PARA PEMILIK KEBAHAGIAAN
(Mikha 6:1-8;
Mazmur 15; 1 Korintus 1:18-31; Matius 5:1-12)
Saudara-saudara yang dikasihi TUHAN,
Apakah anda bahagia ? Apa yang membuat anda
berbahagia ?
Kata orang, ada banyak yang bisa membuat
seseorang itu berbahagia. Tetapi, umumnya, orang memahami dan mendefinisikan
kebahagiaan itu hanya sebatas “mencapai” dan atau “memiliki”. Misal, punya
rumah yang besar dan bagus, punya anak, kekayaan melimpah, pekerjaan berhasil
dengan penghasilan yang besar, status sosial yang terhormat, dsb. Jika belum
mencapai dan belum memilikinya, katanya, belum bahagia bahkan tidak bahagia !
Benarkah ? Benarkah kalau sudah mencapainya dan memilikinya dapat dipastikan
berbahagia dan kalau belum mencapainya atau memilikinya belum bahkan tidak
bahagia ?
Dalam kenyataannya, tidak seperti itu. Sebab,
ada orang-tua yang pada awalnya merasa berbahagia karena mereka mempunyai
anak-anak yang baik, sopan dan hidup terhormat. Tetapi ketika anak-anak mereka
sudah mulai beranjak remaja atau dewasa mulai hidup nakal, terlibat dalam
berbagai pergaulan bebas, terlibat dalam penggunaan minuman keras (beralkohol)
dan narkoba, mereka tidak lagi hanya sekedar kesal, jengkel atau marah,
melainkan menangis. Mungkin mereka hanya bisa mengelus dada sambil berdoa dan
berharap Tuhan menolong mereka dan mengubahkan anak-anak mereka, bahkan tidak
sedikit yang merasa kecewa dan sakit hati, dan akhirnya bersikap masa bodoh.
Contoh lain, seperti Michael Jackosn, Whitney
Houston, George Michael. Mereka adalah artis-artis dunia yang sangat popular
dan kaya, dsb. Tetapi sejarah perjalanan hidupnya begitu kelam. Mereka terlibat
penggunaan minuman, obat-obatan, dan narkoba bahkan mati dengan cara yang
mengenaskan. Hidup mereka hampa.
Saudara-saudara,
Jika kehidupan yang dijalani dan dialami
seperti itu, apakah dapat dikatakan berbahagia ? Sebenarnya, apa itu
kebahagiaan ?
Dari conttoh tersebut, dapat dikatakan, bahwa
kebahagiaan tidak lagi hanya sekedar dapat diperoleh hanya sebatas “mencapai”
dan atau “memiliki”. Lalu, apa itu kebahagiaan ?
Dalam kitab Mikha 6:8 dikatakan, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu
apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil,
mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu ?”
Menurut nabi Mikha, kebahagiaan adalah :
1. Ketika di dalam
kehidupan bersama dengan orang lain kita bisa bersikap dan berlaku adil terhadap
sesama. Adil bukan dalam pengertian bahwa kita harus mendapatkan keadilan dari
orang-orang yang di sekitar kita, melainkan bagaimana kita berlaku dan bersikap
adil terhadap orang-orang yang ada di
sekitar kita. Bukan bagaianana kita menerima keadilan, melainkan bagaiamana
kita memberi keadilan. Sebab dengan memberi keadilan, kita seperti sedang
memberi pengharapan bahwa pada hari ini atau hari esok mereka memiliki
kehidupan dan masa depan yang lebih baik dari sekarang.
2. Mencintai
kesetiaan. Bagaimana jika pasangan hidup kita selingkuh ? Bukan hanya sekedar
jengkel atau marah. Bisa jadi, kita akan menjadi sangat kecewa dan sakit hati
bahkan kemudian kita menaruh dendam. Keluarga akan menjadi kacau balau bahkan
bubaran. Dari beberapa kasus yang ada,
bahkan bisa sampai membunuh atau bunuh diri. Mengapa hal-hal seperti itu bisa terjadi di dalam perjalanan hidup
kita ? Karena ada di antara kita yang hidupnya tidak setia kepada pasangannya.
Ketika kesetiaan itu tidak lagi menjadi yang penting bahkan hilang di dalam
kehidupan suami-isteri, atau keluarga, atau komunitas di mana kita harus
berelasi dengan sesama, maka dengan sendirinya kebahagiaan itu pun akan hilang
dan sirna. Bagi nabi Mikha, kebahagiaan adalah ketika kita setia dan bersikap
atau berperilaku setia kepada siapa kita seharusnya setia.
3. Terkait dengan hal
ke satu dan kedua, maka nabi Mikha menambahkan tentang apa itu kebahagiaan,
yaitu hidup dengan rendah hati. Secara sederhana, rendah hati adalah
bagaimana kita menjadi orang lain itu
sebagai yang utama dan penting di dalam kehidupan kita. Sehingga kita tidak
hanya memikirkan diri kita sendiri, melainkan bagaimana kia memikirkan orang
lain. Sehingga apa yang menjadi kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita. Jika
kita sebagai suami ingin berbahagia, maka kita harus berusaha membuat pasangan
kita berbahagia. Jika kita ingin sebagai orang-tua atau anak-anak berbahagia,
maka kita harus berusaha membuat anak-anak atau orang-tua kita berbahagia.
Sebab, bahagianya mereka adalah bahagianya kita.
Dan kalau kita hubungkan dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus kepada
jemaat di Korintus, dalam 1 Korintus 1: 29 “supaya
jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” maka
kebahagiaan adalah ketika kita menyadari siapa diri kita sesungguhnya di
hadapan Allah dan sesama, dan tahu bagaimana kita menempatkan diri kita
untuk melakukan sesuatu yang semestinya. Karena kecenderungan
manusia adalah bagaimana ia bisa membanggakan dan menyombongkan dirinya dengan
pencapaian-pencapaian dan kepemilikannya sebagai hasil usaha, kerja keras dan
perjuangannya sendiri.
Sebab, kalau kita mau bersikap jujur dan
rendah hati, maka semua apa yang kita capai dan miliki adalah karena anugerah
Allah yang di dalamnya Allah pun membiarkan orang-orang lain di sekitar kita
berperan dan ikut ambil bagian di dalam pencapaian dan kepemilikan kita. Jika
gereja ini bisa sampai seperti ini, besar, megah dan bersih, itu bukan
semata-mata hasil kerja keras pendetanya, atau Majelis Jemaatnya, atau para
aktivisnya, tetapi juga para karyawan yang bekerja di gereja ini. Jadi, jangan
terlalu cepat berbangga diri dan menyombongkan diri.
Sedangkan, kalau kita memperhatikan apa yang
diajarkan oleh Yesus dalam khotbah di bukit, maka kita pun bisa menangkap
pengertian kebahagiaan menurut Yesus. Misalnya,
1. Kalau kita memperhatikan Matius 5:8 yang mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya,
karena mereka akan melihat Allah.”
Bagi orang Yahudi, hati adalah sesuatu yang sangat penting. Karena hati
dipahami sebagai pusat kehidupan. Sederhananya, kalau kita kaitkan dengan
kebahagiaan adalah kalau hati kita bersih, maka -kalau semuanya terconnect dengan baik ya- pikiran kita pun akan
jernih, sehingga kita hanya memikirkan hal-hal yang baik saja, yang kemudian
akan memotivasi atau mendorong kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang
baik. Hati bersih, pikiran jernih, perbuatan baik. Dan, sebaliknya.
2.
Menjaga diri tetap baik dan benar sekaligus memberi
kebaikan dan menyatakan kebenaran. Artinya, untuk menjadi orang-orang yang
berbahagia itu tidak cukup kalau hanya menjadi orang baik dan orang benar saja,
atau seperti kata orang “yang penting saya tidak melakukan yang jahat dan tidak
bertindak buruk”. Tidak cukup. Sebab, kehidupan yang seperti itu tidak
berdampak. Cenderung egoisme. Bagi Yesus, kebahagiaan adalah ketika kita tetap baik dan benar di
tengah-tengah ketidak-baikan dan ketidak-benaran yang ada di sekitar kita,
sambil kita sendiri tetap melakukan hal yang baik dan menyatakan kebenaran,
sehingga kebaikan dan kebenaran itu berdampak dan dirasakan atau dialami oleh
orang-orang di sekitar kita sebagai hal yang dibutuhkan di dalam kehidupan
bersama. Disitulah kita akan melihat Allah. Dan …
3.
Kalau kita memperhatikan Matius 5;12 yang mengatakan, “Bersukacita dan bergembiralah, karena
upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang
sebelum kamu.” maka kita diajak untuk memahami bahwa kebahagiaan itu bukan
bagimana kita “mencapai” dan atau “memiliki” sehingga kita menjadi orang-orang
yang begitu terikat dan mengandalkan bahkan menjaminkan hidup kita kepadanya,
melainkan kita diajak untuk membebaskan dan memerdekakan diri dan
tidak terikat dengan apa yang ada di dalam dunia ini bahkan tidak terikat
dengan diri kita sendiri. Uang dan kekuasaan memang penting. Ia bisa
membebaskan kita dari hukuman di dunia -selama
masih ada pejabat yang disuap dan korupsi-, tetapi ia tidak akan bisa
membebaskan diri hukuman dosa dan tidak bisa membeli kasih Allah.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kembali ke pertanyaan kita: Apakah anda
bahagia ? Apa yang membuat anda bahagia
?
Berbahagia adalah ketika mau bersikap jujur
terhadap diri anda sendiri: Sungguhkah saya bahagia dengan pasangan saya,
dengan anak-anak saya dan atau dengan orang-tua saya, atau di dalam komunitas
di mana saya ada di dalamnya ?
Kiranya Allah menolong kita menjadi
orang-orang yang berbahagia. Selamat berbahagia. TUHAN memberkati.
Khotbah Minggu, 29.01.2017
Pdt. J.O Liline - GKI Sunter Mas
No comments:
Post a Comment