KASIH
YANG BERUBAH, KASIH YANG MENGUBAH
Yohanes
20:1-18
Rasanya sulit mengelak dari pendapat yang mengatakan
bahwa cinta-kasih mempunyai energi atau kekuatan dasyat. “.... cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang
mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan! Air yang banyak tidak
dapat memadamkan cinta, ... “ Begitu kata Kidung Agung 8:6,7.
Pantaslah
kalau kita amati orang yang sedang jatuh cinta – terhadap apa pun ia memiliki
energi yang luar biasa. “Gak ada matinya !”, kata ungkapan anak muda.
Seolah-olah tenaga dan antusias terus ada walaupun melakukan banyak aktivitas
yag menguras energi. Masih ingat ketika kita jatuh cinta pada sang kekasih ?
Apa pun akan kita lakukan demi menyenangkan sang buah hati. Atau ketika kita
menyaksikan anak-anak muda yang sedang tergila-gila oleh tarian breakdance, jangankan keringat,
menantang maut pun akan mereka lakukan. Cinta membuat oragn bersemangat dan
bergairah!. Selain cinta mempunyai energi yang dahsyat, cinta juga memiliki
sisi sentimentil egosentris yang kaut.
Perhatikanlah orang yang sedang
kasmaran, selain ia dapat melakukan apa saja buat sang kekasihnya, ia juga
menuntut agar sang kekasih tidak membagi cintanya dengan orang lain. Ia ingin
memilikinya sendiri. Ia ingin menahan cinta kasih itu untuk dirinya! Ada
kisah-kisah yang tidak masuk akal dan memang cinta terkadang tidak masuk akal
dari sisi egosentris cinta.
Dalam bingkai cinta ini kita melihat apa yang
terjadi dengan Maria Magdalena ketika berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Maria
Magdalena ingin terus memegang erat Yesus, ia tidak rela kalau kali ini Yesus
meninggalkannya lagi. Menurut Lukas 8:2, Maria Magdalena adalah seorang yang
telah dibebaskan dari tujuh roh jahat.
Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu ternyata
telah menyadarkan Maria bahwa selama ini ia hanya ingin merasakan dan
menggenggam cinta kasih Tuhan itu untuk memenuhi kepuasan diri. Namun, kini
Tuhan memintanya untuk tidak terlalu lama memegangi-Nya. Sebab waktunya
terbatas dan berita kebangkitan itu harus didengar oleh sebanyak mungkin orang.
“... tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku
dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan
Bapamu...”. Yesus mengubahkan energi cinta yang egoisentris menjadi energi
pemberitaan kabar baik bagi semua orang.
(disarikan dari Buku Dian Penuntun edisi 21
hal. 233-234)
No comments:
Post a Comment