Saturday, April 2, 2016

Ringkasan Khotbah - 27 Mar 2016

KASIH YANG BERUBAH, KASIH YANG MENGUBAH
Yohanes 20:1-18

Rasanya sulit mengelak dari pendapat yang mengatakan bahwa cinta-kasih mempunyai energi atau kekuatan dasyat. “.... cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan! Air yang banyak tidak dapat memadamkan cinta, ... “ Begitu kata Kidung Agung 8:6,7. 

Pantaslah kalau kita amati orang yang sedang jatuh cinta – terhadap apa pun ia memiliki energi yang luar biasa. “Gak ada matinya !”, kata ungkapan anak muda. Seolah-olah tenaga dan antusias terus ada walaupun melakukan banyak aktivitas yag menguras energi. Masih ingat ketika kita jatuh cinta pada sang kekasih ? 

Apa pun akan kita lakukan demi menyenangkan sang buah hati. Atau ketika kita menyaksikan anak-anak muda yang sedang tergila-gila oleh tarian breakdance, jangankan keringat, menantang maut pun akan mereka lakukan. Cinta membuat oragn bersemangat dan bergairah!. Selain cinta mempunyai energi yang dahsyat, cinta juga memiliki sisi sentimentil egosentris yang kaut. 

Perhatikanlah orang yang sedang kasmaran, selain ia dapat melakukan apa saja buat sang kekasihnya, ia juga menuntut agar sang kekasih tidak membagi cintanya dengan orang lain. Ia ingin memilikinya sendiri. Ia ingin menahan cinta kasih itu untuk dirinya! Ada kisah-kisah yang tidak masuk akal dan memang cinta terkadang tidak masuk akal dari sisi egosentris cinta.

Dalam bingkai cinta ini kita melihat apa yang terjadi dengan Maria Magdalena ketika berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Maria Magdalena ingin terus memegang erat Yesus, ia tidak rela kalau kali ini Yesus meninggalkannya lagi. Menurut Lukas 8:2, Maria Magdalena adalah seorang yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat.

Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu ternyata telah menyadarkan Maria bahwa selama ini ia hanya ingin merasakan dan menggenggam cinta kasih Tuhan itu untuk memenuhi kepuasan diri. Namun, kini Tuhan memintanya untuk tidak terlalu lama memegangi-Nya. Sebab waktunya terbatas dan berita kebangkitan itu harus didengar oleh sebanyak mungkin orang. “... tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu...”. Yesus mengubahkan energi cinta yang egoisentris menjadi energi pemberitaan kabar baik bagi semua orang.

(disarikan dari Buku Dian Penuntun edisi 21 hal. 233-234) 

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda