Friday, February 10, 2017

Ringkasan Khotbah 05 Feb 2017

PANCARKAN TERANGMU
Setiap orang atau kelompok tentu memiliki identitas. Apalagi disaat menjelang Pilkada Gubernur seperti sekarang ini, identitas semakin ditonjolkan. Setiap pasangan calon memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Demikian juga para murid Yesus, mereka juga memiliki identitas. Pada bacaan Injil minggu ini Tuhan Yesus menegaskan identitas mereka sebagai para murid yang adalah garam dan terang dunia. Tidak lama setelah Tuhan Yesus memilih mereka.
Garam memiliki fungsi memberi rasa. Sebagai orang Kristen kita selayaknya memberi rasa di lingkungan kita sebagai pembawa damai, pembawa sukacita, bukan perpecahan atau permusuhan. Kehadiran kita dinantikan dan dirindukan oleh orang-orang di sekeliling kita. Garam juga dihubungkan dengan kemurnian. Sebagai orang Kristen kita harus mempertahankan kemurnian kita di tengah turunnya norma-norma dalam masyarakat saat ini. Berani menegur apa yang salah dan tidak ikut kebiasaan yang melanggar norma yang ada. Dalam artian tetap memiliki komitmen yang kuat terhadap standar norma yang ada. Garam juga memiliki fungsi sebagai bahan pengawet. Sebagai bahan pengawet garam memiliki fungsi antiseptik untuk mematikan bakteri pembusuk. Sebagai murid Kristus kita dapat menjadi antiseptik untuk mematikan kejahatan yang hadir di hadapan kita.
Tuhan Yesus juga mengatakan kamu adalah terang dunia. Pada jaman Yesus belum ada lampu listrik. Alat penerangan hanya menggunakan pelita untuk menerangi seluruh rumah. Sebagai terang, setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi berkat dimanapun kita berada. Namun apabila pelita itu ditaruh dalam ember maka terang itu terperangkap. Terang hanya ada di dalam ember, di luar ember tetap gelap. Pelita harus diletakkan di tempat yang tinggi supaya dapat menerangi seluruh ruangan. Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat tidak hanya dalam lingkup kecil keberadaan kita. Tidak hanya kepada orang satu rumah saja, tidak hanya di gereja saja, tidak hanya kepada orang yang sama-sama Kristen saja, tetapi kepada semua orang bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Terang itu juga membimbing orang supaya dapat melihat dengan jelas seperti mercusuar di pinggir pantai yang membantu kapal untuk berlabuh. Kita diharapkan dapat menjadi pembimbing bagi mereka yang tersesat atau memiliki pergumulan hidup yang berat.
Jadi beriman kepada Tuhan Yesus Kristus tidak hanya berbicara tentang hubungan “aku dan Tuhan” saja, melainan “aku, Tuhan dan sesama.” Iman tidak hanya berbicara soal ritus keagamaan saja, tetapi juga soal sikap hidup kita dengan sesama manusia. Tuhan tidak menginginkan jika kita hanya terlihat baik dalam ritus tapi terlihat buruk dalam sikap hidup dengan sesama. Oleh sebab itu dalam bacaan Yesaya 58:6-7 Tuhan menegur bangsa Israel yang terjebak dalam ritus keagamaan tapi gagal
menunjukkan perilaku yang baik kepada sesama. Tuhan menginginkan iman berbuah dalam tindakan yang nyata dalam sikap hidup sehari-hari dengan sesama manusia. Pada saat itu terang kita akan bersinar, merekah seperti fajar.
Marilah kita nyatakan terang hidup kita dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Pancarkan sinarmu! Biar semua orang disekitar kita merasakan terang itu, mereka senang dengan keberadaan kita, terbantu dengan bantuan kita.


(disarikan dari kotbah Pnt. Adi Netto Kristanto , Minggu 5 Peb ’17, oleh ank)

No comments:

Followers

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda


Kami Kerjalayan Kesehatan Anda

Kami Kerjalayan Kesehatan Anda