BERDOA
KEPADA ALLAH DALAM KERENDAHAN HATI
Lukas
11:1-13
Diantara penulis Injil hanya Lukas yang mencatat dan
menggambarkan kegiatan Yesus berdoa sebagai kegiatan rutin atau kebiasaan
dari-Nnya. Hal ini dapat diletakkan dalam pendekatan kristologi Lukas yang dari
bawah, di mana kemanusiaan Yesus tampak lebih menonjol, bahwa bagi Yesus dalam
melakukan pelayanan-Nya, Ia membutuhkan doa. Di sini kita melihat bahwa tidak
ada orang yang terlalu suci untuk tidak lagi berdoa secara rutin, jika Yesus saja
membutuhkan doa, apalagi kita.
Salah seorang murid-Nya yang
melihat kebiasaan ini meminta agar Yesus mengajarkan mereka berdoa. Hal ini
dapat menimbulkan pertanyaan, mengapa Yesus tidak dengan sendirinya mengajarkan
mereka berdoa ? Apakah Yesus hanya mengajar dan memberitakan Kerajaan Allah,
tapi tidak menyentuh kehidupan peribadahan para murid? Kita lihat juga bahwa
saat-saat doa Yesus lebih sering menjadi momen pribadi-Nya, di mana Ia menjauh
dari para murid. Mungkin ini juga yang membuat para murid tidak dapat
berjaga-jaga dan berdoa bersama-Nya
karena doa bukan menjadi sesuatu yang biasa mereka lakukan bersama.
Namun bisa juga dipahami bahwa yang diminta oleh murid tersebut adalah doa yang
serupa dengan yang diajarkan oleh Yohanes kepada murid-murid-Nya. Pada saat itu
para guru spiritual di Israel memiliki doa masing-masing, yang menjadi inti
sari keyakinan mereka. Mungkin dapat disetarakan dengan konfesi gerejawi pada
masa ini. Dalam doa yang diajarkan, terdapat muatan teologis yang menampakkan
jati diri mereka.
Maka dalam hal berdoa, walau
suatu kegiatan yang sangat sederhana, yang dapat dilakukan oleh anak-anak,
sudah menjadi suatu kegiatan berteologi yang sangat mendasar. Dalam doa kita
berakar dan bertumbuh di dalam iman. Belajar dan mengajarkan berdoa yang benar
sangat penting.
Mengenai doa yang Yesus ajarkan
sendiri, sudah ada banyak tafsiran, baik yang sederhana maupun rumit tentang
itu. Namun singkatnya, doa yang Yesus ajarkan ini menampilkan beberapa prinsip
dasar berdoa.
Yang pertama adalah relasi
antara Allah dan manusia bukanlah relasi yang jauh, tapi juga tidak setara.
Allah dapat disapa sebagai Bapa karena Ia dekat dengan kita, tapi juga Ia
adalah Allah yang Kudus, yang berkuasa di Surga dan di Bumi, sehingga kita
bukan kita yang memberi perintah di dalam doa.
Yang kedua, doa adalah soal
mengurus kehidupan kita. Tidak ada yang salah membawa kebutuhan dan keinginan
kita di dalam doa, bahkan setelah mengajarkan doa Bapa Kami ini, Yesus menekankan betapa pentingnya memohon, meminta,
mancari dan mengetok pintu. Namun jangan dipahami bahwa kita menggunakan doa
(hanya) untuk memohon berkat-berkat jasmani/material, tetapi bahwa seluruh
berkat dan kecukupan jasmaniah hanya ada karena Allah yang memberikannya kepada
kita.
Yang ketiga, doa adalah soal relasi
kita dengan sesama. Bandingkan dengan Matius 5:23, 24. Orang yang berdoa dalam
kesehariannya adalah orang yang mengasihi, menerima, dan mengampuni sesamanya.
Maka dalam sikap dan keputusannya, ia pun akan menghargai keberadaan orang lain
dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Yang keempat, doa adalah soal
menjaga hidup supaya tidak jatuh dalam dosa. Ada begitu banyak godaan dan
tantangan yang ada dalam kehidupan kita. Berdoa setiap hari memperlengkapi dan
mempersenjatai kita untuk menghadapinya. Dan yang tak kalah penting, bukan
hanya dalam sikap berhadapan dengan dunia, tetapi doa membantu kita dalam
kesadaran akan diri sendiri (evaluasi dan introspeksi) sehingga kita pun dapat
terus bertumbuh di dalam iman dan melimpah dalam syukur.
(Diambil
dari buku Dian Penuntun edisi 22 hal. 90-92 )
No comments:
Post a Comment