Memberitakan Injil
Dengan Kekuatan Allah
“Aku berkata kepadamu: Jika mereka diam, maka batu-batu
ini akan berteriak.”
Pemberitaan firman hari ini diawali dengan sebuah
kisah pilu. Seorang yang benar dan jujur di hadapan Tuhan dan manusia ditangkap.
Seorang pewarta kebenaran dipenjarakan karena mengecam ketidakbenaran yang
dilakukan penguasa negerinya. Yohanes Pembaptis dibungkam, tetapi berita Injil
tetap harus tersebar. Kabar keselamatan dari Allah harus tetap diwartakan.
Tetapi siapa yang mewartakannya?
Injil Matius mengisahkan, paska penangkapan Yohanes
Pembaptis, Yesus Sang Putra Allah meneruskan pewartaan Injil. Ia mengundang
orang-orang untuk bertobat sebab Kerajaan Allah sudah dekat. Hanya saja Yesus
tidak mewartakan Injil di Nazaret ataupun di Sungai Yordan sebagaimana yang
Yohanes Pembaptis lakukan. Ia menyingkir, jauh ke perbatasan Israel, ke wilayah
Galilea. Daerah yang oleh sebagian orang Yahudi dianggap tempat tinggal para
pendosa. Bukan karena di sana banyak orang bukan Yahudi, tetapi karena sebagian orang
Galilea bukan orang yang taat melakukan hukum Taurat.
Di Galilea Yesus
mewartakan Injil Kerajaan Allah. Bahkan di Galilea, Yesus memanggil
murid-murid-Nya yang pertama. Simon, Andreas, Yakobus, Yohanes mereka adalah
murid-murid Yesus yang pertama. Mereka semua bukan orang terpelajar. Mereka
semua nelayan. Yesus menjumpai mereka dan mengajak mereka untuk menjadi
murid-Nya: “Mari, ikutlah Aku, kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Bersama
keempat murid-Nya Yesus mulai mengajar di rumah Ibadat, memberitakan Injil
Kerajaan Allah, menyembuhkan yang sakit dan mengusir segala kelemahan (Matius
4:23).
Yang menarik adalah bagaimana cara Tuhan Yesus
menyiapkan murid-murid-Nya untuk menjadi penjala manusia. Tuhan Yesus tidak
menyiapkan mereka untuk menjadi orator atau pengkhotbah yang handal sekalipun
Ia tahu kelak para murid harus meyakinkan banyak orang melalui perkataan
mereka; sekalipun Tuhan Yesus tahu para murid kelak harus memberitakan Injil
Kerajaan Allah di hadapan para pembesar dan cerdik pandai dengan kata-kata
mereka. Tuhan Yesus tidak menyiapkan para murid untuk menjadi seperti ahli
Taurat, sekalipun Ia tahu suatu saat nanti murid-murid-Nya akan berhadapan
dengan ahli-ahli Taurat dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi.
Yang Tuhan Yesus
lakukan adalah mengajak para murid untuk melihat dan merasakan apa yang Ia
lakukan. Saat ada seorang buta berteriak, “Yesus, Anak Daud, tolonglah aku.”
Yesus tidak mengabaikannya. Ia datang menjumpai orang buta itu, berbicara
dengannya, mendengar keluh kesah dan harapannya. Dan dengan kuasa yang
dimiliki-Nya, Yesus mencelikkannya. Saat ada seorang wanita yang sudah lama
berjalan menunduk berdiri di luar Bait Allah dalam diam. Sementara orang-orang
di sekitarnya sibuk dengan urusannya masing-masing, tidak ada yang memperhatikan wanita itu.
Tidak ada seorang pun yang peduli pada kebutuhannya. Bahkan mungkin sebagian
orang menganggap pemandangan itu sebagai hal yang biasa dan karena itu
cenderung mengabaikannya. Yesus tidak demikian. Dari jauh Ia menunjuk wanita
itu. Ia berjalan mendekatinya. Menjamahnya, menyembuhkannya. Sekalipun Ia tahu
menyembuhkan orang yang sakit di hari Sabat adalah sebuah pelanggaran. Yesus
melakukannya, sebab Ia tahu, Anak Manusia adalah Tuhan atas hari sabat.
Saat
ada seorang yang oleh lingkungannya dianggap berdosa dan tidak layak untuk
berjumpa dengan Yesus, namun karena
keinginannya yang besar ia naik ke atas pohon agar bisa melihat Tuhan Yesus,
Tuhan Yesus justru menjumpainya. Kepada pria ini, Yesus berkata, “Zakheus,
turunlah. Hari ini Aku akan menumpang di rumahmu.” Bahkan Alkitab pun mencatat,
Tuhan Yesus tidak mengabaikan seorang yang kerasukan roh jahat di Gerasa.
Sekalipun orang ini tinggal di pekuburan dan berulangkali meresahkan
lingkungannya, Yesus tetap mau menjumpainya, mendengarkan permintaannya dan
menyembuhkan dia. Orang Gerasa yang dipulihkan Tuhan Yesus, Bartolomeus, wanita
yang telah disembuhkan dari sakit bungkuknya, juga Zakheus, mereka kemudian
menjadi saksi Kristus. Mereka menyaksikan pengalaman mereka saat Yesus
memulihkan kehidupan mereka.
Seluruh kisah tersebut membawa kita pada
kesimpulan:
pertama, Tuhan Yesus mengabarkan Kabar Baik bagi manusia.
Dan kabar baik itu adalah Allah mengasihi manusia. Allah memberi hati-Nya bagi
manusia. Allah rindu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, termasuk mereka
yang dianggap berdosa oleh sesamanya. Inilah Injil Kristus.
kedua,
memberitakan Injil, kabar sukacita dari Allah bisa diawali dengan langkah
sederhana, yaitu dengan menceritakan pengalaman kita berjalan bersama dengan
Tuhan. Sama seperti yang dilakukan orang di Gerasa, Bartolomeus, wanita yang
dipulihkan dari sakit bungkuknya dan juga Zakheus. Sama seperti Simon, Andreas,
Yakobus dan Yohanes, mereka menjadi penjala manusia dengan menyaksikan kasih
Allah yang mereka alami saat mereka bersama dengan Tuhan Yesus. “Berita tentang
salib - yaitu berita tentang kasih, perhatian dan pengorbanan Allah bagi
manusia – untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan, dan untuk orang-orang
bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang
Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat
Allah.”
Memberitakan Injil adalah panggilan kita sebagai
penjala manusia. Panggilan ini kita kerjakan bukan dengan kekuatan kita sendiri
tetapi dengan kekuatan Allah. Dan itu berarti mewartakan bagaimana Allah
merendahkan diri dengan menjadi manusia dan tinggal bersama dengan kita untuk
mencari dan menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Mewartakan Injil dengan
kekuatan Allah juga berarti mewartakan cara Tuhan Yesus menghibur, menguatkan
dan menolong kita saat kita ada dalam kesukaran, ketakutan, dan kelemahan. Juga
mewartakan bagaimana Roh Allah hadir untuk menopang dan meneguhkan kita dalam
hidup kita sehari-hari. Marilah kita menjadi penjala manusia.
Disarikan dari khotbah Pdt. Eko Priliadona S pada Kebaktian Umum 22 Januari 2017 oleh eps)
No comments:
Post a Comment