Spiritualitas Kepuasan Hati
1 Timotius
6:6-19 dan Lukas 16:19-31
Dunia yang kita tinggali dipenuhi dengan keserakahannya.
Setiap orang didorong, terjebak dan terpenjara untuk selalu selalu ingin
dipuaskan menurut keinginan dirinya sendiri.
Perhatikan bagaimana ukuran kepuasan menjadi yang utama dalam setiap
produk dan jasa yang diperdagangan. Mana yang paling mendekati nilai kepuasan
konsumen akan lebih mudah diterima alias laku. Ukuran kepuasan di dunia ini pun
masih berada pada hitungan berapa banyak harta yang kita miliki. Rumah, tanah,
mobil, uang dll. Semuanya menjadi kelekatan yang tidak dapat ditawar.
Generasi
muda bahkan menjadi sulit untuk berumah tangga karena memiliki keinginan
memuaskan keinginannya di dalam hidup, sebagai yang utama. Keliling dunia dan
mengunjungi berbagai obyek wisata lebih menarik ketimbang urusan berumah
tangga. Sisi yang lain, pemahaman kepuasan di tengah keluarga masih ada juga
yang menekankan seksualitas sebagai yang utama. Atau keberhasilan anak-anak
yang diperlihatkan dengan menjadi rangking 1.
Bilamana kepuasan dijadikan
ukuran di dunia ini, tentu saja semua orang tidaklah pernah puas. Ada bahaya dari pencarian akan kepuasan yang
mengancam diri manusia.
Sedikitnya ada 3 hal yaitu:
Pertama, Manusia kehilangan jatidiri
sebagai ciptaan Tuhan yang harus
bergantung kepada Allah yang hidup. Manusia mengalami pergeseran atas fokus
cinta yang ada dalam dirinya. Dari Allah kepada diri sendiri.
Kedua, Pudarnya penghargaan pada apa
yang ada dan hilangnya ucapan syukur dalam diri manusia. Diri kita alami
keresahan, gelisah dan merasa kalah bila melihat orang lain. Hilang sukacita,
karena merasa apa yang dimiliki tidak cukup berharga. Paulus katakan bahwa
manusia patut melihat dirinya tidak membawa apapun saat datang ke dalam dunia
dan tidak juga membawa apapun saat pergi meninggalkan dunia. Allah sendiri
memberikan berkat dalam hidup manusia supaya semua manusia dalam keberadaannya
masing-masing alami kebahagiaan.
Ketiga, kita terancam kehilangan rasa
kemanusiaan kita atas sesama. Kita selalu melihat segala pergumulan dalam
kacamata hubungan jauh atau dekat. Di tambah lagi rasa takut pada kebaikan kita
yang dimanfaatkan atau dipermainkan orang lain. Kita menutup diri pada
panggilan hidup untuk membantu orang lain.
Rasul Paulus menegaskan kepada
Timotius agar dirinya mengajarkan kepada jemaat Tuhan hal-hal yang demikian
untuk ditinggalkan. Setiap orang patut mengejar
keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Tuhan
memberikan kecukupan kepada umat yang dikasihi-Nya. Dalam hal ini, harta maupun
uang merupakan hal yang netral sifatnya. Baik dan buruk hanya ditentukan oleh
orang yang mempergunakannya.
Tetapi seseorang yang mencintai uang, menjadikan
dirinya ada dalam bahaya, jatuh dalam pencobaan, jerat dan berbagai hawa nafsu
yang hampa dan mencelakakan. Di sinilah Paulus menegaskan agar Timotius
mengingatkan orang-orang kaya untuk tidak berharap pada apa yang berubah. Yaitu
kekayaan yang dimilikinya. Pengajaran yang sama juga ditekankan oleh Tuhan Yesus
melalui cerita orang kaya dan orang miskin dalam Lukas 16, sesungguhnya hendak
menegaskan bahwa kesalahan terbesar dari orang kaya itu adalah tidak melakukan
kebaikan dalam segala kekayaan yang Tuhan berikan di dalam hidupnya. Tiap-tiap
hari Orang kaya itu makan dengan kemewahannya, tetapi tidak pernah memberi
makan bagi Lazarus yang miskin. Dia memilih untuk tidak bertindak memberikan
kebaikan. Dirinya kaya, namun miskin dalam perbuatan baik. Setiap kita dipanggil untuk kaya dalam
perbuatan baik. Bertindak seperti Bill Gates yang berbagi dalam kekayaannya
menjadi seorang Filantropi atau seperti Mother Teresa yang memberi dalam
kekurangannya.
Spiritualitas kepuasan hati menjadi jawaban dari upaya
mencari kepuasan di tengah-tengah dunia. Kita belajar bersikap cukup dan penuh
dengan syukur di dalam ibadah kita. Dengan bijaksana kita memanfaatkan segala
fasilitas yang kita miliki, tanpa membuang percuma atau menyia-yiakannya. Pada
akhirnya, dalam kekayaan yang kita miliki kita terpanggil untuk memeliharanya, sebab
itu yang Tuhan telah percayakan. Amin
(Disarikan
dari kotbah Pdt. Berghouser B T-GKI Ampera,Minggu, 25 September 2016, oleh BBT)
No comments:
Post a Comment