Memakai
Uang dengan Bertanggungjawab
Seringkali kita menangkap maksud kata 'bertanggungjawab' dalam
hal keuangan dengan pengaturan penerimaan, meminimalkan pengeluaran, dan
menghindari besar pasak daripada tiang. Kita sering melupakan bahwa
bertanggungjawab terhadap harta milik berkaitan dengan motivasi mendasar yang
berhubungan dengan iman kita pada Kristus.
Pertama, tanggungjawab iman dalam
pengelolaan harta milik dimulai dengan kesadaran bahwa harta milik kita adalah
kepunyaan Tuhan yang dipercayakan untuk tujuan Illahi, yaitu menyatakan
kasih-Nya. Allah berkehendak memelihara kehidupan kita melalui harta milik itu.
Ketika kita mengimani bahwa harta itu milik Allah, maka kita tidak akan merasa
sombong dan pongah apalagi merasa berkuasa karena harta. Pada saat yang sama
kita akan dijauhkan dari ketertundukan terhadap kuasa harta itu, melainkan
kitalah yang berkuasa atas harta kita.
Kedua, tatkala kita memahami harta milik
adalah bertujuan baik, maka kita perlu mendorong diri untuk percaya bahwa Allah
menghendaki kita bekerja dengan baik, rajin, dan jujur. Allah pastilah
menginginkan kita untuk menempuh jalan baik dalam kerja kita, bukan dengan
jalan yang penuh dengan kejahatan dan tipu muslihat.
Ketiga, dengan memperhatikan tren global
masa kini di mana dunia semakin kapitalistis, setiap kita perlu mendengungkan
pada diri sendiri secara terus menerus tentang rasa syukur pada berkat yang
sudah Allah beri. Mamon adalah kuasa yang akan membuat kita selalu 'merasa
kurang' dan 'lapar terus' untuk mengeruk dan menumpuk harta. Akibat rasa lapar
ini, manusia dapat jatuh dalam keinginan untuk mengorbankan orang lain demi
memenuhi kerakusannya. Tanggungjawab iman terhadap harta milik dinyatakan
dengan mengembangkan 'rasa cukup'. Dengan rasa cukup kita akan membuat sumber
daya lain dapat dimiliki orang lain, tidak dikuasai semua oleh kita. Dengan
rasa cukup, kita akan mampu berbagi dengan orang lain di sekitar kita.
Apakah Saudara terpanggil untuk
bertanggungjawab secara iman dalam mengelola harta milik Saudara? Bila Saudara
terpanggil mengerjakam ketiga hal tadi, niscaya Saudara akan menjadi orang yang
berbahagia dan membahagiakan orang lain di sekitar Saudara.
(Disarikan dari kotbah Pdt. Bonnie Andreas - GKI
Ciledug Raya,Minggu, 25 September 2016, oleh BA)

No comments:
Post a Comment