Sunday, March 20, 2016

Ringkasan Khotbah - 13 Mar 2016


JALAN BARU DALAM PERTOBATAN
(Yohanes 12:1-12)

Bertobatmetanoia (Yun) – meliputi tindakan-tindakan (1) menyadari kesalahan atau dosa yang sudah dilakukan, (2) mengakui kesalahan atau dosa tersebut, (3) minta ampun atau maaf untuk kesalahan atau dosa yang telah dibuat kepada Tuhan atau sesama, (4) berbalik mengambil jalan yang seharusnya, dan (5) melakukan apa yang benar yang seharusnya dilakukan. Kalau begitu jelas maksudnya bahwa ‘bertobat’ itu adalah satu keputusan yang bermuara dalam tindakan yang tadinya berdosa – dan kalau berdosa selalu ‘egoistis’ dan ‘egosentris’, terarah kepada ‘aku’ dengan segala kepentingannya  - maka bertobat, berbalik ke arah yang benar artinya ‘teosentris’ atau ‘kristosentris’ – terarah kepada Tuhan atau terarah kepada Kristus yang ujungnya adalah Tuhan juga. Hidup yang terarah kepada Tuhan pasti baik, bukan hanya bagi Tuhan, tetapi kemudian kita bisa bersikap benar terhadap sesama dan diri kita sendiri.

Dalam hidup beragama, salah satu yang harus selalu diperiksa, dicermati serta diteliti adalah MOTIF atau MOTIVASI kita beragama atau menjalani tindakan beriman kepada Tuhan. Motif atau Motivasi berasal dari kata Latin ‘movere’ yang artinya ‘bergerak’. Motif atau motivasi artinya ‘yang menggerakkan’ atau ‘niat’ yang ada dalam hati. Apakah motif kita melayani, terlibat dalam berbagai kegiatan gereja, atau malahan bekerja dalam profesi kita masing-masing sudah teosentris – tertuju kepada Tuhan – dan sudah tidak lagi egois dan egosentris – tertuju kepada kepentingan AKU dengan segala kemauannya?.

Maria menjadi contoh yang teosentris sedangkan Yudas Iskariot yang egosentris. Maria melakukan tindak iman yang simbolik dan dramatis. Menuang minyak bernilai sangat mahal ‘hanya’ di kaki Yesus lalu menyeka kaki itu ‘hanya’ dengan rambut kepalanya. Tindak simbolik yang menggambarkan motivasi apa? Pastilah bersyukur dan berterimakasih. Pastilah menyatakan siapa dirinya dibandingkan dengan Tuhan, kerendahan. Ia sama sekali tidak sebanding dengan Yesus dalam semua hal. Yang paling berharga baginya hanya cukup buat kaki Yesus saja. Semua dia lakukan dengan niat yang tulus dan bersungguh-sungguh tanpa pamrih-pamrih apa pun. Dia mengurapi kaki Yesus tidak dalam rangka mengharapkan atau meminta sesuatu dari Tuhan. Bagaimana dengan Yudas Iskariot. Kelihatannya kritiknya telak banget. Tiga ratus dinar bisa buat beli sembako dan lain-lain bagi orang-orang miskin. Kalimatnya sangat saleh, kelihatannya humanistis – berperikemanusiaan, dan luhur. Tetapi Yohanes, teman satu kelompok murid-murid Kristus menyatakan dengan gamblang motif  Yudas Iskariot. Ia mau mengkorup uang itu kalau uang senilai itu diserahkan kepadanya. Ia pencuri, jadi sangat egoistis dan egosentris tetapi dibungkus dengan kalimat yang kelihatan saleh. Yudas Iskariot mesti ‘bertobat’. Boleh saja setiap hari bersama-sama dengan Yesus secara fisik dan menjadi muridnya, tetapi ‘akal budi’ (nous) atau ‘hati’ (lèv), belum tertuju kepada Tuhan pasti nanti tindakannya tidak berguna dan tidak menyejahterakan serta tidak memuliakan Tuhan.

Masih ada waktu dua minggu sebelum paska bagi kita untuk bertobat secara total dan bukan hanya parsial, mulai dari ‘akal budi’ (nous) atau ‘hati’ (lèv) sampai dengan sikap dan tingkah laku supaya nyata bahwa kita menghargai pengorbanan Kristus yang total itu. Mari kita pakai.

 (disarikan dari kotbah Pdt. Em. Samuel Santoso , Minggu, 13 Mar’16, oleh SS

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda