PANCARKAN TERANGMU
Setiap orang atau
kelompok tentu memiliki identitas. Apalagi disaat menjelang Pilkada Gubernur
seperti sekarang ini, identitas semakin ditonjolkan. Setiap pasangan calon
memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Demikian juga para murid Yesus, mereka
juga memiliki identitas. Pada bacaan Injil minggu ini Tuhan Yesus menegaskan
identitas mereka sebagai para murid yang adalah garam dan terang dunia. Tidak
lama setelah Tuhan Yesus memilih mereka.
Garam memiliki
fungsi memberi rasa. Sebagai orang Kristen kita selayaknya memberi rasa di
lingkungan kita sebagai pembawa damai, pembawa sukacita, bukan perpecahan atau
permusuhan. Kehadiran kita dinantikan dan dirindukan oleh orang-orang di
sekeliling kita. Garam juga dihubungkan dengan kemurnian. Sebagai orang Kristen
kita harus mempertahankan kemurnian kita di tengah turunnya norma-norma dalam
masyarakat saat ini. Berani menegur apa yang salah dan tidak ikut kebiasaan
yang melanggar norma yang ada. Dalam artian tetap memiliki komitmen yang kuat
terhadap standar norma yang ada. Garam juga memiliki fungsi sebagai bahan
pengawet. Sebagai bahan pengawet garam memiliki fungsi antiseptik untuk
mematikan bakteri pembusuk. Sebagai murid Kristus kita dapat menjadi antiseptik
untuk mematikan kejahatan yang hadir di hadapan kita.
Tuhan Yesus juga
mengatakan kamu adalah terang dunia. Pada jaman Yesus belum ada lampu listrik.
Alat penerangan hanya menggunakan pelita untuk menerangi seluruh rumah. Sebagai
terang, setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi berkat dimanapun kita
berada. Namun apabila pelita itu ditaruh dalam ember maka terang itu
terperangkap. Terang hanya ada di dalam ember, di luar ember tetap gelap.
Pelita harus diletakkan di tempat yang tinggi supaya dapat menerangi seluruh
ruangan. Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat tidak hanya dalam lingkup
kecil keberadaan kita. Tidak hanya kepada orang satu rumah saja, tidak hanya di
gereja saja, tidak hanya kepada orang yang sama-sama Kristen saja, tetapi
kepada semua orang bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Terang itu
juga membimbing orang supaya dapat melihat dengan jelas seperti mercusuar di
pinggir pantai yang membantu kapal untuk berlabuh. Kita diharapkan dapat
menjadi pembimbing bagi mereka yang tersesat atau memiliki pergumulan hidup
yang berat.
Jadi beriman kepada
Tuhan Yesus Kristus tidak hanya berbicara tentang hubungan “aku dan Tuhan”
saja, melainan “aku, Tuhan dan sesama.” Iman tidak hanya berbicara soal ritus
keagamaan saja, tetapi juga soal sikap hidup kita dengan sesama manusia. Tuhan
tidak menginginkan jika kita hanya terlihat baik dalam ritus tapi terlihat
buruk dalam sikap hidup dengan sesama. Oleh sebab itu dalam bacaan Yesaya
58:6-7 Tuhan menegur bangsa Israel yang terjebak dalam ritus keagamaan tapi
gagal
menunjukkan
perilaku yang baik kepada sesama. Tuhan menginginkan iman berbuah dalam
tindakan yang nyata dalam sikap hidup sehari-hari dengan sesama manusia. Pada
saat itu terang kita akan bersinar, merekah seperti fajar.
Marilah kita
nyatakan terang hidup kita dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari.
Pancarkan sinarmu! Biar semua orang disekitar kita merasakan terang itu, mereka
senang dengan keberadaan kita, terbantu dengan bantuan kita.
(disarikan
dari kotbah Pnt. Adi Netto Kristanto , Minggu 5 Peb ’17, oleh ank)
No comments:
Post a Comment