Sunday, October 2, 2016

Ringkasan Khotbah - 25 September 2016

Spiritualitas Kepuasan Hati
1 Timotius 6:6-19 dan Lukas 16:19-31

Dunia yang kita tinggali dipenuhi dengan keserakahannya. Setiap orang didorong, terjebak dan terpenjara untuk selalu selalu ingin dipuaskan menurut keinginan dirinya sendiri.  Perhatikan bagaimana ukuran kepuasan menjadi yang utama dalam setiap produk dan jasa yang diperdagangan. Mana yang paling mendekati nilai kepuasan konsumen akan lebih mudah diterima alias laku. Ukuran kepuasan di dunia ini pun masih berada pada hitungan berapa banyak harta yang kita miliki. Rumah, tanah, mobil, uang dll. Semuanya menjadi kelekatan yang tidak dapat ditawar. 

Generasi muda bahkan menjadi sulit untuk berumah tangga karena memiliki keinginan memuaskan keinginannya di dalam hidup, sebagai yang utama. Keliling dunia dan mengunjungi berbagai obyek wisata lebih menarik ketimbang urusan berumah tangga. Sisi yang lain, pemahaman kepuasan di tengah keluarga masih ada juga yang menekankan seksualitas sebagai yang utama. Atau keberhasilan anak-anak yang diperlihatkan dengan menjadi rangking 1. 

Bilamana kepuasan dijadikan ukuran di dunia ini, tentu saja semua orang tidaklah pernah puas.  Ada bahaya dari pencarian akan kepuasan yang mengancam diri manusia. 

Sedikitnya ada 3 hal yaitu:
Pertama, Manusia kehilangan jatidiri sebagai ciptaan Tuhan yang harus bergantung kepada Allah yang hidup. Manusia mengalami pergeseran atas fokus cinta yang ada dalam dirinya. Dari Allah kepada diri sendiri.
Kedua, Pudarnya penghargaan pada apa yang ada dan hilangnya ucapan syukur dalam diri manusia. Diri kita alami keresahan, gelisah dan merasa kalah bila melihat orang lain. Hilang sukacita, karena merasa apa yang dimiliki tidak cukup berharga. Paulus katakan bahwa manusia patut melihat dirinya tidak membawa apapun saat datang ke dalam dunia dan tidak juga membawa apapun saat pergi meninggalkan dunia. Allah sendiri memberikan berkat dalam hidup manusia supaya semua manusia dalam keberadaannya masing-masing alami kebahagiaan.
Ketiga, kita terancam kehilangan rasa kemanusiaan kita atas sesama. Kita selalu melihat segala pergumulan dalam kacamata hubungan jauh atau dekat. Di tambah lagi rasa takut pada kebaikan kita yang dimanfaatkan atau dipermainkan orang lain. Kita menutup diri pada panggilan hidup untuk membantu orang lain.
Rasul Paulus menegaskan kepada Timotius agar dirinya mengajarkan kepada jemaat Tuhan hal-hal yang demikian untuk ditinggalkan. Setiap orang patut mengejar  keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Tuhan memberikan kecukupan kepada umat yang dikasihi-Nya. Dalam hal ini, harta maupun uang merupakan hal yang netral sifatnya. Baik dan buruk hanya ditentukan oleh orang yang mempergunakannya. 
Tetapi seseorang yang mencintai uang, menjadikan dirinya ada dalam bahaya, jatuh dalam pencobaan, jerat dan berbagai hawa nafsu yang hampa dan mencelakakan. Di sinilah Paulus menegaskan agar Timotius mengingatkan orang-orang kaya untuk tidak berharap pada apa yang berubah. Yaitu kekayaan yang dimilikinya. Pengajaran yang sama juga ditekankan oleh Tuhan Yesus melalui cerita orang kaya dan orang miskin dalam Lukas 16, sesungguhnya hendak menegaskan bahwa kesalahan terbesar dari orang kaya itu adalah tidak melakukan kebaikan dalam segala kekayaan yang Tuhan berikan di dalam hidupnya. Tiap-tiap hari Orang kaya itu makan dengan kemewahannya, tetapi tidak pernah memberi makan bagi Lazarus yang miskin. Dia memilih untuk tidak bertindak memberikan kebaikan. Dirinya kaya, namun miskin dalam perbuatan baik.  Setiap kita dipanggil untuk kaya dalam perbuatan baik. Bertindak seperti Bill Gates yang berbagi dalam kekayaannya menjadi seorang Filantropi atau seperti Mother Teresa yang memberi dalam kekurangannya.

Spiritualitas kepuasan hati menjadi jawaban dari upaya mencari kepuasan di tengah-tengah dunia. Kita belajar bersikap cukup dan penuh dengan syukur di dalam ibadah kita. Dengan bijaksana kita memanfaatkan segala fasilitas yang kita miliki, tanpa membuang percuma atau menyia-yiakannya. Pada akhirnya, dalam kekayaan yang kita miliki kita terpanggil untuk memeliharanya, sebab itu yang Tuhan telah percayakan. Amin

 (Disarikan dari kotbah Pdt. Berghouser B T-GKI Ampera,Minggu, 25 September 2016, oleh BBT) 



No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda