitu saja
direalisasikan karena Tuhan ingin umat juga mengambil pilihan dan
bertanggungjawab. Kesejahteraan pasti diberikan dan dipulihkan tetapi ada yang
lebih dulu mesti dilakukan oleh umat yakni melakukan REORIENTASI KEHIDUPAN ini,
dari EGOSENTRIS MENJADI TEOSENTRIS.
Reorientasi
kehidupan yang dimulai dari dalam diri manusia. Nous – akal budi – pusat hidup manusia, kalau orang Ibrani
menyebutnya ‘lev’ – hati, pusat
segala pertimbangan manusia. Perubahan tampak luar itu jadi akibat atau dampak
karena perubahan yang di dalam. Re-orientasi tujuan hidup kita barangkali.
bukan sekedar hidup nyaman, enak dan kepenak tetapi supaya menjadi berguna dan
bernilai.
Kedatangan
Kristus yang pertama menyatakan apa yang seharusnya terjadi dan dimulai dengan
kasih karunia REORIENTASI adalah soal masa kini dalam rangka persiapan untuk
kedatangan Kristus kembali sebagai Raja dan Hakim. Kita semua sekarang sudah
tahu standar atau norma yang akan dipakai sebagai tolok ukur untuk penghakiman
di akhir zaman nanti.
BAPTIS ANAK.
Reorientasi
juga berlaku atas kita terhadap anak-anak atau generasi penerus kita. Harta
yang paling bernilai yang kita nanti-nantikan, iya, buah hati iya, tetapi ingat
kita tidak boleh posesif karena Tuhan punya rencana sendiri untuk anak-Nya yang
dititipkan kepada kita. Zakharia sadar
betul pada hal itu karena itu dia relakan, serahkan anak-Nya bahkan bukan untuk
menjadi orang utama melainkan pembuka jalan saja bagi Kristus dan yang sesudah
itu dilupakan orang.
(disarikan
dari kotbah Pdt. Em. Samuel Santoso, Minggu, 6 Desember 2015, SS)
No comments:
Post a Comment