JALAN BARU
DALAM PERTOBATAN
(Yohanes
12:1-12)
Bertobat – metanoia (Yun) – meliputi tindakan-tindakan (1) menyadari kesalahan
atau dosa yang sudah dilakukan, (2) mengakui kesalahan atau dosa tersebut, (3)
minta ampun atau maaf untuk kesalahan atau dosa yang telah dibuat kepada Tuhan
atau sesama, (4) berbalik mengambil jalan yang seharusnya, dan (5) melakukan
apa yang benar yang seharusnya dilakukan. Kalau begitu jelas maksudnya bahwa
‘bertobat’ itu adalah satu keputusan yang bermuara dalam tindakan yang tadinya
berdosa – dan kalau berdosa selalu ‘egoistis’ dan ‘egosentris’, terarah kepada
‘aku’ dengan segala kepentingannya -
maka bertobat, berbalik ke arah yang benar artinya ‘teosentris’ atau
‘kristosentris’ – terarah kepada Tuhan atau terarah kepada Kristus yang
ujungnya adalah Tuhan juga. Hidup yang terarah kepada Tuhan pasti baik, bukan
hanya bagi Tuhan, tetapi kemudian kita bisa bersikap benar terhadap sesama dan
diri kita sendiri.
Dalam hidup beragama, salah satu yang harus selalu
diperiksa, dicermati serta diteliti adalah MOTIF atau MOTIVASI kita beragama
atau menjalani tindakan beriman kepada Tuhan. Motif atau Motivasi berasal dari
kata Latin ‘movere’ yang artinya
‘bergerak’. Motif atau motivasi artinya ‘yang menggerakkan’ atau ‘niat’ yang ada
dalam hati. Apakah motif kita melayani, terlibat dalam berbagai kegiatan
gereja, atau malahan bekerja dalam profesi kita masing-masing sudah teosentris
– tertuju kepada Tuhan – dan sudah tidak lagi egois dan egosentris – tertuju
kepada kepentingan AKU dengan segala kemauannya?.
Maria menjadi contoh yang teosentris sedangkan Yudas
Iskariot yang egosentris. Maria melakukan tindak iman yang simbolik dan
dramatis. Menuang minyak bernilai sangat mahal ‘hanya’ di kaki Yesus lalu
menyeka kaki itu ‘hanya’ dengan rambut kepalanya. Tindak simbolik yang
menggambarkan motivasi apa? Pastilah bersyukur dan berterimakasih. Pastilah
menyatakan siapa dirinya dibandingkan dengan Tuhan, kerendahan. Ia sama sekali
tidak sebanding dengan Yesus dalam semua hal. Yang paling berharga baginya
hanya cukup buat kaki Yesus saja. Semua dia lakukan dengan niat yang tulus dan
bersungguh-sungguh tanpa pamrih-pamrih apa pun. Dia mengurapi kaki Yesus tidak
dalam rangka mengharapkan atau meminta sesuatu dari Tuhan. Bagaimana dengan
Yudas Iskariot. Kelihatannya kritiknya telak banget. Tiga ratus dinar bisa buat
beli sembako dan lain-lain bagi orang-orang miskin. Kalimatnya sangat saleh,
kelihatannya humanistis – berperikemanusiaan, dan luhur. Tetapi Yohanes, teman
satu kelompok murid-murid Kristus menyatakan dengan gamblang motif Yudas Iskariot. Ia mau mengkorup uang itu
kalau uang senilai itu diserahkan kepadanya. Ia pencuri, jadi sangat egoistis
dan egosentris tetapi dibungkus dengan kalimat yang kelihatan saleh. Yudas
Iskariot mesti ‘bertobat’. Boleh saja setiap hari bersama-sama dengan Yesus
secara fisik dan menjadi muridnya, tetapi ‘akal budi’ (nous) atau ‘hati’ (lèv), belum tertuju kepada Tuhan pasti nanti
tindakannya tidak berguna dan tidak menyejahterakan serta tidak memuliakan
Tuhan.
Masih ada waktu dua minggu sebelum paska bagi kita untuk
bertobat secara total dan bukan hanya parsial, mulai dari ‘akal budi’ (nous) atau ‘hati’ (lèv) sampai dengan sikap dan tingkah
laku supaya nyata bahwa kita menghargai pengorbanan Kristus yang total itu.
Mari kita pakai.
(disarikan
dari kotbah Pdt. Em. Samuel Santoso , Minggu, 13 Mar’16, oleh SS)
No comments:
Post a Comment