Sunday, July 31, 2016

Ringkasan Khotbah - 24 Juli 2016

BERDOA KEPADA ALLAH DALAM KERENDAHAN HATI
Lukas 11:1-13

Diantara penulis Injil hanya Lukas yang mencatat dan menggambarkan kegiatan Yesus berdoa sebagai kegiatan rutin atau kebiasaan dari-Nnya. Hal ini dapat diletakkan dalam pendekatan kristologi Lukas yang dari bawah, di mana kemanusiaan Yesus tampak lebih menonjol, bahwa bagi Yesus dalam melakukan pelayanan-Nya, Ia membutuhkan doa. Di sini kita melihat bahwa tidak ada orang yang terlalu suci untuk tidak lagi berdoa secara rutin, jika Yesus saja membutuhkan doa, apalagi kita.
Salah seorang murid-Nya yang melihat kebiasaan ini meminta agar Yesus mengajarkan mereka berdoa. Hal ini dapat menimbulkan pertanyaan, mengapa Yesus tidak dengan sendirinya mengajarkan mereka berdoa ? Apakah Yesus hanya mengajar dan memberitakan Kerajaan Allah, tapi tidak menyentuh kehidupan peribadahan para murid? Kita lihat juga bahwa saat-saat doa Yesus lebih sering menjadi momen pribadi-Nya, di mana Ia menjauh dari para murid. Mungkin ini juga yang membuat para murid tidak dapat berjaga-jaga dan berdoa bersama-Nya  karena doa bukan menjadi sesuatu yang biasa mereka lakukan bersama. Namun bisa juga dipahami bahwa yang diminta oleh murid tersebut adalah doa yang serupa dengan yang diajarkan oleh Yohanes kepada murid-murid-Nya. Pada saat itu para guru spiritual di Israel memiliki doa masing-masing, yang menjadi inti sari keyakinan mereka. Mungkin dapat disetarakan dengan konfesi gerejawi pada masa ini. Dalam doa yang diajarkan, terdapat muatan teologis yang menampakkan jati diri mereka.
Maka dalam hal berdoa, walau suatu kegiatan yang sangat sederhana, yang dapat dilakukan oleh anak-anak, sudah menjadi suatu kegiatan berteologi yang sangat mendasar. Dalam doa kita berakar dan bertumbuh di dalam iman. Belajar dan mengajarkan berdoa yang benar sangat penting.
Mengenai doa yang Yesus ajarkan sendiri, sudah ada banyak tafsiran, baik yang sederhana maupun rumit tentang itu. Namun singkatnya, doa yang Yesus ajarkan ini menampilkan beberapa prinsip dasar berdoa.
Yang pertama adalah relasi antara Allah dan manusia bukanlah relasi yang jauh, tapi juga tidak setara. Allah dapat disapa sebagai Bapa karena Ia dekat dengan kita, tapi juga Ia adalah Allah yang Kudus, yang berkuasa di Surga dan di Bumi, sehingga kita bukan kita yang memberi perintah di dalam doa.
Yang kedua, doa adalah soal mengurus kehidupan kita. Tidak ada yang salah membawa kebutuhan dan keinginan kita di dalam doa, bahkan setelah mengajarkan doa Bapa Kami ini, Yesus menekankan betapa pentingnya memohon, meminta, mancari dan mengetok pintu. Namun jangan dipahami bahwa kita menggunakan doa (hanya) untuk memohon berkat-berkat jasmani/material, tetapi bahwa seluruh berkat dan kecukupan jasmaniah hanya ada karena Allah yang memberikannya kepada kita.
Yang ketiga, doa adalah soal relasi kita dengan sesama. Bandingkan dengan Matius 5:23, 24. Orang yang berdoa dalam kesehariannya adalah orang yang mengasihi, menerima, dan mengampuni sesamanya. Maka dalam sikap dan keputusannya, ia pun akan menghargai keberadaan orang lain dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Yang keempat, doa adalah soal menjaga hidup supaya tidak jatuh dalam dosa. Ada begitu banyak godaan dan tantangan yang ada dalam kehidupan kita. Berdoa setiap hari memperlengkapi dan mempersenjatai kita untuk menghadapinya. Dan yang tak kalah penting, bukan hanya dalam sikap berhadapan dengan dunia, tetapi doa membantu kita dalam kesadaran akan diri sendiri (evaluasi dan introspeksi) sehingga kita pun dapat terus bertumbuh di dalam iman dan melimpah dalam syukur.


 (Diambil dari buku Dian Penuntun edisi 22 hal. 90-92 )

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda