Friday, February 3, 2017

Ringkasan Khotbah 29 Jan 2017

PARA PEMILIK KEBAHAGIAAN
(Mikha 6:1-8; Mazmur 15; 1 Korintus 1:18-31; Matius 5:1-12)

Saudara-saudara yang dikasihi TUHAN,
Apakah anda bahagia ? Apa yang membuat anda berbahagia ?

Kata orang, ada banyak yang bisa membuat seseorang itu berbahagia. Tetapi, umumnya, orang memahami dan mendefinisikan kebahagiaan itu hanya sebatas “mencapai” dan atau “memiliki”. Misal, punya rumah yang besar dan bagus, punya anak, kekayaan melimpah, pekerjaan berhasil dengan penghasilan yang besar, status sosial yang terhormat, dsb. Jika belum mencapai dan belum memilikinya, katanya, belum bahagia bahkan tidak bahagia ! Benarkah ? Benarkah kalau sudah mencapainya dan memilikinya dapat dipastikan berbahagia dan kalau belum mencapainya atau memilikinya belum bahkan tidak bahagia ?

Dalam kenyataannya, tidak seperti itu. Sebab, ada orang-tua yang pada awalnya merasa berbahagia karena mereka mempunyai anak-anak yang baik, sopan dan hidup terhormat. Tetapi ketika anak-anak mereka sudah mulai beranjak remaja atau dewasa mulai hidup nakal, terlibat dalam berbagai pergaulan bebas, terlibat dalam penggunaan minuman keras (beralkohol) dan narkoba, mereka tidak lagi hanya sekedar kesal, jengkel atau marah, melainkan menangis. Mungkin mereka hanya bisa mengelus dada sambil berdoa dan berharap Tuhan menolong mereka dan mengubahkan anak-anak mereka, bahkan tidak sedikit yang merasa kecewa dan sakit hati, dan akhirnya bersikap masa bodoh.

Contoh lain, seperti Michael Jackosn, Whitney Houston, George Michael. Mereka adalah artis-artis dunia yang sangat popular dan kaya, dsb. Tetapi sejarah perjalanan hidupnya begitu kelam. Mereka terlibat penggunaan minuman, obat-obatan, dan narkoba bahkan mati dengan cara yang mengenaskan. Hidup mereka hampa.

Saudara-saudara,
Jika kehidupan yang dijalani dan dialami seperti itu, apakah dapat dikatakan berbahagia ? Sebenarnya, apa itu kebahagiaan ?

Dari conttoh tersebut, dapat dikatakan, bahwa kebahagiaan tidak lagi hanya sekedar dapat diperoleh hanya sebatas “mencapai” dan atau “memiliki”. Lalu, apa itu kebahagiaan ?

Dalam kitab Mikha 6:8 dikatakan, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu ?” Menurut nabi Mikha, kebahagiaan adalah :

1.  Ketika di dalam kehidupan bersama dengan orang lain kita bisa bersikap dan berlaku adil terhadap sesama. Adil bukan dalam pengertian bahwa kita harus mendapatkan keadilan dari orang-orang yang di sekitar kita, melainkan bagaimana kita berlaku dan bersikap adil terhadap  orang-orang yang ada di sekitar kita. Bukan bagaianana kita menerima keadilan, melainkan bagaiamana kita memberi keadilan. Sebab dengan memberi keadilan, kita seperti sedang memberi pengharapan bahwa pada hari ini atau hari esok mereka memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik dari sekarang.

2.  Mencintai kesetiaan. Bagaimana jika pasangan hidup kita selingkuh ? Bukan hanya sekedar jengkel atau marah. Bisa jadi, kita akan menjadi sangat kecewa dan sakit hati bahkan kemudian kita menaruh dendam. Keluarga akan menjadi kacau balau bahkan bubaran.  Dari beberapa kasus yang ada, bahkan bisa sampai membunuh atau bunuh diri. Mengapa hal-hal seperti itu bisa terjadi di dalam perjalanan hidup kita ? Karena ada di antara kita yang hidupnya tidak setia kepada pasangannya. Ketika kesetiaan itu tidak lagi menjadi yang penting bahkan hilang di dalam kehidupan suami-isteri, atau keluarga, atau komunitas di mana kita harus berelasi dengan sesama, maka dengan sendirinya kebahagiaan itu pun akan hilang dan sirna. Bagi nabi Mikha, kebahagiaan adalah ketika kita setia dan bersikap atau berperilaku setia kepada siapa kita seharusnya setia.

3.  Terkait dengan hal ke satu dan kedua, maka nabi Mikha menambahkan tentang apa itu kebahagiaan, yaitu hidup dengan rendah hati. Secara sederhana, rendah hati adalah bagaimana kita  menjadi orang lain itu sebagai yang utama dan penting di dalam kehidupan kita. Sehingga kita tidak hanya memikirkan diri kita sendiri, melainkan bagaimana kia memikirkan orang lain. Sehingga apa yang menjadi kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita. Jika kita sebagai suami ingin berbahagia, maka kita harus berusaha membuat pasangan kita berbahagia. Jika kita ingin sebagai orang-tua atau anak-anak berbahagia, maka kita harus berusaha membuat anak-anak atau orang-tua kita berbahagia. Sebab, bahagianya mereka adalah bahagianya kita.

Dan kalau kita hubungkan dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, dalam 1 Korintus 1: 29 “supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” maka kebahagiaan adalah ketika kita menyadari siapa diri kita sesungguhnya di hadapan Allah dan sesama, dan tahu bagaimana kita menempatkan diri kita untuk melakukan sesuatu yang semestinya. Karena kecenderungan manusia adalah bagaimana ia bisa membanggakan dan menyombongkan dirinya dengan pencapaian-pencapaian dan kepemilikannya sebagai hasil usaha, kerja keras dan perjuangannya sendiri.

Sebab, kalau kita mau bersikap jujur dan rendah hati, maka semua apa yang kita capai dan miliki adalah karena anugerah Allah yang di dalamnya Allah pun membiarkan orang-orang lain di sekitar kita berperan dan ikut ambil bagian di dalam pencapaian dan kepemilikan kita. Jika gereja ini bisa sampai seperti ini, besar, megah dan bersih, itu bukan semata-mata hasil kerja keras pendetanya, atau Majelis Jemaatnya, atau para aktivisnya, tetapi juga para karyawan yang bekerja di gereja ini. Jadi, jangan terlalu cepat berbangga diri dan menyombongkan diri.

Sedangkan, kalau kita memperhatikan apa yang diajarkan oleh Yesus dalam khotbah di bukit, maka kita pun bisa menangkap pengertian kebahagiaan menurut Yesus. Misalnya,

1. Kalau kita memperhatikan Matius 5:8 yang mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
Bagi orang Yahudi, hati adalah sesuatu yang sangat penting. Karena hati dipahami sebagai pusat kehidupan. Sederhananya, kalau kita kaitkan dengan kebahagiaan adalah kalau hati kita bersih, maka -kalau semuanya terconnect dengan baik ya- pikiran kita pun akan jernih, sehingga kita hanya memikirkan hal-hal yang baik saja, yang kemudian akan memotivasi atau mendorong kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Hati bersih, pikiran jernih, perbuatan baik. Dan, sebaliknya.

2.    Menjaga diri tetap baik dan benar sekaligus memberi kebaikan dan menyatakan kebenaran. Artinya, untuk menjadi orang-orang yang berbahagia itu tidak cukup kalau hanya menjadi orang baik dan orang benar saja, atau seperti kata orang “yang penting saya tidak melakukan yang jahat dan tidak bertindak buruk”. Tidak cukup. Sebab, kehidupan yang seperti itu tidak berdampak. Cenderung egoisme. Bagi Yesus, kebahagiaan adalah ketika kita tetap baik dan benar di tengah-tengah ketidak-baikan dan ketidak-benaran yang ada di sekitar kita, sambil kita sendiri tetap melakukan hal yang baik dan menyatakan kebenaran, sehingga kebaikan dan kebenaran itu berdampak dan dirasakan atau dialami oleh orang-orang di sekitar kita sebagai hal yang dibutuhkan di dalam kehidupan bersama. Disitulah kita akan melihat Allah. Dan …

3.    Kalau kita memperhatikan Matius 5;12 yang mengatakan, “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” maka kita diajak untuk memahami bahwa kebahagiaan itu bukan bagimana kita “mencapai” dan atau “memiliki” sehingga kita menjadi orang-orang yang begitu terikat dan mengandalkan bahkan menjaminkan hidup kita kepadanya, melainkan kita diajak untuk membebaskan dan memerdekakan diri dan tidak terikat dengan apa yang ada di dalam dunia ini bahkan tidak terikat dengan diri kita sendiri. Uang dan kekuasaan memang penting. Ia bisa membebaskan kita dari hukuman di dunia -selama masih ada pejabat yang disuap dan korupsi-, tetapi ia tidak akan bisa membebaskan diri hukuman dosa dan tidak bisa membeli kasih Allah.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kembali ke pertanyaan kita: Apakah anda bahagia ? Apa yang membuat anda  bahagia ?

Berbahagia adalah ketika mau bersikap jujur terhadap diri anda sendiri: Sungguhkah saya bahagia dengan pasangan saya, dengan anak-anak saya dan atau dengan orang-tua saya, atau di dalam komunitas di mana saya ada di dalamnya ?

Kiranya Allah menolong kita menjadi orang-orang yang berbahagia. Selamat berbahagia. TUHAN memberkati.

Khotbah Minggu, 29.01.2017

Pdt. J.O Liline - GKI Sunter Mas

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda